- Golf kini semakin diminati oleh berbagai kalangan dan tak lagi identik dengan olahraga eksklusif.
- Kehadiran fasilitas dan teknologi yang lebih mudah diakses membuat siapa pun bisa mengenal golf dengan cara yang lebih santai.
- Perkembangan ini turut mengubah golf menjadi bagian dari gaya hidup, olahraga, sekaligus aktivitas untuk bersosialisasi.
Suara.com - Golf perlahan mengalami perubahan wajah. Jika dulu olahraga ini kerap dianggap eksklusif dan hanya digeluti kalangan tertentu, kini semakin banyak orang dari berbagai usia dan latar belakang mulai tertarik mencobanya.
Kehadiran driving range, indoor golf simulator, hingga teknologi pada perlengkapan golf membuat olahraga ini terasa lebih mudah didekati. Pemain pemula pun memiliki lebih banyak pilihan untuk mengenal golf tanpa harus langsung bermain di lapangan dengan perlengkapan yang kompleks.
Perubahan tersebut turut membuat profil pemain golf semakin beragam. Tak hanya pemain berpengalaman, anak muda dan perempuan juga mulai menjadikan golf sebagai bagian dari aktivitas olahraga, gaya hidup, hingga sarana bersosialisasi.
Bagi sebagian orang, golf bahkan bukan sekadar soal mengejar skor. Olahraga ini menawarkan pengalaman yang lebih santai, mulai dari menikmati suasana ruang terbuka, menghabiskan waktu bersama teman, hingga membangun rutinitas olahraga baru.
Namun, semakin serius seseorang menekuni golf, kebutuhan perlengkapannya pun bisa ikut berkembang. Pemain pemula biasanya masih mencari perangkat yang nyaman dan mudah digunakan. Sementara itu, pemain yang sudah lebih rutin bermain mulai mempertimbangkan faktor seperti berat club, jarak pukulan, hingga karakter swing.
Ashok Kumar, Assistant Vice President Merchandising Golf House Indonesia, PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAA), melihat perubahan tersebut sebagai bagian dari perkembangan kultur golf di Indonesia.
“Selama 36 tahun, Golf House telah ikut andil dalam membentuk kultur golf di Indonesia. Kami menyaksikan langsung adanya regenerasi, perubahan ekspektasi, dan cara menikmati golf yang semakin fleksibel,” ujar Ashok.
Menurutnya, perjalanan setiap orang dalam mengenal golf berbeda-beda. Karena itu, kebutuhan seorang pemula tentu tidak selalu sama dengan pemain yang telah bertahun-tahun berada di lapangan.
Hal tersebut juga dirasakan aktor sekaligus golf enthusiast Samuel Zylgwyn. Menurutnya, memilih perlengkapan golf merupakan proses yang cukup personal karena setiap pemain memiliki karakter permainan berbeda.
“Sebagai golfer, saya tidak hanya melihat merek atau harga. Saya juga ingin memastikan produk tersebut sesuai dengan cara bermain dan nyaman digunakan. Karena itu, saya selalu ingin mencoba beberapa pilihan terlebih dahulu untuk merasakan perbedaannya secara langsung,” kata Samuel.
Dari Sekadar Mencoba hingga Menemukan Gaya Bermain
Berkembangnya minat terhadap golf juga membuat pengalaman mencoba olahraga ini menjadi semakin beragam. Seseorang bisa memulainya dari driving range, mengikuti kelas, bermain bersama teman, atau sekadar mencoba simulator sebelum memutuskan untuk menekuninya lebih jauh.
Ketika mulai rutin bermain, pemain biasanya akan semakin memahami karakter permainannya sendiri. Ada yang membutuhkan club ringan untuk membantu mengontrol ayunan, sementara pemain lain mungkin membutuhkan perlengkapan dengan spesifikasi yang lebih sesuai dengan kecepatan swing dan postur tubuh.
Di tahap yang lebih lanjut, dikenal pula club fitting, yakni proses menyesuaikan perlengkapan dengan karakter masing-masing pemain. Layanan semacam ini kini mulai tersedia di sejumlah tempat, termasuk Golf House Pondok Indah, Jakarta Selatan.
Golf House sendiri mencoba mengikuti perubahan tersebut dengan menghadirkan konsep “Home for Every Golfer”. Konsep ini diperkenalkan bersamaan dengan logo baru Golf House pada 12 Agustus 2026.