- Kanker paru di Indonesia menyebabkan lebih dari 34.000 kematian setiap tahun dan sering terdeteksi pada stadium lanjut.
- Pemeriksaan Low-Dose CT Scan direkomendasikan untuk mendeteksi tumor berukuran kecil pada kelompok berisiko tinggi secara lebih dini.
- Pengobatan modern menggunakan pendekatan personal dan tes genetik untuk memberikan terapi yang lebih tepat sasaran.
Suara.com - Batuk yang tak kunjung reda, sesak napas ringan, atau cepat lelah sering kali dianggap sekadar efek polusi, flu, atau kebiasaan merokok. Padahal, pada sebagian orang, keluhan tersebut bisa menjadi tanda awal kanker paru yang selama ini kerap terlambat terdeteksi.
Di Indonesia, kanker paru masih menjadi penyebab kematian akibat kanker nomor satu. Setiap tahun, lebih dari 34.000 orang meninggal karena penyakit ini. Yang membuat situasi semakin memprihatinkan, sekitar 70 persen pasien baru mengetahui dirinya mengidap kanker paru ketika penyakit sudah memasuki stadium lanjut.
Artinya, kesempatan untuk melakukan operasi atau pengobatan sejak dini menjadi jauh lebih kecil.
Padahal, jika kanker paru ditemukan pada stadium awal, peluang sembuhnya sangat tinggi. Pada kanker paru stadium 1A1, tingkat kesembuhan bahkan bisa mencapai lebih dari 90 persen. Sebaliknya, ketika penyakit baru diketahui pada stadium 4, pilihan terapi menjadi lebih terbatas.
Karena itu, para dokter menekankan pentingnya tidak mengabaikan gejala yang berlangsung lama, terutama pada orang yang memiliki faktor risiko.
Kanker Paru Tak Lagi Hanya Menyerang Perokok
Selama ini banyak orang mengira kanker paru hanya menyerang perokok berat. Kenyataannya, tren tersebut mulai berubah.
Dokter kini semakin sering menemukan kasus kanker paru pada perempuan, usia muda, hingga orang yang tidak pernah merokok.
Selain paparan asap rokok, polusi udara, faktor genetik, hingga paparan zat berbahaya di lingkungan juga diduga ikut meningkatkan risiko.
Karena itu, siapa pun tetap perlu waspada apabila mengalami batuk kronis, sesak napas, nyeri dada, suara serak, atau batuk berdarah yang tidak kunjung membaik.
Skrining Bisa Menyelamatkan Nyawa
Salah satu alasan tingginya angka kematian akibat kanker paru adalah karena penyakit ini sering tidak menimbulkan gejala pada tahap awal.
Untuk kelompok berisiko tinggi, pemeriksaan Low-Dose CT Scan (LDCT) kini menjadi salah satu metode skrining yang direkomendasikan. Pemeriksaan ini mampu menemukan kanker paru ketika ukuran tumornya masih sangat kecil, bahkan sebelum muncul keluhan.
Semakin cepat kanker ditemukan, semakin besar peluang pengobatan berhasil.
Pengobatan Kini Tidak Lagi Sama untuk Semua Pasien