/
Sabtu, 15 April 2023 | 10:09 WIB
Akal dan Nafsu Mesti Seimbang meski Sudah Menikah, Begini Penjelasan Habib Jafar! (instagram/@husein_hadar)

Suara Denpasar Pernikahan dibutuhkan bagi setiap orang baik laki-laki maupun perempuan. Adanya pernikahan inilah, sehingga mencegah perbuatan seseorang dari perilaku-perilaku yang tidak bermoral seperti pemerkosaan yang menyebabkan terjadinya hamil di luar nikah hingga pembunuhan.

Di dalam islam sendiri, menurut Habib Jafar sudah diatur sedemikian rupa tentang menjalani pernikahan yang ma’ruf (baik). Mengutip sebuah ayat dari Alquran yang artinya, “Jalinlah hubungan dengan pasanganmu dengan ma’ruf,” dikutip Suara Denpasar, Sabtu (15/04/2023) dari kanal YouTube Deddy Corbuzier.

Secara detail Habib Jafar menjelaskan, bahwa ma’ruf itu tidak sekedar baik dan benar saja. Tetapi juga populer. “yang secara tradisi itu positif.”

Jadi walaupun seseorang telah menikah atau dengan kata lain hubungan yang sudah sah (halal), bukan berarti bebas memperlakukan pasangan secara serampangan di dalam berhubungan.

Sehingga Habib Jafar menjelaskan makna sebuah hubungan itu dibutuhkan sikap yang baik (tayyib).

“Loe harus baik-baik berhubungan dengan pasanganmu. Tanpa kekerasan, tanpa paksaan, kalau dia gak mood, bisa dengan cara dirayu.” Terang Habib Jafar.

Sehingga dalam islam, nafsu pun telah diatur agar bisa dikendalikan dengan akal yang sehat. Di mana nafsu sangat dibutuhkan manusia sebab itu juga merupakan karunia dari Tuhan. Jadi, nafsu yang dimiliki oleh seseorang perlu pengendalian dengan cara yang benar.

Maka, nafsu yang buruk bisa menjadi baik. Seperti adanya perasaan dendam atau benci kepada orang lain justru berubah jadi semangat dan motivasi untuk bisa lebih baik lagi, begitu Habib Jafar menerangkan.

Lebih lanjut, Habib Jafar berkata tentang akal, “akal itu bagian dari hati.”

Baca Juga: Kesaksian Habib Jafar Tentang Alm. Lord Rangga: Ia Ngajak Saya Bicara Tarekat dalam Islam

Artinya jika akal tidak menggunakan hati atau tidak pakai moral secara psikologis, maka akal akan membodohi. Menjadikan kepintarannya untuk membodohi orang lain. Sebaliknya jika seseorang bodoh lalu tanpa hati maka akan lebih buruk lagi. Dimana dengan kebodohannya, seseorang cenderung merasa lebih tahu atau lebih pintar dari yang lain.

Mengutip perkataan Imam Malik, Habib Jafar berkata, “berkata tidak tahu, itu adalah ilmu setelah  Alquran dan Sunnah.”

“Karena loe bilang gak tahu, berarti loe tahu diri loe gak tahu kata Imam Ghazali,” ucap Habib Jafar, dikutip Suara Denpasar, Sabtu (15/04/2023). (*/Dinda)

Load More