Suara.com - Vaksin Covid-19 buatan BUMN hampir menyelesaikan uji klinis fase 3. Uji klinis tersebut melibatkan 4.050 subyek relawan dari seluruh Indonesia. Peneliti memastikan syarat menjadi relawan juga perlu dipantau secara ketat.
Dikatakan Ketua Tim Peneliti Uji Klinis Fase 3 Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang - Asrawati, peserta uji atau relawan harus menjalani serangkaian tes untuk memastikan kondisi kesehatannya.
"Selain itu syarat relawan harus berusia 18 hingga 70 tahun dan belum pernah terpapar Covid-19. Untuk uji klinis fase 3 di Kota Padang dan Kabupaten Padang Pariaman ini tercatat ada 1.725 relawan," ujar Asrawati melalui keterangan yang diterima Suara.com, Kamis (2/8/2022).
Selanjutnya para relawan akan mendapatkan dua kali suntikan vaksin Covid-19 BUMN dengan rentang waktu 28 hari.
Hingga berita ini dikeluarkan pihak peneliti mengklaim, uji klinis fase 3 masih menunjukan hasil yang baik, dan tidak ada relawan yang alami Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi atau KIPI serius.
Selanjutnya, para relawan akan dipantau selama satu tahun kedepan untuk memastikan keamanan dan keefektifan vaksin dalam menciptakan kekebalan dalam tubuh.
"Presiden sudah menyiapkan nama khusus untuk Vaksin Covid-19 BUMN dan Bio Farma sedang berproses untuk mendaftarkan nama tersebut ke Ditjen HKI Kemenkumham, mudah-mudahan di tanggal 17 Agustus 2022 Indonesia akan memiliki vaksin buatan Indonesia, persembahan untuk Indonesia guna memutus mata rantai Covid-19," ujar Direktur Utama Bio Farma, Honesti Basyir.
Selain itu Bio Farma juga sudah mendaftarkan hasil uji klinis fase 3, untuk proses mendapatkan izin penggunaan darurat atau EUA Badan Pengawas Obat dan Makan (BPOM).
Secara bersamaan, Bio Farma juga sudah menyelesaikan audit Vaksin Covid-19 oleh LLPOM MUI untuk mendapatkan sertifikat halal, sehingga nantinya vaksin lokal ini bisa menambah pilihan vaksin Covid-19 halal di Tanah Air.
Baca Juga: Kasus Meningkat, Dinkes Bantul Optimalkan Tracing Guna Deteksi Dini Penularan COVID-19
Berita Terkait
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
Pilihan
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Dokter Ungkap Bahaya Mata Juling yang Kerap Tak Disadari Orang Tua
-
Jangan Terlalu Melarang! Psikolog Ungkap Pentingnya Anak Bermain Bebas Saat Liburan
-
Sering Menatap Layar? Waspadai Miopia dan Mata Silinder yang Kini Banyak Menyerang Usia Produktif
-
El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?
-
Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis
-
WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global
-
Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!
-
Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens
-
Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?