Suara Denpasar – Pernikahan dibutuhkan bagi setiap orang baik laki-laki maupun perempuan. Adanya pernikahan inilah, sehingga mencegah perbuatan seseorang dari perilaku-perilaku yang tidak bermoral seperti pemerkosaan yang menyebabkan terjadinya hamil di luar nikah hingga pembunuhan.
Di dalam islam sendiri, menurut Habib Jafar sudah diatur sedemikian rupa tentang menjalani pernikahan yang ma’ruf (baik). Mengutip sebuah ayat dari Alquran yang artinya, “Jalinlah hubungan dengan pasanganmu dengan ma’ruf,” dikutip Suara Denpasar, Sabtu (15/04/2023) dari kanal YouTube Deddy Corbuzier.
Secara detail Habib Jafar menjelaskan, bahwa ma’ruf itu tidak sekedar baik dan benar saja. Tetapi juga populer. “yang secara tradisi itu positif.”
Jadi walaupun seseorang telah menikah atau dengan kata lain hubungan yang sudah sah (halal), bukan berarti bebas memperlakukan pasangan secara serampangan di dalam berhubungan.
Sehingga Habib Jafar menjelaskan makna sebuah hubungan itu dibutuhkan sikap yang baik (tayyib).
“Loe harus baik-baik berhubungan dengan pasanganmu. Tanpa kekerasan, tanpa paksaan, kalau dia gak mood, bisa dengan cara dirayu.” Terang Habib Jafar.
Sehingga dalam islam, nafsu pun telah diatur agar bisa dikendalikan dengan akal yang sehat. Di mana nafsu sangat dibutuhkan manusia sebab itu juga merupakan karunia dari Tuhan. Jadi, nafsu yang dimiliki oleh seseorang perlu pengendalian dengan cara yang benar.
Maka, nafsu yang buruk bisa menjadi baik. Seperti adanya perasaan dendam atau benci kepada orang lain justru berubah jadi semangat dan motivasi untuk bisa lebih baik lagi, begitu Habib Jafar menerangkan.
Lebih lanjut, Habib Jafar berkata tentang akal, “akal itu bagian dari hati.”
Baca Juga: Kesaksian Habib Jafar Tentang Alm. Lord Rangga: Ia Ngajak Saya Bicara Tarekat dalam Islam
Artinya jika akal tidak menggunakan hati atau tidak pakai moral secara psikologis, maka akal akan membodohi. Menjadikan kepintarannya untuk membodohi orang lain. Sebaliknya jika seseorang bodoh lalu tanpa hati maka akan lebih buruk lagi. Dimana dengan kebodohannya, seseorang cenderung merasa lebih tahu atau lebih pintar dari yang lain.
Mengutip perkataan Imam Malik, Habib Jafar berkata, “berkata tidak tahu, itu adalah ilmu setelah Alquran dan Sunnah.”
“Karena loe bilang gak tahu, berarti loe tahu diri loe gak tahu kata Imam Ghazali,” ucap Habib Jafar, dikutip Suara Denpasar, Sabtu (15/04/2023). (*/Dinda)
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- 61 Kode Redeem FF Max Terbaru 20 Maret 2026: Raih THR Idul Fitri, AK47 Lava, dan Joker
- 9 HP Gaming Terjangkau Rekomendasi David GadgetIn Buat Lebaran 2026, Performa Kencang!
- Apa Jawaban Minal Aidin Wal Faizin? Simak Arti dan Cara Membalasnya
- Ibu-Ibu Baku Hantam di Tengah Khotbah Idulfitri, Diduga Dipicu Masa Lalu
Pilihan
-
Ironi Hari Air Sedunia: Ketika Air yang Melimpah Justru Menjadi Kemewahan
-
Rudal Iran Hantam Dekat Fasilitas Nuklir Israel, 100 Orang Jadi Korban
-
Skandal Dean James Melebar! Pakar Hukum Belanda Sebut Status WNI Jadi Masalah Utama
-
Serangan AS-Israel di Malam Takbiran Tewaskan Jubir Garda Revolusi Iran
-
Mencekam! Jirayut Terjebak Baku Tembak di Thailand
Terkini
-
Ukuran Monster di Troll 2 Tambah Gede, tapi Ceritanya Kok Jadi Jinak?
-
Kata-kata Marc Klok Usai Tak Tembus Skuad Final Timnas Indonesia untuk FIFA Series 2026
-
Elkan Baggott Tiba di Jakarta Jelang Bela Timnas Indonesia
-
Manchester City Juara Carabao Cup Usai Tumbangkan Arsenal 2-0
-
Heboh Pengunjung Tewas Jatuh dari Lantai 4 Plaza Medan Fair, Diduga Bunuh Diri
-
'Maaf, Nggak Open House', Benarkah Gen Z Kini Pilih Privasi Saat Lebaran?
-
THR Tak Lagi Pakai Amplop, Transfer Digital Kini Geser Tradisi Lebaran?
-
Rekor 29 Kali One Way di Jalur Bandung-Garut! Strategi Polisi Urai Macet Mudik 2026
-
Kumpul Keluarga Inti Kini Jadi Pilihan, Tradisi Lebaran Ramai-Ramai Mulai Ditinggalkan?
-
Lelah Arus Mudik? Ini 5 Destinasi Alam di Bogor untuk Self-Healing Bareng Keluarga