Suara.com - Tanaman herbal telah banyak digunakan dan dimanfaatkan untuk kesehatan. Sebut saja kunyit, jahe, hingga jinten. Derertan nama itu telah banyak dikenal masyarakat akan khasiatnya.
Tapi, pernahkah mendengar Garut (Maranta arundinacea) yang secara umum disebut Arrowroot. Ya, nama tadi memiliki arti tumbuhan yang mempunyai akar rimpang (Umbi) berbentuk seperti busur tanah.
Sekilas fisiknya tampak berujung lancip dan memiliki garis-garis horisontal, demikian seperti dikutip dari keterangan yang diterima Suara.com, Selasa, (12/10/2021).
Tanaman ini memang kurang populer di Indonesia dibanding dengan singkong, ubi dan jenis umbi-umbian yang lain. Dilihat dari namanya, Garut sepintas seolah berasal dari Garut, sebuah nama Kabupaten di Jawa Barat.
Namun, faktanya tanaman ini justru ditemukan di Amerika Selatan dan Filipina. Pati dari Umbi Garut ternyata memiliki manfaat bagi kesehatan tubuh. Pati Umbi Garut memiliki indeks glikemik yang lebih rendah dari beras sehingga aman bagi penderita diabetes.
Sejumlah riset juga menyebut pemanfaatan Pati umbi garut sangat bagus untuk kesehatan lambung. Salah satu produsen obat herbal tradisional asal Kemranjen, Banyumas Fauzi Rakhmat menyebut bahwa Pati umbi garut dapat melapisi lambung sehingga terlindungi dari penyebab sakit lambung terutama makanan.
"Pati Umbi Garut mengandung serat pangan tinggi yang berfungsi meredakan nyeri lambung dan menetralkan asam lambung berlebih. Konsumsi umbi garut secara rutin dapat melapisi lambung dan mempercepat penyembuhan luka di lambung yang menjadi pemicu sakit maag," ungkap Fauzi pemilik brand obat herbal Maagirut.
Sebagai produsen obat herbal tradisional, Fauzi juga memadupadankan dengan bahan herbal lainnya seperti kunyit, madu hutan, kayu manis dan habatussauda serta membuatnya dalam bentuk cair agar lebih praktis dan mudah dibawa.
"Campuran obat herbal alami dengan bentuk cair ini melapisi lapisan perut, menurunkan asam lambung dan menyembuhkan luka di lambung. Selain itu juga kemasan yang praktis dibutuhkan agar bisa dibawa kemana saja," imbuh Fauzi.
Baca Juga: Polisi Ungkap Rekayasa Wanita Korban Perampokan Rp1,3 Miliar di Garut
Lebih jauh, selain mengkonsumsi pati umbi garut, Fauzi juga menghimbau untuk tidak meremehkan gejala sakit maag dan selalu menjaga pola makan agar tidak terjadi komplikasi yang serius.
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
- Peluang Baru Terbuka, Kehidupan 4 Shio Ini Diprediksi Semakin Membaik Mulai 10 Juni 2026
Pilihan
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
-
'Kalau Semua Diam, Siapa yang Akan Bicara?' Alasan Zaskia Adya Mecca Dukung Aksi Mahasiswa
-
Silakan Tabrak Kami! Polisi Tantang Massa Mahasiswa UI yang Nekat ke Bundaran HI
-
Mahasiswa Belum Muncul, Begini Kondisi Terkini Bundaran HI Jelang Aksi 12 Juni
Terkini
-
Anak Sering Ruam atau Diare Setelah Minum Susu? Bisa Jadi Tanda Alergi Susu Sapi
-
Metoo Hadirkan Senyum di Tengah Mobilitas Jakarta lewat Aktivasi Interaktif di CSW
-
Dorong Pola Makan Seimbang, Konsumsi Buah dan Sayur Masih Jadi Tantangan di Indonesia
-
Saat Lambung Mulai Sensitif, Ini Pilihan Makanan yang Lebih Ramah di Perut
-
Quinn Salman Selalu Sempatkan Waktu Bermain Bersama Keluarga, Ternyata Manfaatnya Bagus Banget?
-
Mobilitas Tinggi Bikin Kulit Lebih Rentan Terpapar Kuman, Kapan Perlu Antiseptik?
-
Ancaman Tak Terlihat bagi Lingkungan Perairan: Residu Antidepresan Meningkat di Sungai
-
Layanan Ortopedi Dalam Negeri Kian Dekat dengan Standar Internasional
-
Pengembangan Vaksin Dalam Negeri Kian Maju, Perlindungan terhadap HPV Jadi Fokus
-
Mikroplastik Ada di Makanan, Minuman, hingga Udara: Seberapa Besar Risikonya bagi Kesehatan?