- Peneliti Monash University melaporkan perubahan iklim serta urbanisasi memperluas wilayah perkembangbiakan nyamuk pembawa malaria dan demam berdarah.
- Kasus malaria di Indonesia melonjak signifikan dari 418.000 kasus pada tahun 2023 menjadi 706.000 kasus pada 2025.
- Penyakit demam berdarah tercatat menyerang sekitar 161.937 orang di Indonesia pada tahun 2025 yang membutuhkan strategi pencegahan khusus.
Suara.com - Perubahan iklim bukan hanya soal suhu bumi yang semakin panas. Pergeseran suhu dan pola hujan juga dapat memengaruhi kehidupan nyamuk pembawa penyakit, termasuk malaria dan demam berdarah dengue (DBD).
Karena itu, pengendalian nyamuk, vaksinasi, pengobatan, hingga upaya menekan emisi gas rumah kaca menjadi bagian penting untuk mencegah beban penyakit yang ditularkan nyamuk semakin besar.
Hal tersebut terungkap dalam studi terbaru para peneliti Monash University yang diterbitkan di jurnal Science Advances. Penelitian ini melihat bagaimana faktor iklim, lingkungan, kondisi kesehatan, hingga perubahan sosial dan ekonomi saling berkaitan dalam memengaruhi penyebaran malaria dan DBD.
Malaria merupakan penyakit yang disebabkan oleh parasit dan dapat mengancam nyawa. Penularannya terjadi melalui gigitan nyamuk Anopheles betina yang sudah terinfeksi.
Sementara DBD disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes betina yang terinfeksi.
Keduanya sama-sama ditularkan oleh nyamuk, tetapi pola penyebarannya tidak selalu sama.
Setiap tahun, nyamuk pembawa malaria dan dengue menginfeksi ratusan juta orang di berbagai negara. Di Indonesia, kasus malaria bahkan meningkat 69 persen dalam dua tahun, dari sekitar 418.000 kasus pada 2023 menjadi 706.000 kasus pada 2025.
Angka tersebut merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah. Pada 2025, DBD juga tercatat menyerang sekitar 161.937 orang atau 57,02 kasus per 100.000 penduduk.
Suhu dan Hujan Memengaruhi Nyamuk
Peneliti utama studi, Dr. Toby Cumming, ilmuwan dari Health and Climate Initiative, Monash School of Public Health and Preventive Medicine, mengatakan memahami berbagai faktor yang mendorong penularan penyakit penting untuk menentukan strategi pencegahan yang tepat.
Menurutnya, perubahan iklim dapat mengubah kondisi lingkungan yang dibutuhkan nyamuk untuk berkembang biak.
“Perubahan iklim menyebabkan kenaikan suhu dan pergeseran pola curah hujan, sehingga memperluas wilayah yang cocok bagi populasi nyamuk Anopheles dan Aedes untuk berkembang pesat,” ujar Dr. Cumming.
Namun, hubungan antara iklim dan penyakit yang ditularkan nyamuk tidak sesederhana semakin panas berarti semakin banyak penyakit.
Pengaruhnya dapat berbeda-beda karena dipengaruhi musim dan kondisi setiap wilayah. Meski begitu, perubahan iklim secara umum dapat memberikan dampak terhadap pola penularan malaria maupun DBD.
Menariknya, para peneliti menemukan perkembangan kedua penyakit tersebut justru menunjukkan arah yang berbeda dalam jangka panjang.