Health / Women
Rabu, 28 Januari 2026 | 07:47 WIB
Kelelawar Buah (pixabay)

Suara.com - Baru-baru ini, perhatian dunia kesehatan kembali tertuju pada India, tepatnya di wilayah West Bengal. Laporan terbaru per 26 Januari 2026 mengonfirmasi adanya lima orang yang terinfeksi virus Nipah, termasuk di antaranya tenaga medis seperti dokter dan perawat.

Kondisi ini memicu langkah sigap pemerintah setempat dengan mengarantina sekitar 100 orang yang sempat melakukan kontak erat dengan pasien.

Meskipun terdengar mengkhawatirkan, memahami fakta-fakta di balik virus ini sangat penting agar kita tidak terjebak dalam kepanikan yang tidak berdasar. Berikut adalah poin-poin penting mengenai virus Nipah:

1. Asal-usul dan Pembawa Virus

Virus Nipah bukanlah hal baru. Virus ini pertama kali diidentifikasi pada tahun 1998 di Malaysia saat terjadi wabah pada peternak babi.

Secara ilmiah, virus ini masuk dalam genus Henipavirus. Uniknya, "tuan rumah" alami dari virus ini adalah kelelawar buah (fruit bat). Virus berpindah ke manusia melalui perantara hewan (zoonosis) atau konsumsi makanan yang telah terkontaminasi.

2. Bagaimana Virus Ini Menular?

Penularan utama terjadi melalui kontak langsung dengan cairan tubuh hewan yang terinfeksi, seperti air liur atau urine kelelawar. Misalnya, jika seseorang memakan buah yang sebelumnya telah digigit atau terkena kotoran kelelawar, risiko penularan menjadi sangat tinggi.

Selain itu, penularan antarmanusia juga bisa terjadi melalui kontak erat dengan cairan tubuh pasien, itulah sebabnya tenaga medis menjadi kelompok yang paling rentan.

Baca Juga: Atletik Indonesia: Zohri dan Odekta Awali Musim di Kejuaraan Asia Indoor 2026

3. Mengenali Gejala Awal hingga Berat

Pada tahap awal, seseorang yang terinfeksi akan merasakan gejala yang sangat mirip dengan flu biasa, seperti:

  • Demam tinggi.
  • Sakit kepala hebat.
  • Nyeri otot dan tenggorokan.

Namun, jika kondisi memburuk, virus ini dapat menyerang sistem pernapasan dan saraf. Pasien bisa mengalami sesak napas akut hingga peradangan otak (ensefalitis) yang menyebabkan kebingungan, kejang, bahkan koma.

4. Tingkat Kematian yang Cukup Tinggi

Salah satu alasan mengapa virus Nipah sangat diwaspadai adalah angka fatalitasnya. Berdasarkan data epidemiologi, tingkat kematian akibat virus ini berkisar antara 40% hingga 75%. Artinya, virus ini jauh lebih mematikan secara individu dibandingkan virus flu biasa jika tidak ditangani dengan cepat.

5. Belum Ada Obat Khusus

Load More