Obesitas Picu Risiko Diabetes, Terapi Tirzepatide Hadir dengan Pendekatan yang Lebih Personal

Senin, 10 Agustus 2026 | 17:46 WIB
Obesitas (unsplash.com/Towfiqu barbhuiya)
  • Dokter Dicky Levenus Tahapary menjelaskan bahwa penumpukan lemak berlebih akibat obesitas memicu resistensi insulin dan berbagai penyakit kronis.
  • Profesor Sidartawan Soegondo menyatakan bahwa terapi obesitas dan diabetes harus dilakukan secara menyeluruh serta memperhatikan kondisi kesehatan secara personal.
  • Diabetes Connection Care Eka Hospital Group menghadirkan terapi tirzepatide untuk membantu mengontrol gula darah dan menurunkan berat badan pasien.

Suara.com - Obesitas tidak lagi dapat dipandang hanya sebagai persoalan berat badan atau bentuk tubuh. Di balik penumpukan lemak berlebih, terutama di area perut, terdapat proses metabolik yang dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis, termasuk diabetes melitus tipe 2.

Kondisi tersebut terjadi ketika jaringan lemak berlebih memicu resistensi insulin. Padahal, insulin berperan penting membantu sel tubuh menggunakan glukosa sebagai sumber energi. 

Ketika tubuh mulai kurang responsif terhadap insulin, pankreas akan bekerja lebih keras untuk memproduksi insulin dalam jumlah lebih banyak. Jika berlangsung terus-menerus, kemampuan pankreas dapat menurun dan kadar gula darah akhirnya meningkat.

Konsultan Endokrin Metabolik & Diabetes DCC Eka Hospital BSD, dr. Dicky Levenus Tahapary, Sp.PD-KEMD, PhD, FINASIM, menjelaskan bahwa obesitas sebenarnya merupakan proses yang berlangsung secara bertahap.

“Obesitas ini penumpukan lemak tubuh sebenarnya. Dia sebenarnya deposito energi karena balance positif tadi disimpan. Cuma karena dia nyimpannya kebanyakan, dia menimbulkan gangguan,” ujarnya.

Menurutnya, dampak obesitas tidak hanya berkaitan dengan diabetes. Penumpukan lemak berlebih juga dapat memicu peradangan ringan yang berlangsung terus-menerus dan meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan, mulai dari penyakit jantung, gangguan ginjal, kolesterol tinggi, perlemakan hati, hingga risiko kanker tertentu.

Karena itu, menilai obesitas tidak cukup hanya dengan melihat angka pada timbangan. Lingkar perut dapat menjadi salah satu pemeriksaan sederhana untuk melihat adanya penumpukan lemak visceral atau lemak yang berada di sekitar organ dalam.

“Makanya selain timbangan, kita biasanya menggunakan salah satu yang paling mudah adalah lingkar perut,” jelas dr. Dicky.

Pemeriksaan dapat dilakukan lebih mendalam melalui analisis komposisi tubuh menggunakan bioimpedance analyzer. Pemeriksaan tersebut membantu mengetahui proporsi lemak, otot, dan komponen tubuh lainnya. 

Hal ini penting karena seseorang dengan berat badan tinggi belum tentu mengalami obesitas jika berat tersebut terutama berasal dari massa otot. Pendekatan serupa juga diperlukan dalam penanganan diabetes dan obesitas. 

Chairman Diabetes Connection Care (DCC) Eka Hospital, Prof. Dr. dr. Sidartawan Soegondo, Sp.PD-KEMD, FINASIM, FACE, menekankan bahwa obesitas seharusnya tidak dilihat sebagai kegagalan seseorang dalam menjalani hidup.

“Obesitas itu jangan dilihat dari kegagalan kita dalam hidup kita. Kalau kita mau mengobati diabetes, kita harus secara keseluruhan,” tuturnya.

Artinya, target terapi bukan sekadar menurunkan angka kilogram pada timbangan. Kondisi gula darah, kolesterol, fungsi ginjal, fungsi hati, kesehatan jantung, hingga komposisi tubuh perlu diperhatikan. Setiap pasien juga dapat membutuhkan strategi terapi yang berbeda.

Seiring perkembangan terapi penyakit metabolik, pilihan pengobatan kini semakin beragam. Salah satunya adalah tirzepatide, terapi yang bekerja pada dua hormon inkretin, yaitu GLP-1 dan GIP. 

Terapi ini dapat membantu meningkatkan kontrol gula darah sekaligus mendukung penurunan berat badan pada pasien yang sesuai dengan indikasi medis.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com