- Pianis asal Bandung, Alfred Young Sugiri, mendapat sambutan meriah dan standing ovation dari sekitar 2.000 penonton saat tampil di Wina, Austria.
- Keberhasilan Alfred menjadi momentum bagi pemerintah untuk memperkuat ekosistem musik klasik Indonesia, terutama melalui pembangunan gedung konser dengan standar akustik yang memadai.
- Pengembangan musisi muda tak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga membutuhkan dukungan swasta, yayasan, lembaga pendidikan, dan antusiasme masyarakat.
Suara.com - Penampilan pianis berbakat asal Bandung, Alfred Young Sugiri di Austria dan Hongaria serta disambut hangat audiens setempat dapat dijadikan momentum untuk mengubah ekosistem musik, khususnya musik klasik di Tanah Air ke arah lebih baik.
Setidaknya itu yang dikatakan tiga figur penting musik Indonesia seperti pakar etnomusikologi dan kritikus budaya Dr. Franki Raden, maestro konduktor Addie MS, serta pianis dan komponis internasional Ananda Sukarlan.
Franki menilai keberhasilan Alfred di Eropa perlu dicatat dalam sejarah peradaban seni Tanah Air. Pemerintah sedianya, kata kolumnis seni musik dan budaya kawakan ini, tergerak agar membangun ekosistem musik yang kondusif, yang salah satunya memperbanyak gedung atau ruang konser di Indonesia.
"Tidak perlu concert hall yang terlalu besar seperti theater hall. Cukup kapasitas 800 seat yang akustiknya bisa dipertanggungjawabkan untuk orkestra. Sudah saatnya pemerintah membangun ini, misalnya menggunakan dana abadi kebudayaan," katanya di Jakarta, dalam siaran pers yang diterima Suara.com, Rabu (14/10).
Franki tak menampik ruang konser yang mumpuni masih sedikit di Indonesia. Akibatnya, para musisi klasik sulit berkembang dengan maksimal, begitupun dengan pecintanya.
"Jadi pada saatnya nanti, akan semakin banyak musisi-musisi muda, termasuk musisi klasik, yang akan mampu mengikuti langkah Alfred meraih sukses panggung-panggung musik dunia," ujarnya.
Senada dengan Franki, Addie MS juga menilai perkembangan seni dan budaya tergantung pada keseriusan pemerintah ikut aktif membangun ekosistemnya. Ia membandingkan dengan Singapura, meskipun negara kecil tapi memiliki banyak ruang konser berstandar internasional.
"Dari tahun 1995, saya selalu menggaungkan kebutuhan infrastruktur concert hall dari Pemerintah. Indonesia sampai hari ini belum memiliki concert hall yang difasilitasi negara. Untungnya ada pihak swasta seperti Bapak Stephen Tong yang peduli membangunnya," kata Addie.
Menurut Addie MS, peluang pertumbuhan bakat minat generasi mendatang, khususnya di musik klasik bakal terbuka lebar lewat kahadiran ruang konser. Sebelum melangkah ke panggung dunia, mereka kata Addie perlu membuktikan dulu di dalam negeri.
Sementara, Ananda Sukarlan, mengatakan penampilan Alfred di Eropa dan sambutan hangatnya jadi bukti pengakuan internasional kepada musisi Tanah Air. Ikut bangga sudah pasti dirasakan komponis legendaris Indonesia yang tercatat dalam The 2000 Outstanding Musicians of the 20th Century itu.
"Alfred membuat musik itu hidup, bukan seperti musisi klasik yang sekadar 'baca partitur dan dipencet nadanya'. Dia adalah musisi yang berintegritas dan memiliki nilai artistik tinggi yang mampu menginterpretasikan musik dengan gayanya sendiri," ujarnya. .
"Saya selalu mengagumi cara Alfred memainkan musik klasik dengan karakternya yang kuat," katanya menyambung.
Ananda menggarisbawahi perjalanan Alfred sampai ke Eropa bukti nyata kemajuan ekosistem musik tak melulu bergantung pada pemerintah. Kolaborasi swasta melalui Corporate Social Responsibility (CSR), dukungan yayasan, sekolah dan lembaga pendidikan tinggi dapat dijadikan modal utama.
"Antusiasme penonton juga jadi modal utama," katanya.
Sebelumnya di Wina, Austria pada 1 Oktober 2026, Alfred Young Sugiri, berhasil memukau publik musik klasik dan mendapat standing ovation dari sekitar 2000 penonton. Pertunjukannya sendiri digelar di gedung pertunjukan legendaris ORF Radiokulturhaus (Großer Sendesaal).
Alfred tampil sebagai solois utama membawakan karya monumental Mozart Piano Concerto in A Major No. 23, K. 488 selama 30 menit non-stop. Dia beraksi didampingi Hungarian State Symphony Orchestra of Szolnok di bawah konduktor Everett McCorvey dan violinis Maria Solozobova.
Wina merupakan titik kedua Alfred menunjukkan kepiawaiannya di depan publik Eropa. Pada 28 September 2026, ia lebih dulu menggelar konser privat di Hongaria.
Standar presisi musikalitas yang dimiliki membuat Alfred mendapat undangan tampil dalam rangkaian konser orkestra dan chamber music di Eropa pada tahun depan.