Suara.com - Sejak awal pandemi, Covid-19 telah dikaitkan dengan masalah jantung seperti berkurangnya kemampuan untuk memompa darah dan keteraturan irama jantung.
Kini, sebuah studi baru dari Washington University School of Medicine di St. Louis memberikan bukti bahwa kerusakan jantung pasien Covid-19 disebabkan oleh virus yang menyerang dan menggandakan diri di dalam sel otot jantung. Hal ini yang menyebabkan kematian sel dan mengganggu kontraksi otot jantung.
Melansir dari Medical Xpress, studi ini diterbitkan 26 Februari 2021 di Journal of the American College of Cardiology: Basic to Translational Science.
"Pada awal pandemi, kami memiliki bukti bahwa virus corona ini dapat menyebabkan gagal jantung atau cedera jantung pada orang yang umumnya sehat, yang mengkhawatirkan komunitas kardiologi," kata penulis senior Kory J. Lavine, MD, Ph.D., seorang profesor kedokteran.
"Penelitian kami unik karena secara definitif menunjukkan bahwa pada pasien dengan Covid-19 yang mengembangkan gagal jantung, virus menginfeksi jantung, khususnya sel otot jantung," imbuhnya.
Peneliti menunjukkan bahwa kematian sel dan hilangnya serat otot jantung dapat terjadi bahkan tanpa adanya peradangan.
"Peradangan bisa menjadi serangan kedua di atas kerusakan yang disebabkan oleh virus, tetapi peradangan itu sendiri bukanlah penyebab awal dari cedera jantung," kata Lavine.
Infeksi virus lain telah lama dikaitkan dengan kerusakan jantung, tetapi Lavine mengatakan SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan Covid-19 memiliki efek unik pada jantung, terutama pada sel kekebalan yang merespons infeksi.
"Covid-19 menyebabkan respons kekebalan yang berbeda di jantung dibandingkan dengan virus lain, dan kami belum tahu apa artinya itu," kata Lavine.
Baca Juga: Ombudsman Sumbar Desak Dugaan Penyelewengan Dana Covid-19 Diproses Hukum
"Secara umum, sel kekebalan yang terlihat merespons virus lain cenderung dikaitkan dengan penyakit yang relatif singkat yang sembuh dengan perawatan suportif. Tetapi sel kekebalan yang kita lihat pada pasien jantung Covid-19 cenderung dikaitkan dengan kondisi kronis," imbuhnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Link Download Logo dan Tema HUT Bhayangkara ke-80 2026 untuk Ulang Tahun Polri
- 5 Sepeda Gunung MTB Polygon Termurah, Tangguh dan Awet Untuk Harian
- 5 HP Samsung 5G Termurah 2026, Fitur Lengkap dan Performa Stabil untuk Jangka Panjang
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- Golkar Sulsel Memanas, Ini Alasan Pendukung Appi Alihkan Dukungan ke IAS
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Panas Ekstrem Kian Meluas, 22 Persen Penduduk Dunia Kini Alami Heat Stress
-
Indonesia Catat Sejarah Baru dengan Operasi Saluran Cerna Robotik Pertama
-
Ruang Ekspresi dan Bonding Keluarga Jadi Kunci Anak Tumbuh Percaya Diri dan Bahagia
-
Tak Cukup IQ, Psikolog Ingatkan Pentingnya Kecerdasan Emosi dan Sosial untuk Masa Depan Anak
-
Pertama di Indonesia, Transplantasi Ginjal dengan Teknologi Robotik Berhasil Dilakukan di RS Ini
-
Dokter Ungkap Bahaya 'Lelaki Tidak Bercerita', Bisa Picu Obesitas hingga Diabetes
-
Masih Dianggap Sepele, 9 Penyakit Tropis Ini Diam-Diam Bisa Bikin Kantong Jebol
-
Jawab Tantangan Diagnosis Kanker, RS Atma Jaya Luncurkan Layanan Hematologi dan Onkologi Terpadu
-
Jadi Oma Baru, Maia Estianty Cerita Pentingnya Menjaga Kesehatan Tulang dan Sendi agar Kuat
-
Jangan Anggap Sepele Gigi Berlubang, Ternyata Bisa Ganggu Tumbuh Kembang Anak