Suara.com - Musisi Ardhito Pramono ditangkap aparat terkait penyalahgunaan zat psikotropika. Bintang drama Story of Kale itu dinyatakan positif menggunakan ganja.
"Hasil awal tes urine positif," ungkap Kapolres Metro Jakarta Barat Kombes Ady Wibowo, Rabu (12/1/2022).
Ardhito ditangkap di kediamannya di kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur, pada pukul 02.00 WIB dini hari.
Lalu yang jadi pertanyaan, mengapa tes urine jadi hal vital dalam kasus narkoba?
Mengutip Healthline, tes urine yang juga dikenal sebagai skrining urine narkoba atau UDS ini adalah tes tanpa rasa sakit.
Tes ini biasanya dilakukan untuk mengetahui keberadaan obat terlarang, atau obat resep tertentu di dalam tubuh manusia dalam kurun waktu tertentu.
Tes urine biasanya ditujukan untuk mendeteksi penggunaan amfetamin, metamfetamin, benzodiazepin, barbiturat, ganja, kokain, PCP, metadon hingga opioid.
Biasanya alkohol juga bisa terdeteksi dalam tes urine, tetapi alkohol kini umumnya dites melalui tes napas.
Melalui tes urine juga, dokter bisa mendeteksi adanya potensi penyalahgunaan zat atau obat terlarang.
Baca Juga: Ditangkap Terkait Narkoba, Keluarga Velline Chu Ajukan Rehabilitasi
Umumnya tes urine akan dilakukan, apabila dokter mencurigai adanya masalah obat-obatan dan alkohol pada pasien.
Selain itu biasanya, dokter di ruang gawat darurat juga akan melakukan tes urine apabila, pasien datang tampak bingung atau berperilaku aneh atau berbahaya.
Jenis Tes Urine untuk Narkoba
Ada dua jenis tes urine yang biasa dilakukan dalam penyalahgunaan narkoba, pertama yaitu immunoassay, biaya yang dikeluarkan lebih hemat sekaligus bisa mengeluarkan hasil yang cepat,
Tapi kekurangan pada tes ini, tidak mampu mendeteksi semua jenis narkoba opioid. Tes ini juga sering mengeluarkan hasil positif palsu, yaitu saat orang tersebut pernah menggunakan narkoba, padahal sudah berhenti.
Nah, biasanya jika hasil tes pertama ini positif akan dilanjutkan dengan tes urine lanjutan yakni kromatografi fas atau spektrometri massa (GC/MS) ditujukan untuk konfirmasi.
Pada tes urine ini tetap menggunakan prosedur yang sama. Biaya yang dibutuhkan cenderung lebih mahal, hasil yang keluar cukup lama, tapi sangat jarang menghasilkan positif palsu.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Bedak Marcks Tabur untuk Usia Berapa? Ini Penjelasan dan 3 Pilihan Variannya
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
- Daftar Pertanyaan Sensus Ekonomi 2026: Petugas BPS Datangi Rumah, Tanya Gaji dan Usaha
Pilihan
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
-
Resmi! Roy Suryo dan Dokter Tifa Tak Ditahan Jaksa, Ini Syarat yang Harus Dipenuhi
Terkini
-
El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?
-
Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis
-
WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global
-
Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!
-
Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens
-
Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?
-
Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak
-
Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh
-
Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi