- Masyarakat semakin sadar pentingnya pemeriksaan fertilitas dini untuk merencanakan kehamilan dan mendeteksi gangguan kesehatan reproduksi secara tepat.
- Dr. Steven Aristida menyatakan infertilitas dipengaruhi faktor pria dan wanita, termasuk masalah endometriosis serta kualitas sperma dan genetik.
- Pemeriksaan kesuburan sejak dini sangat krusial bagi pasangan agar mendapatkan penanganan medis yang tepat sebelum usia membatasi peluang.
Di sisi lain, masih banyak perempuan yang menganggap nyeri haid berat sebagai hal yang normal. Padahal, menurut dr. Steven, nyeri menstruasi yang sampai mengganggu aktivitas sekolah, pekerjaan, maupun kehidupan sosial seharusnya tidak diabaikan.
Kondisi tersebut dapat menjadi tanda adanya endometriosis, gangguan yang kerap terlambat terdiagnosis karena pasien terbiasa menahan rasa sakit selama bertahun-tahun.
"Banyak pasien endometriosis baru terdiagnosis setelah bertahun-tahun menahan nyeri. Padahal diagnosis dini penting agar fungsi reproduksi tetap terjaga," katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa perubahan warna darah menstruasi maupun munculnya gumpalan darah tidak otomatis menandakan adanya penyakit atau infertilitas. Penilaian medis tetap diperlukan untuk mengetahui kondisi sebenarnya, termasuk melalui pemeriksaan ultrasonografi transvaginal.
Kesadaran untuk melakukan pemeriksaan sejak dini menjadi semakin penting karena faktor usia memiliki pengaruh besar terhadap kesuburan.
Pasangan berusia di bawah 35 tahun dianjurkan berkonsultasi apabila belum memperoleh kehamilan setelah 12 bulan berhubungan rutin tanpa kontrasepsi. Sementara bagi pasangan berusia di atas 35 tahun, evaluasi sebaiknya dilakukan setelah enam bulan.
"Cadangan sel telur perempuan menurun seiring usia, terutama setelah 35 tahun. Kualitas sperma juga berubah dengan pertambahan umur," jelas dr. Steven.
Selain pemeriksaan medis, gaya hidup juga menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan reproduksi. Pola makan yang mengutamakan makanan segar dan minim proses dinilai lebih baik dibanding konsumsi makanan cepat saji atau makanan olahan yang tinggi bahan tambahan.
Pendekatan pola makan antiinflamasi pun semakin banyak direkomendasikan untuk mendukung kesehatan reproduksi secara keseluruhan.
Baca Juga: Persiapan Punya Anak di Usia Matang, Konsultasi Fertilitas Bisa Bantu Atur Strategi
Berbagai isu mengenai kesehatan reproduksi dan infertilitas tersebut menjadi salah satu fokus dalam perayaan tujuh tahun Bocah Indonesia melalui acara bertajuk "7 Wonders: The Journey Beyond Limits" yang dihadiri lebih dari 500 pasangan pejuang garis dua di Jakarta.
Di tengah perkembangan teknologi reproduksi yang semakin maju, Founder dan CEO Bocah Indonesia, dr. Pandji Sadar, MBBS, AMPH, menilai bahwa perjalanan menuju kehamilan bukan semata-mata persoalan tindakan medis.
"Setiap pasangan memiliki perjalanan berbeda. Karena itu kami ingin menghadirkan layanan fertilitas yang tidak hanya maju secara teknologi, tetapi juga personal dalam pendampingannya," ujarnya.
Pandangan tersebut mencerminkan realitas yang dihadapi banyak pasangan. Program kehamilan sering kali bukan hanya soal prosedur medis, melainkan juga perjalanan emosional yang membutuhkan dukungan, informasi yang tepat, dan pendampingan yang berkelanjutan.
Melalui forum seperti ini, pasangan tidak hanya memperoleh edukasi mengenai promil alami, inseminasi buatan (IUI), maupun bayi tabung (IVF), tetapi juga ruang untuk berbagi pengalaman dengan pasangan lain yang sedang menjalani perjuangan serupa.
Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan reproduksi menjadi sinyal positif. Semakin dini gangguan fertilitas dikenali, semakin besar peluang pasangan untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Di saat yang sama, pemahaman bahwa infertilitas dapat melibatkan faktor perempuan maupun laki-laki diharapkan mampu mengurangi stigma yang selama ini masih melekat di masyarakat.
Pada akhirnya, menjaga kesehatan reproduksi bukan hanya tentang mempersiapkan kehamilan, tetapi juga tentang memahami tubuh, mengenali tanda-tanda gangguan sejak dini, dan mengambil langkah yang tepat sebelum kesempatan itu semakin menyempit oleh waktu.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Motor yang Jadi Mimpi Buruk Mekanik, Montir Langsung Pura-Pura Sibuk
- 5 Sunscreen Lokal untuk Hempas Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harganya
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- realme C100i Jadi Andalan Anak Muda, Baterai Awet 6 Tahun dan Reverse Charging
- Akhir Dilema PCX vs Vario: Skutik Baru Honda Hadir Bawa Kamera Dashcam dan Mesin Lebih Buas
Pilihan
-
IHSG Diproyeksi Menguat Lagi, Investor Bisa Cermati Saham-saham Ini
-
Prabowo Copot Dadan Hindayana, Nanik S Dayang Resmi Jadi Kepala BGN!
-
674 Korban Kebakaran Kemayoran Mengungsi, Posko Bantuan dan Layanan Kesehatan Disiagakan
-
Kebakaran Kemayoran: Ratusan KK Terdampak, Korban Dievakuasi ke RS Hermina
-
Atma Jaya Yogyakarta Temukan Empat Mahasiswa Terlibat Kasus Riset AI, Kampus Siapkan Sanksi
Terkini
-
Ribuan Sekolah Bergerak, Kesadaran Membangun Budaya Hidup Sehat Kian Menguat
-
Bukan Sekadar Kenyang, Ahli Gizi Ingatkan Pentingnya Nutrisi Seimbang untuk Menjaga Kualitas Hidup
-
Waspada! Ini Tanda Kelebihan Vitamin B6, dari Kesemutan hingga Kerusakan Saraf
-
Fakta Kanker Payudara yang Jarang Dibahas: Harapan Baru dan Pentingnya Skrining
-
Perempuan Hadapi Dampak Lebih Besar dari Gelombang Panas Ekstrem
-
Cara Memilih Susu Formula, Ini 5 Kriteria yang Perlu Diperhatikan Orang Tua
-
Bikin Khawatir, Biaya Kesehatan Makin Mahal: Apa yang Harus Kita Lakukan?
-
Ribuan Bayi Lahir dengan Talasemia Tiap Tahun, Skrining Dini Semakin Mendesak
-
Ritme Sirkadian dan Usus Saling Terhubung, Begadang Bisa Ganggu Pencernaan
-
Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern