Entertainment / Music
Selasa, 17 Februari 2026 | 21:00 WIB
Foto Nirvana (voi.id)
Baca 10 detik
  • Muncul kembali desakan untuk membuka kasus kematian Kurt Cobain menyusul adanya dugaan pembunuhan berdasarkan analisis forensik independen terbaru.
  • Kurt Cobain dan Nirvana merupakan pilar utama grunge yang mengubah tren musik, budaya, hingga gaya busana Generasi X menjadi lebih jujur dan sederhana.
  • Meski kejayaan grunge meredup setelah kematian Kurt, pengaruh suaranya tetap hidup sebagai DNA musik bagi banyak musisi modern saat ini.

Suara.com - Teori antitesis penyebab kematian tragis Kurt Cobain, pentolan unit grunge asal Seattle, kembali mengemuka belakangan ini.

Autopsi ulang dari sekelompok ilmuan forensik independen menyimpulkan adanya kemungkinan keterlibatan pihak lain dalam kematian Kurt. Singkat kata, ada hipotesis kalau Kurt meninggal bukan bunuh diri, tapi dibunuh.

Para ilmuan tersebut menyebut bahwa penyerang kemungkinan memasukkan heroin ke tubuh Kurt dalam dosis tinggi sebelum menembak kepalanya, mirip skenario film-flm thriller.

Hasil temuan, yang sebenarnya bukan barang baru ini kemudian didengungkan, mendesak otoritas setempat membuka kembali kasus kematian Kurt Cobain pada 30 tahun silam.

Agak jauh menengok ke belakang, hidup dan matinya Kurt Cobain secara kental memengaruhi segala lini seperti budaya dan estetika. Nirvana, band yang dibidani Kurt jadi tonggak kejayaan musik grunge di awal 90-an.

Meski sebelumnya, musik grunge lebih dulu digaungkan band-band seperti Green River, Soundgarden, dan Melvins. Mereka melahirkan suara 'kotor' dan berat, berbeda dari warna musik yang digemari ketika itu.

Musik grunge atau seattle sound merupakan peleburan energi punk rock, heavy metal yang berat, dan kebebasan indie rock.

Ciri khas paling mudah ditebak adalah riff gitar tebal dipadu lirik kasar mengangkat tema keresahan. Kaum muda alias generasi X waktu itu merasa terwakili oleh idola baru mereka.

Standar di dunia fashion pun bergeser. Jika sebelumnya di era rock penuh kemewahan, kini pakaian seperti jeans belel, kemeja flanel, dan sepau bot jadi tren.

Baca Juga: Bukan Bunuh Diri? Temuan Baru Forensik Sebut Kurt Cobain Dibunuh dan Lokasi Kejadian Direkayasa

Alih-alih memoles penampilan, anak muda ketika itu memilih kenyamanan, kejujuran, dan apa adanya, sejalan dengan 'ideologi' yang ditawarkan grunge.

Smells Like Teen Spirit, singel andalan di album Nirvana bertajuk Nevermind, jadi lagu kebangsaan anak-anak muda di zamannya. Syair di dalam lagu dinilai sangat mewakili keresahan mereka, penuh dengan emosi dan kejujuran.

Tapi, pergeseran budaya pop ini tak berlangsung lama. Kematian tragis Kurt mengubah segalanya dan jadi pukulan telak bagi musik grunge.

Grunge mulai meredup, tanda berakhirnya era keemasan. Ditambah, warna musik baru, Nu-metal lahir, seperti yang didengungkan, Korn, Limp Bizkit, Slipknot, dan lain-lain.

Kendati tiarap, grunge jadi warisan abadi. Sampai saat ini, tak sedikit band atau penyanyi yang terpengaruh seattle sound, atau kini lebih cocok disebut post-grunge. Sebut saja ada, Foo Fighters, Billie Eilish, Puddle of Mudd, hingga Hoobastank.

Ya, DNA grunge tetap hidup, meski dalam wujud berbeda.

Load More