Suara.com - Seseorang bisa mendapatkan antibodi yang bisa membantu melindungi diri dari virus corona Covid-19 dengan cara suntik vaksin Covid-19 atau infeksi alami dari virus tersebut.
Sebuah studi yang dipublikasikan di Nature Microbiology, melihat antibodi dari 38 pasien dan petugas kesehatan di Rumah Sakit St Thomas yang terinfeksi dalam gelombang pertama virus corona Covid-19 sebelum mereka suntik vaksin Covid-19.
Meskipun semua orang bisa mengalami penurunan tingkat antibodi yang diperoleh secara alami atau suntik vaksin Covid-19. Hasil studi ini menunjukkan bahwa kebanyakan peserta mampu mempertahankan tingkat antibodi yang diperoleh alami selama 10 bulan setelah terinfeksi virus corona.
Antibodi ini membantu melawan virus corona Covid-19 dengan mengikat virus SARS-CoV-2. Hal tersebut bisa mencegah virus ini menginfeksi sel dalam tubuh. Hasil studi ini juga menunjukkan lamanya antibodi tetap berada di dalam tubuh untuk melawan infeksi virus corona Covid-19 di masa mendatang.
Para peneliti yang dipimpin oleh Dr Katie Doores dari School of Immunology & Microbial Sciences, juga menguji proses terciptanya antibodi untuk melawan varian virus corona Covid-19 yang spesifik. Mereka melihat virus corona Covid-19 asli beserta variannya, seperti varian Alpha, varian Beta dan varian Delta.
Karena dilansir dari King's College London, antibodi dari varian virus corona Covid-19 yang spesifik mampu menghasilkan respons kuat terhadap infeksi dari varian virus corona itu sendiri. Namun, antibodi ini kurang efektif dalam melawan varian virus corona lainnya yang berbeda.
Antibodi mengikat protein lonjakan pada virus SARS-CoV-2 dan vaksin Covid-19 bekerja dengan cara meniru protein ini untuk menciptakan respons imun terhadap SARS-CoV-2.
Mutasi pada varian baru SARS-CoV-2 (alpha, beta, delta) telah menimbulkan kekhawatiran tentang vaksin Covid-19 yang menargetkan virus corona Covid-19 asli akan efektif melawan varian lainnya atau tidak. Karena itu, vaksin Covid-19 terbaru sedang dirancang untuk melawan varian virus corona lainnya.
Namun, hasil ini menunjukkan bahwa ada perbedaan protein lonjakan varian Alpha, Beta, dan Delta. Artinya, vaksin Covid-19 yang telah dirancang untuk salah satu varian virus corona mungkin kurang efektif dalam melawan varian lainnya.
Baca Juga: Masalah Jantung, Sergio Aguero Absen Bela Barcelona 3 Bulan
Penelitian ini merupakan lanjutan dari penelitian sebelumnya yang juga dipimpin oleh Dr Katie Doores untuk mengamati respons antibodi virus corona Covid-19 dalam waktu 3 bulan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- 5 Sunscreen Lokal untuk Hempas Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harganya
Pilihan
-
Kebakaran Kemayoran: Ratusan KK Terdampak, Korban Dievakuasi ke RS Hermina
-
Atma Jaya Yogyakarta Temukan Empat Mahasiswa Terlibat Kasus Riset AI, Kampus Siapkan Sanksi
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
-
Prabowo Tabuh Genderang Perang: Kita Lawan Kelompok Anti Tanah Air
-
Prabowo Pidato 1 Juni 2026: Lawan Asing, Waktunya Kembali ke Ekonomi Pancasila
Terkini
-
Bukan Sekadar Kenyang, Ahli Gizi Ingatkan Pentingnya Nutrisi Seimbang untuk Menjaga Kualitas Hidup
-
Waspada! Ini Tanda Kelebihan Vitamin B6, dari Kesemutan hingga Kerusakan Saraf
-
Fakta Kanker Payudara yang Jarang Dibahas: Harapan Baru dan Pentingnya Skrining
-
Perempuan Hadapi Dampak Lebih Besar dari Gelombang Panas Ekstrem
-
Cara Memilih Susu Formula, Ini 5 Kriteria yang Perlu Diperhatikan Orang Tua
-
Bikin Khawatir, Biaya Kesehatan Makin Mahal: Apa yang Harus Kita Lakukan?
-
Ribuan Bayi Lahir dengan Talasemia Tiap Tahun, Skrining Dini Semakin Mendesak
-
Ritme Sirkadian dan Usus Saling Terhubung, Begadang Bisa Ganggu Pencernaan
-
Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern
-
Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian