Usahakan untuk tidur enam hingga delapan jam setiap malam untuk mencegah masalah ini.
3. Sindrom pramenstruasi (PMS)
PMS adalah suatu kondisi yang dapat memengaruhi kesehatan dan perilaku fisik, biasanya tepat sebelum haid dimulai.
Ini diyakini disebabkan oleh perubahan kadar hormon. Mengidam makanan, terutama camilan manis, adalah gejala yang umum terjadi.
4. Pengobatan
Obat-obatan tertentu diketahui bisa meningkatkan nafsu makan, yang bisa membuat terbangun dengan perut keroncongan.
Obat-obatan bisa berupa antidepresan, antihistamin, steroid, obat migrain, beberapa obat diabetes seperti insulin, antipsikotik, dan obat antiseizure.
5. Haus
Haus sering disalahartikan sebagai rasa lapar. Dehidrasi bisa membuat tubuh lesu.
Baca Juga: Waspada! Terlalu Sedikit atau Kebanyakan Tidur Berisiko pada Kesehatan Otak
Jika Anda terbangun dengan rasa lapar, cobalah minum segelas besar air dan tunggu beberapa menit untuk merasakan apakah keinginan untuk makan telah hilang.
6. Stres
Nafsu makan beberapa orang biasanya akan meningkat ketika sedang stres. Saat tingkat stres meningkat, tubuh sebenarnya sedang melepaskan hormon tertentu seperti kortisol.
Yoga, meditasi, dan latihan pernapasan adalah cara yang bagus untuk mengurangi stres dan lonjakan gula darah setelah makan.
7. Obesitas
Olahraga membantu mengontrol lonjakan gula darah. Kadar gula darah turun saat otot menyerap gula dari darah.
Tetapi jika berolahraga secara intens di malam hari, kemungkinan membuat gula darah turun terlalu rendah dan sulit membuat tubuh kenyang sepanjang malam.
Pastikan Anda mendapatkan cukup makanan saat makan malam atau pertimbangkan untuk makan camilan berprotein tinggi setelah berolahraga berat.
Juga minum lebih banyak air setelah berolahraga untuk menghindari dehidrasi.
8. Sindrom makan malam (NES)
NES merupakan kelainan pola makan yang menyebabkan kurang nafsu makan di pagi hari tetapi dorongan untuk makan di malam hari lebih tinggi.
Tidak banyak yang diketahui tentang apa yang menyebabkan sindrom makan malam, tetapi para ilmuwan berspekulasi bahwa itu ada hubungannya dengan tingkat melatonin yang lebih rendah di malam hari.
Orang dengan kondisi ini juga memiliki leptin yang lebih rendah, yang merupakan penekan nafsu makan alami tubuh dan masalah lain dengan sistem respons stres tubuh.
NES tidak selalu dikenali oleh dokter dan tidak ada pilihan pengobatan khusus.
9. Kehamilan
Banyak wanita mengalami kenaikan nafsu makan selama kehamilan. Bangun dengan rasa lapar kemungkinan besar bukan alasan untuk khawatir, tetapi Anda harus memastikan makan larut malam tidak membuat berat badan naik terlalu banyak.
Makanlah makan malam yang sehat dan jangan tidur dalam keadaan lapar.
Camilan berprotein tinggi atau segelas susu hangat dapat menjaga kadar gula darah tetap stabil sepanjang malam.
Rasa lapar pada malam hari saat hamil bisa jadi merupakan gejala diabetes gestasional, yaitu peningkatan gula darah saat hamil.
10. Kondisi kesehatan lainnya
Beberapa kondisi kesehatan dapat berdampak besar pada nafsu makan, terutama gangguan metabolisme.
Obesitas, diabetes, dan hipertiroidisme diketahui menyebabkan masalah dengan pengendalian nafsu makan.
Diabetes menyebabkan kesulitan mengatur kadar gula darah. Pada diabetes tipe 2 misalnya, sel tidak merespons insulin dan gula beredar di dalam darah.
Akibatnya tubuh tidak pernah mendapatkan energi yang dibutuhkannya dan terus merasa lapar.
Sedangkan obesitas juga dapat membuat tubuh lebih sulit menggunakan insulin dan mengontrol kadar gula darah.
Nafsu makan yang meningkat juga merupakan salah satu gejala hipertiroidisme yang paling umum, yang terjadi ketika tiroid memproduksi terlalu banyak hormon tetraiodothyronine (T4) dan triiodothyronine (T3).
Berita Terkait
-
Dokter Ungkap Bahaya 'Lelaki Tidak Bercerita', Bisa Picu Obesitas hingga Diabetes
-
Rakyat Bukan Ayam: Mengatasi Lapar dengan Martabat, Bukan Sekadar Bantuan
-
Bukan Hanya Diskon, Belanja saat Lapar Juga Bisa Membuat Kita Jadi Impulsif
-
Fatal Akibat Kurang Tidur: Belajar dari Kisah Influencer yang Meninggal Saat Live Streaming
-
Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?
Terpopuler
- Link Download Logo dan Tema HUT Bhayangkara ke-80 2026 untuk Ulang Tahun Polri
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Diskon sampai 50 Persen di Sport Station, Mulai Rp500 Ribuan
- Sunscreen Apa yang Bikin Glowing? Ini 7 Pilihan Terbaik sesuai Review dan Harga
- 6 Sunscreen di Alfamart untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 5 Sepeda Gunung MTB Polygon Termurah, Tangguh dan Awet Untuk Harian
Pilihan
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
-
Prabowo: Hukum Tak Boleh Dipakai untuk Balas Dendam Politik
Terkini
-
Tak Cukup IQ, Psikolog Ingatkan Pentingnya Kecerdasan Emosi dan Sosial untuk Masa Depan Anak
-
Pertama di Indonesia, Transplantasi Ginjal dengan Teknologi Robotik Berhasil Dilakukan di RS Ini
-
Dokter Ungkap Bahaya 'Lelaki Tidak Bercerita', Bisa Picu Obesitas hingga Diabetes
-
Masih Dianggap Sepele, 9 Penyakit Tropis Ini Diam-Diam Bisa Bikin Kantong Jebol
-
Jawab Tantangan Diagnosis Kanker, RS Atma Jaya Luncurkan Layanan Hematologi dan Onkologi Terpadu
-
Jadi Oma Baru, Maia Estianty Cerita Pentingnya Menjaga Kesehatan Tulang dan Sendi agar Kuat
-
Jangan Anggap Sepele Gigi Berlubang, Ternyata Bisa Ganggu Tumbuh Kembang Anak
-
Hidrasi Bukan Sekadar Hilangkan Haus, Ini Manfaatnya bagi Kesehatan Tubuh
-
Hanya 4,9 Persen Pasien Berisiko Kardiovaskular Tinggi di Indonesia Capai Target LDL-C
-
Dari Kecelakaan Kerja hingga Cedera Kepala, MRI 1.5 Tesla Jadi Senjata Baru Penanganan Trauma