Dari bugar, jadi terlihat lemah
Dr Ryan Thamrin meninggal akibat penyakit maag akut, dan tak mau dirawat. Dikabarkan juga terdapat benjolan di kepala bagian belakang lelaki yang mengambil jurusan Kedokteran Anti-Aging (Anti Penuaan Dini) di Fakultas Kedokteran Unpad, Bandung, pada 2011 lalu itu.
Penyebab meninggalnya Ryan telah diungkapkan salah seorang teman almarhum, Bawono Suryo, yang menyempatkan diri melayat ke rumah duka, Jl.Kesadaran Gg.Kesadaran No. 2 Tangkerang, Pekanbaru.
Melalui akun Instagram-nya dia mengaku mendapat informasi dari kakak almarhum bahwa Ryan mengalami sakit maag akut hingga sulit makan. Bawono merasa terkesan dengan pendirian bintang iklan Le Minerale itu yang tak ingin dirawat karena enggan menyusahkan orang lain.
Sebelum menghembuskan napas terakhirnya, lelaki yang pada 4 Agustus mendatang semestinya berulang tahun ke-40 itu sangat berbeda dengan sosok yang kita kenal selama ini.
Foto yang beredar di dunia maya, beberapa waktu lalu, telah membuat publik merasa miris dengan perjuangan sang dokter. Dalam potret tersebut, mendiang terlihat sangat lemah, dengan tubuh kurus kering.
Penyakit yang dideritanya rupanya cukup menguras kekuatan fisik. Hal ini terlihat dari penampilan terakhir Ryan Thamrin yang sama sekali berbeda, dan jauh dari kesan sehat.
Kondisi tersebut sangat kontras dengan penampilan Ryan yang kita kenal sebelumnya. Saat masih sering muncul di televisi, dia dikenal sebagai sosok yang segar bugar.
Mundur dari Dr Oz Indonesia hingga meninggal dunia
Sejak mundur dari dunia TV, Ryan memilih tinggal di rumah sang kakak di Pekanbaru, Riau. Di sana pula dia kemudian menghembuskan napas terakhirnya.
Dokter bernama lengkap Hesta Meiriansyah bin Husni Thamrin itu meninggal dunia di kediaman kakaknya yang berlokasi di Pekanbaru, Riau, sekitar pukul 03.30 WIB.
Sebelum dikuburkan di makam dekat rumah keluarga, jenazah Ryan Thamrin disemayamkan di rumah duka di Jl.Kesadaran Gg.Kesadaran No. 2 Tangkerang, Pekanbaru.
Baca Juga: Mengenal Maag, Penyakit yang Sebabkan Ryan Thamrin Meninggal
Sementara itu, dua hari sebelum meninggal dunia, Ryan Thamrin sempat mengunggah sebuah video pendek yang berisikan pesan postif agar tidak menilai orang karena fisiknya saja.
Dia pun memberi contoh kisah nyata dari seorang gadis Korea yang sering disebut Orangutan, namun dia berubah setelah melakukan operasi plastik di rahangnya. Video tersebut menjadi video terakhir kali yang diunggah Dr Oz Indonesia.
Selamat jalan Ryan Thamrin, semoga kini kau tenang di sisi-Nya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Diskon sampai 50 Persen di Sport Station, Mulai Rp500 Ribuan
- 10 Promo Sepatu Lari di Sports Station: Adidas, Reebok, dan New Balance Mulai Rp299 Ribuan
- 6 Sunscreen di Alfamart untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
Pilihan
-
Hakim Andi Sebut Nadiem Makarim Seharusnya Dibebaskan
-
Selain 10 Tahun Penjara, Nadiem Makarim Wajib Bayar Uang Pengganti Rp809,59 Miliar
-
Nadiem Makarim Divonis 10 Tahun Penjara!
-
Jangan Puji Pemerintah karena Kerja: Mengapa Publik Begitu Mudah Terpesona?
-
Kabar Duka! Legenda Persija Si Macan Betawi Tan Liong Houw Tutup Usia
Terkini
-
Jawab Tantangan Diagnosis Kanker, RS Atma Jaya Luncurkan Layanan Hematologi dan Onkologi Terpadu
-
Jadi Oma Baru, Maia Estianty Cerita Pentingnya Menjaga Kesehatan Tulang dan Sendi agar Kuat
-
Jangan Anggap Sepele Gigi Berlubang, Ternyata Bisa Ganggu Tumbuh Kembang Anak
-
Hidrasi Bukan Sekadar Hilangkan Haus, Ini Manfaatnya bagi Kesehatan Tubuh
-
Hanya 4,9 Persen Pasien Berisiko Kardiovaskular Tinggi di Indonesia Capai Target LDL-C
-
Dari Kecelakaan Kerja hingga Cedera Kepala, MRI 1.5 Tesla Jadi Senjata Baru Penanganan Trauma
-
Bikin Anak Berani Berekspresi, Isi Libur Sekolah dengan Aktivitas Ini
-
Kenalan dengan HYROX, Fitness Race yang Sedang Digandrungi Komunitas Olahraga
-
Mudah Lelah dan Sesak Napas Bisa Jadi Tanda Kebocoran Katup Jantung
-
World Allergy Week 2026: Saatnya Ubah Sudut Pandang Soal Alergi Susu Sapi pada Anak