Suara Denpasar - Istilah Bali Belly kerap digunakan oleh wisatawan asing untuk menggambarkan keracunan makanan di Bali. Bali Belly berasal dari bahasa inggris yang artinya adalah Perut Bali.
Namun saat ini istilah ini juga sudah dipakai oleh wisatawan lokal ketika mengalami gejala seperti diare atau muntah-muntah usai makanan makanan di Bali.
Baru-baru ini istilah Bali Belly kembali mencuat setelah artis tanah air Verrell Bramasta mengaku terkena Bali Belly.
Verrell Bramasta harus dirawat di Rumah Sakit, diduga mengalami Bali Belly saat liburan di Bali beberapa waktu lalu.
Istilah Bali Belly pun akhirnya membuat banyak masyarakat penasaran dengan apa itu Bali Belly dan apa penyebabnya.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, I Nyoman Gede Anom mengatakan Bali Belly itu hanya nama atau istilah yang diungkapkan oleh wisatawan dimana wisatawan tersebut mengalami gangguan pencernaan.
Nyoman Gede Anom menjelaskan bahwa ciri-ciri Bali Belly berupa mual, muntah, nyeri perut sampai diare.
Terkait banyaknya informasi yang beredar bahwa Bali Belly disebabkan karena keracunan makanan, Anom menegaskan bahwa sangat kecil Bali Belly disebabkan oleh makanan, melainkan lebih kepada gangguan pencernaan orang yang mengalaminya.
"Bisa karena bakteri atau virus, atau bisa juga karena tidak cocok dengan makanan di Bali. Misalnya bule atau wisatawan lokal yang makan ayam betutu, mereka tidak tahan dengan bumbu Bali sehingga mengalami gangguan pencernaan," jelas Anom saat dihubungi denpasar.suara.com, pada Senin, (6/2/2023) sore.
Baca Juga: Truk Bertonase Berat Masuk Flyover Mall SKA Pekanbaru, Kecelakaan dengan Motor
Untuk itu, Anom menyarankan agar ketika berkunjung ke Bali, sebisa mungkin menghindari makanan yang tidak sesuai dengan kondisi lambung atau perut.
Selain itu, kata dia, agar sebisa mungkin untuk menghindari makanan yang sudah tidak layak konsumsi.
"Jangan mencoba-coba makanan yang tidak sesuai dengan kondisi lambung atau perut, hindari makanan yg mengandung bakteri atau virus yaitu makanan basi, makanan yang dikerumuni lalat atau warung makan yang tidak higienis," ucapnya.
Lebih lanjut, Anom mengatakan agar setiap wisatawan selalu menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, "misal mencuci tangan sebelum makan atau setelah menyentuh sesuatu yang kotor," kata dia.(Askara/*)
Berita Terkait
Terpopuler
- Terpopuler: Waktu yang Ideal untuk Ganti HP, Rekomendasi HP untuk Jangka Panjang
- Bacaan Niat Puasa Ramadan Sebulan Penuh, Kapan Waktu yang Tepat untuk Membacanya?
- Tak Hanya di Jateng, DIY Berlakukan Pajak Opsen 66 Persen, Pajak Kendaraan Tak Naik
- LIVE STREAMING: Sidang Isbat Penentuan 1 Ramadan 2026
- Pemerintah Puasa Tanggal Berapa? Cek Link Live Streaming Hasil Sidang Isbat 1 Ramadan 2026
Pilihan
-
Jadwal Imsak Jakarta Hari Ini 20 Februari 2026, Lengkap Waktu Subuh dan Magrib
-
Tok! Eks Kapolres Bima AKBP Didik Resmi Dipecat Buntut Kasus Narkoba
-
Bisnis Dihimpit Opsen, Pengusaha Rental Mobil Tuntut Transparansi Pajak
-
Pesawat Pengangkut BBM Jatuh di Krayan Timur, Pencarian Masuk ke Hutan Belantara
-
Resmi Dibuka! Jadwal Penukaran Uang Baru 2026 Periode Kedua di PINTAR BI Go Id
Terkini
-
Pasang Badan untuk Jennifer Coppen, Justin Hubner Tak Gubris Isu Masa Lalu
-
Berburu Takjil di Al Amjad Tigaraksa, Surga Kuliner Buka Puasa Paling Hits di Tangerang
-
Nissan Gravite Meluncur, Mending Mana Dibanding Sigra?
-
Bandingkan Harga Baru vs Bekas Nissan Magnite, Selisih Jauh Bikin Brio RS CVT Kalah Murah
-
PTBA Buktikan Komitmen Transparansi, Boyong Anugerah Keterbukaan Informasi
-
Mungkinkah Mewujudkan Ramadan Tanpa Plastik?
-
Masih Jadi Buruan Warga! Bubur Samin Legendaris khas Banjar kini Jadi Warisan Budaya Tak Benda
-
Perkuat Ekosistem Riset, LPDP dan Muhammadiyah Kucurkan Rp20 Miliar untuk Hilirisasi Industri
-
Jadwal Imsakiyah Jogja 20 Februari 2026, dan Panduan Lengkap Niat Puasa Ramadan Anda!
-
Waktunya Sahur! Cek Jadwal Imsakiyah Surakarta 20 Februari 2026, Lengkap Niat Puasa Ramadan!