Cerita Ambisius, Tapi Banyak Celah
Secara konsep, cerita tentang penipu yang memanipulasi sistem sosial memang menarik.
Sarah Kim yang manipulatif digambarkan memanfaatkan banyak orang untuk membangun posisinya.
Dia menipu rentenir yang sakit, memeras pria lain, hingga bekerja sama dengan desainer untuk menjual tas tiruan dengan harga fantastis.
Namun memasuki pertengahan episode, alur mulai terasa berulang dan membingungkan.
Beberapa adegan seperti diputar ulang dengan sudut pandang berbeda, tetapi tanpa tambahan informasi yang benar-benar memperjelas.
Alih-alih memperdalam misteri, teknik ini justru membuat cerita kehilangan ritme.
Identitas asli Sarah Kim pun tetap samar hingga akhir. Tidak ada kejelasan tentang latar belakang resminya, bahkan polisi kesulitan menemukan data tentang dirinya.
Misteri memang penting dalam thriller, tetapi ketika terlalu banyak pertanyaan dibiarkan menggantung, kepuasan menonton ikut berkurang.
Baca Juga: Lee Jung Ha Absen, Ini Wajah Baru yang Siap Gabung di Moving 2
Selain itu, latar waktu yang terasa modern membuat beberapa bagian kurang masuk akal.
Dengan akses internet dan sistem keuangan yang canggih, sulit dipercaya bisnis tas tiruan bernilai miliaran won bisa berjalan tanpa pengawasan serius dalam waktu lama.
Kritik Sosial dan Visual yang Memikat
Di balik kekacauan alur, The Art of Sarah sebenarnya menyimpan kritik sosial yang cukup tajam.
Cerita menyoroti bagaimana masyarakat kelas atas mudah terpesona oleh kemewahan dan status.
Selama sesuatu terlihat mahal dan eksklusif, banyak orang tidak mempertanyakan kebenarannya.
Sinematografi menjadi nilai plus lainnya. Dunia elite yang ditampilkan terasa glamor dan elegan.
Pesta, butik mewah, hingga detail tas dan busana dirancang dengan apik. Visual yang kuat ini membantu mempertegas tema tentang ilusi dan citra diri.
Ada upaya jelas dari penulis untuk menggambarkan Sarah Kim bukan sekadar penjahat, melainkan produk dari sistem sosial yang menilai manusia berdasarkan kekayaan dan penampilan.
Lapisan ini membuat karakternya lebih kompleks dan tidak sepenuhnya hitam putih.
Open Ending yang Terasa Janggal
Bagian akhir menjadi momen paling kontroversial dari drama berjumlah 8 episode ini.
Setelah perencanaan pembunuhan yang digambarkan sangat rapi dan penuh perhitungan, vonis yang dijatuhkan pada Sarah Kim terasa ringan.
Hukuman sepuluh tahun penjara untuk kejahatan sebesar itu memunculkan rasa janggal.
Akhir cerita pun dibiarkan terbuka, seolah memberi ruang untuk kelanjutan. Namun tanpa konfirmasi musim berikutnya, banyak pertanyaan besar tetap tidak terjawab.
Identitas asli Sarah Kim, detail masa lalunya, hingga konsekuensi penuh dari tindakannya masih menyisakan tanda tanya.
Secara keseluruhan, The Art of Sarah adalah drama dengan potensi besar. Masih kurang pantas diklaim masterpiece, tapi sangat layak disaksikan.
Akting Shin Hye Sun bisa disebut sebagai penampilan kelas atas yang menjadi alasan utama untuk menonton.
Sayangnya, kualitas akting tersebut tidak sepenuhnya mampu menutupi plot hole dan alur yang terlalu rumit.
Bagi penonton yang menyukai thriller psikologis dengan nuansa glamor dan kritik sosial, serial ini tetap menarik untuk dicoba.
Namun bagi yang mengharapkan cerita rapi dengan jawaban jelas di akhir, kemungkinan akan muncul rasa tidak puas setelah kredit terakhir bergulir.
Kontributor : Chusnul Chotimah
Berita Terkait
-
Penjelasan Ending The Art of Sarah, Siapa Sebenarnya Sarah Kim?
-
3 Drakor Terbaru Shin Hae Sun, The Art of Sarah Tayang di Netflix
-
Sinopsis dan Fakta Menarik Climax, Drakor Comeback Ha Ji Won Setelah 4 Tahun Bareng Ju Ji Hoon
-
No Tail To Tell Absen Tayang Pekan Ini, Ini Alasannya
-
Survey: Film Indonesia Saingi Popularitas Drama Korea
Terpopuler
- Link Download Logo dan Tema HUT Bhayangkara ke-80 2026 untuk Ulang Tahun Polri
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Diskon sampai 50 Persen di Sport Station, Mulai Rp500 Ribuan
- Sunscreen Apa yang Bikin Glowing? Ini 7 Pilihan Terbaik sesuai Review dan Harga
- 6 Sunscreen di Alfamart untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 5 Sepeda Gunung MTB Polygon Termurah, Tangguh dan Awet Untuk Harian
Pilihan
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
-
Prabowo: Hukum Tak Boleh Dipakai untuk Balas Dendam Politik
Terkini
-
Serahkan Uang ke Polisi, Awkarin Tegaskan Ada di Pihak Korban Hanania Travel
-
Saemen Fest 2026: Festival Musik Lintas Genre Siap Guncang Jogja pada 19 Juli 2026
-
Venom: Let There Be Carnage,saat Tom Hardy Bertemu Lawan Seimbang
-
Berawal dari Keterbatasan, Wiraswasta Asal Situbondo Ini Sukses Jadi Bintang eFootball Nasional
-
Guns N' Roses Kembali ke Jakarta! Ini Jadwal dan Daftar Harga Tiket Konser Termegah 2026
-
Mufli Ananda Umur Berapa? Asisten Raffi Ahmad yang Disorot usai Jadi Komisaris
-
Bangkit dari Persahabatan SMA, This is EQUAL Resmi Debut Lewat EP Kirei
-
Bebizie Pamer Jabatan Baru, Tapi Visi-Misinya Cuma Sebatas Makeup dan Hairdo!
-
Venom: Ketika Tom Hardy Berbagi Tubuh dengan Parasit Luar Angkasa, Malam Ini di Trans TV
-
Kisah Anas Fikry dan Risky Adelia Membangun Konten Berbasis Kejujuran dan Aksi Sosial