Suara.com - Sebuah penelitian baru menunjukkan bahwa perlindungan vaksin Covid-19 AstraZeneca menurun setelah tiga bulan menerima dosis kedua.
Temuan yang diambil dari dataset di dua negara menunjukkan bahwa program booster AstraZeneca diperlukan demi membantu menjaga perlidungan dari Covid-19 parah .
Studi yang dilakukan oleh peneliti dari Skotlandia dan Brasil menganalisis data dua juta orang di Skotlandia dan 42 juta orang di Brasil yang telah divaksin AstraZeneca.
Di Skotlandia, ada risiko sekitar lima kali lipat untuk dirawat di rumah sakit atau meninggal akibat Covid-19 pada orang yang sudah divaksinasi ganda dalam lima bulan.
Para ahli menemukan bahwa penurunan efektivitas terlihat pertama kali di sekitar tiga bulan setelah vaksinasi, membuat masyarakat berisiko dua kali lipat mengalami Covid-19 parah. Risikonya meningkat dalam waktu empat bulan setelah vaksinasi.
Insiden serupa juga ditemukan di Brasil, lapor Medical Xpress.
Peneliti membandingkan kedua negara ini karena Brasil dan Skotlandia memiliki jarak waktu yang sama pada masing-masing dosis vaksin, yakni 12 minggu.
Selain itu, kedua negara juga memiliki kebijakan yang sama dalam siapa yang boleh divaksin lebih dulu, yakni masyarakat yang berisiko tinggi terinfeksi Covid-19 parah dan petugas layanan kesehatan.
"Seharusnya pemerintah dapat merancang program booster untuk memastikan perlindungan maksimal tetap terjaga. Jika memenuhi syarat untuk mendapatkan booster dan Anda belum mengambilnya, saya sangat menyarankan Anda untuk segera memesannya," jelas salah satu peneliti sekaligus Direktur Institut Usher Universitas Edinburgh, Aziz Sheikh.
Baca Juga: Info Vaksinasi Surabaya 21 Desember 2021, AstraZeneca Ada Jadwal Suntik Malam!
Berita Terkait
Terpopuler
- Janji Ringankan Kasus, Oknum Jaksa di Banten Ancam Korban Bayar Rp2 Miliar atau Dihukum Berat
- 5 HP Murah Terbaru Lolos Sertifikasi di Indonesia, Usung Baterai Jumbo hingga 7.800 mAh
- 6 Bedak Tabur Tahan Air, Makeup Tetap Mulus Meski Keringatan Seharian
- 69 Kode Redeem FF Max Terbaru 14 April 2026: Ada Skin Chromasonic dan Paket Bawah Laut
- Misteri Lenyapnya Bocah 4 Tahun di Tulung Madiun: Hanya Sekedip Mata Saat Ibu Mencuci
Pilihan
-
Jateng Belum Ikut-ikut Kebijakan KDM, Bayar Pajak Kendaraan Masih Pakai KTP Pemilik Lama
-
Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Jadi Tersangka Kejagung, Tangan Diborgol
-
Bukan Hanya soal BBM, Kebijakan WFH Mengancam Napas Bisnis Kecil di Magelang
-
Solidaritas Tanpa Batas: Donasi WNI untuk Rakyat Iran Tembus Rp9 Miliar
-
CFD Ampera Bikin Macet, Akademisi: Ada yang Salah dari Cara Kota Diatur
Terkini
-
Perempuan Berlari 2026: Integrasi Olahraga, Kesehatan Mental, dan Literasi Keuangan
-
Bukan Sekadar Sekolah, Anak Neurodivergent Butuh Dukungan Menyeluruh untuk Tumbuh
-
Awas Logam Berat! Ini 7 Deretan Risiko Kesehatan Jika Mengonsumsi Ikan Sapu-Sapu
-
Waspada Gejala Awal Serangan Jantung Sering Dikira Diare Biasa
-
Saat Screen Time Tak Bisa Dihindari, Ini Rekomendasi Tontonan Anak yang Aman dan Edukatif
-
Air Jernih Belum Tentu Aman: Inilah 'Musuh Tak Terlihat' yang Memicu Stunting pada Anak
-
Bisa Remisi, Ini Cara Mengendalikan Diabetes Tanpa Bergantung Obat
-
Sering Self-Diagnose? Hentikan Kebiasaan Berbahaya Ini dengan Panduan Cerdas Pilih Produk Kesehatan
-
Jangan Asal Pilih Material Bangunan! Ini Dampak Buruk Paparan Timbal Bagi Otak dan Kesehatan
-
96% Warga Indonesia Tak ke Dokter Gigi, Edukasi Digital Jadi Kunci Ubah Kebiasaan