Suara.com - Lelaki Wajib Tahu, Ini 7 Makanan untuk Membuat Ereksi Maksimal
Ereksi maksimal tentunya diinginkan semua lelaki. Betapa tidak, ereksi maksimal memberikan jaminan kepuasan pada pasangan saat bercinta.
Pakar mengatakan ada beberapa penyebab lelaki mengalami penurunan kemampuan ereksi. Salah satunya adalah kurangnya suplai darah menuju penis, akibat pola makan yang salah.
Nah, dilansir Klinik Lelaki, 7 makanan ini wajib dikonsumsi lelaki demi mendapatkan ereksi maksimal. Apa saja?
1. Sayuran hijau
Sayuran hijau yang mengandung nitrat seperti seledri dan bayam mampu meningkatkan sirkulasi darah. Nitrat berfungsi sebagai vasodilator, mampu membuat aliran darah terbuka dan meningkatkan laju aliran darah.
2. Tiram dan kerang
Sebagai makanan afrodisiak, tiram dan kerang mengandung mineral zinc tinggi, yang yang berfungsi untuk meningkatkan kadar hormon testosteron pria. yang berfungsi membuat penis anda ereksi secara maksimal.
3. Semangka
Baca Juga: Waspada, Lelaki Idap Disfungsi Ereksi Berisiko Mati Muda
Semangka diketahui mengandung antioksidan bernama fitonutrien. Salah satu manfaat semangka untuk pria adalah kemampuannya dalam memberikan efek rileks pada pembuluh darah. Selain itu buah semangka juga dapat memberikan manfaat layaknya obat Sildenafil sitrat, serta membuat gairah seksual meningkat.
4. Tomat
Di dalam tomat terdapat likopen, yang termasuk dalam fitonutrien dapat bermanfaat bagi sirkulasi darah dan masalah seksual. Fitonutrien ini terkandung dalam buah-buahan seperti tomat hingga jeruk bali merah muda. Likopen diketahui dapat mengatasi masalah kanker prostat dan ketidaksuburan pria.
5. Bawang putih
Bawang putih dapat membantu anda membersihkan dinding pembuluh darah arteri anda. dinding arteri yang bersih berarti aliran darah ke tubuh, termasuk peis menjadi lebih lancar. Aliran darah yag lancar berarti penis dapat ereksi secara maksimal.
6. Cokelat hitam
Sebuah studi menyatakan, kandungan flavonoid pada coklat hitam, dapat membuat sirkulasi darah meningkat. Flavonoid juga bermanfaat menurunkan kolesterol dan tekanan darah. Kedua penyakit ini merupakan faktor penyebab terjadinya disfungsi ereksi.
7. Kopi
Selain dapat menahan kantuk, kafein pada kopi juga bermanfaat untuk melancarkan aliran darah. Oleh sebab itu konsumsi kopi 2-3 gelas sehari dapat mengurangi resiko anda menderita disfungsi ereksi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
- Peluang Baru Terbuka, Kehidupan 4 Shio Ini Diprediksi Semakin Membaik Mulai 10 Juni 2026
Pilihan
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
-
'Kalau Semua Diam, Siapa yang Akan Bicara?' Alasan Zaskia Adya Mecca Dukung Aksi Mahasiswa
-
Silakan Tabrak Kami! Polisi Tantang Massa Mahasiswa UI yang Nekat ke Bundaran HI
Terkini
-
Anak Sering Ruam atau Diare Setelah Minum Susu? Bisa Jadi Tanda Alergi Susu Sapi
-
Metoo Hadirkan Senyum di Tengah Mobilitas Jakarta lewat Aktivasi Interaktif di CSW
-
Dorong Pola Makan Seimbang, Konsumsi Buah dan Sayur Masih Jadi Tantangan di Indonesia
-
Saat Lambung Mulai Sensitif, Ini Pilihan Makanan yang Lebih Ramah di Perut
-
Quinn Salman Selalu Sempatkan Waktu Bermain Bersama Keluarga, Ternyata Manfaatnya Bagus Banget?
-
Mobilitas Tinggi Bikin Kulit Lebih Rentan Terpapar Kuman, Kapan Perlu Antiseptik?
-
Ancaman Tak Terlihat bagi Lingkungan Perairan: Residu Antidepresan Meningkat di Sungai
-
Layanan Ortopedi Dalam Negeri Kian Dekat dengan Standar Internasional
-
Pengembangan Vaksin Dalam Negeri Kian Maju, Perlindungan terhadap HPV Jadi Fokus
-
Mikroplastik Ada di Makanan, Minuman, hingga Udara: Seberapa Besar Risikonya bagi Kesehatan?