Suara.com - Virus corona (COVID-19) merupakan pandemi yang pertama kali dilaporkan muncul di kota Wuhan, Provinsi Hubei, China, pada akhir bulan Desember 2019 dan diantisipasi pada bulan Januari 2020. Virus ini adalah kumpulan virus yang berasal dari kelelawar yang kemudian menularkan penyakit kepada manusia dan dapat menginfeksi sistem pernapasan.
Sejak diketahui virus ini merupakan virus yang penyebarannya sangat cepat dan menginfeksi banyak warga di China, sejumlah lembaga pemerintahan maupun swasta di Indonesia mulai mengadakan sosialisasi serta edukasi kepada masyarakat.
Seperti di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pasar Minggu, Jakarta Selatan, tim dokter memberikan penjelasan kepada masyarakat tentang virus baru ini serta penanganan dini apabila terjangkit.
Penyebaran virus yang begitu cepat membuat pemerintah harus sesegera mungkin menentukan langkah untuk menyelamatkan warga negaranya, khususnya yang berada di Wuhan, China serta mencegah virus tersebut masuk ke Indonesia.
Pemerintah pun memulangkan 248 WNI dari Wuhan ke Indonesia dengan melakukan penjemputan dan dilanjutkan dengan observasi serta karantina selama 14 hari di Natuna, Kepulauan Riau.
Akan tetapi, virus yang masih satu keluarga dengan SARS dan MERS ini seakan tidak tebendung penyebarannya. Di Indonesia sendiri, virus ini mulai diketahui saat Presiden Republik Indonesia Joko Widodo mengumumkan dua WNI asal Depok yang positif terkena virus corona dan tengah menjalani perawatan intensif di ruang isolasi Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Prof. Dr. Sulianti Saroso, Sunter, Jakarta Utara.
Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan pun mengumumkan delapan rumah sakit rujukan untuk menangani kasus virus corona di DKI Jakarta.
Setelah virus corona diketahui sudah masuk ke Indonesia, pemerintah pun mengimbau masyarakat agar waspada sehingga dapat menekan penyebaran virus ini. Imbauan awal dari pemerintah diantaranya memakai masker apabila beraktivitas di luar ruang, selalu mencuci tangan dengan cairan pembersih tangan maupun dengan air mengalir hingga menjaga jarak saat berinteraksi dengan orang lain atau physical distancing.
Sejumlah upaya untuk mencegah penyebaran virus ini pun dilakukan di beberapa titik keramaian, tempat beribadah dan sarana transportasi umum diantaranya melakukan pembersihan serta penyemprotan cairan disinfektan di transportasi umum, melakukan pengecekan suhu tubuh bagi para calon penumpang, pemberlakuan physical distancing hingga pembatasan operasional perjalanan transportasi umum.
Namun, beberapa upaya tersebut seakan kurang efektif untuk membendung penyebaran virus ini. Pemerintah yang dinilai menyepelekan dan lambannya penanganan serta pengambilan keputusan membuat banyak warga di Indonesia terinfeksi virus ini, hingga menyentuh angka 1.414 pasien positif terjangkit, 122 pasien meninggal dunia dan sebanyak 75 pasien sembuh per Senin 30 Maret 2020.
Selain mengakibatkan banyaknya warga yang terjangkit, virus ini juga mempengaruhi banyak sektor di Indonesia, salah satu yang paling terdampak adalah sektor perekonomian.
Banyaknya titik-titik keramaian yang diharuskan ditutup sementara waktu (seperti toko, pusat perbelanjaan, tempat hiburan dan destinasi wisata), mulai diterapkannya aturan bekerja dari rumah atau work from home, aturan untuk tidak berkumpul serta tidak keluar rumah untuk sementara membuat perekonomian di Indonesia menjadi merosot. Alhasil, nilai tukar rupiah melemah terhadap dollar menjadi Rp16.336/USD pada Senin 30 Maret 2020.
Untuk menyikapi hal ini, pemerintah harus segera mengambil langkah yang tegas agar virus ini tidak semakin banyak menginfeksi warga Indonesia serta membuat perekonomian semakin anjlok.
Setidaknya ada dua opsi yaitu karantina kewilayahan atau lockdown dan melakukan tes cepat atau rapid test. Untuk sementara, pemerintah mengambil opsi kedua, yaitu melakukan tes cepat kepada warga yang diduga terinfeksi virus corona.
Selain itu, pemerintah juga telah menyiapkan rumah sakit darurat untuk menangani pasien corona di Wisma Atlet Kemayoran, dan juga mendatangkan logistik kesehatan yang didatangkan dari China.
Berita Terkait
-
Investasi Rp1 Triliun, Jakarta Kembangkan Kawasan Peternakan Sapi Terintegrasi di Banten
-
Pramono Bakal Minta Pakuwon Lepas Pagar di Kota Kasablanka dan Blok M Plaza
-
Jakarta Akhiri Open Dumping, Pengamat Dorong Kota Penyangga Tiru Sistem Pengelolaan Sampah
-
Posko Pengaduan Rakyat, Harapan Baru bagi Warga Bersengketa Tanah di Jakarta
-
61 Ribu Siswa Jakarta Belum Nikmati Sekolah Gratis
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
Dear Pak Prabowo: 22,93 Juta Warga RI Masih Hidup Miskin
-
Samsung Galaxy A27 5G vs Galaxy A25 5G, Apa Saja Bedanya? Ini 4 Alasan Layak Upgrade
-
Pendaftaran Upacara 17 Agustus 2026 di Istana Dibuka Sampai Kapan? Ini Batas Waktunya
-
Pemutihan Pajak Kendaraan 2026 Sampai Kapan? Simak Jadwal Lengkap Tiap Provinsi
-
Putusan MK Buka Peluang Grasi hingga Amnesti Bagi Terdakwa Berbasis Audit BPKP
-
Kementerian P2MI Kenalkan Asta Mandala SMK Go Global, Bidik 500 Ribu Pekerja Migran Terampil
-
Kenapa Gen Z Rela Boros buat Kopi Tapi Menyerah Duluan soal Rumah?
-
Simulasi Cicilan KUR BRI Terbaru Agustus 2026
-
Kata-kata Polisi Malaysia soal Warganya Naik Batik Air Selundupkan Sabu dari KL ke Surabaya
-
Pengangguran Memang Turun, Tapi Cuma 24 Ribu Orang! Masih Ada 7,22 Juta Warga Indonesia Menganggur