Studi Ungkap Emosi soal Perubahan Iklim Tak Otomatis Ubah Perilaku, Mengapa?

Selasa, 22 September 2026 | 13:30 WIB
Kerumunan berkumpul untuk protes perubahan iklim, memegang papan aktivis. (dok.Pexels/Markus Spiske)

Suara.com - Perubahan iklim bukan sekadar menyasar perihal data maupun kebijakan. Isu tersebut sering dikemas melalui berbagai emosi untuk mendesak masyarakat lebih peduli dan mengambil langkah nyata. Kemarahan, belas kasihan, hingga harapan sering digunakan untuk membangun kepedulian terhadap lingkungan.

Sayangnya, emosi yang digunakan tersebut belum menjamin seseorang akan bergerak untuk melakukan tindakan nyata.

Ada sebuah penelitian yang melibatkan lebih dari 2.000 partisipan di Norwegia dan Polandia memperlihatkan bahwa emosi terkait perubahan iklim tidak banyak mengubah perilaku nyata.

Temuan ini menonjolkan kesenjangan jarak antara apa yang seseorang rasakan dan niat yang mereka sampaikan dengan tindakan yang benar-benar dilakukan.

Niat Terbentuk dari Emosi

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports menguji tiga emosi yang berhubungan dengan perubahan iklim, yakni kemarahan; belas kasihan; dan harapan.

Terlebih dahulu, tim peneliti telah menemukan bahwa kemarahan bisa meningkatkan keinginan seseorang untuk meminta pertanggungjawaban pihak yang dirasa berkontribusi terhadap permasalahan iklim.

Sebaliknya, belas kasihan justru dapat mendorong dukungan terhadap korban. Sementara, harapan dapat membuat seseorang merasa bahwa perubahan masih memungkinkan untuk direalisasikan.

Seorang profesor dari Departemen Psikologi Norwegian University of Science and Technology (NTNU), Christian Klöckner, menjelaskan bahwa penelitian terbaru itu berupaya dalam melihat niat yang hadir dari emosi ini benar-benar direalisasikan menjadi tindakan atau tidak.

"Kami sudah tahu bahwa ketika orang marah, mereka lebih termotivasi dan memiliki niat yang lebih kuat," jelas Klöckner dikutip dalam laman resmi Phys, Rabu (16/9).

Niat Diuji dengan Tindakan Nyata

Tim peneliti menguji para partisipan untuk melakukan beberapa tugas sebagai tolak ukur. Langkah tersebut berfungsi untuk mengukur apa yang peserta katakan akan mereka lakukan.

Tak hanya itu, peneliti juga memberikan kesempatan kepada mereka untuk menunjukkan perilaku tersebut melalui pilihan yang benar-benar ada konsekuensinya.

"Kami menggunakan cerita-cerita ini untuk mengetahui apakah para peserta berniat melakukan sesuatu, dan kemudian memberi mereka kesempatan untuk benar-benar menyumbangkan uang tersebut," ujar Klöckner.

Hasilnya justru jauh dari yang dibayangkan. Hanya sedikit partisipan memberikan donasi lebih banyak setelah membaca cerita yang memicu emosi tersebut dibandingkan yang tidak.

Hal ini menunjukkan bahwa emosi tidak secara otomatis menghasilkan peningkatan perilaku donasi.

"Sangat sedikit, bahkan hampir tidak ada, yang memberikan uang lebih banyak karena emosi yang mereka rasakan, dibandingkan dengan orang-orang yang tidak membaca cerita-cerita itu," ungkapnya.

Meski demikian, temuan itu bukan berarti emosi tidak memiliki peran dalam isu perubahan iklim. Justru, penelitian ini menunjukkan bahwa hubungan antara emosi, niat, dan perilaku jauh lebih rumit dan kompleks dari yang dibayangkan.

Klöckner mengatakan perubahan perilaku tidak selalu bisa dijelaskan hanya dari niat yang disampaikan seseorang sebelumnya.

Di balik itu, ada banyak faktor lain yang memengaruhi keputusan seseorang untuk benar-benar memutuskan suatu tindakan nyata.

Saat seseorang bisa saja memiliki kepedulian terhadap perubahan iklim, mereasa marah terhadap kerusakan lingkungan, atau berharap kondisi dapat diatasi. namun, perasaan tersebut belum menjadi alasan utama seseorang mengambil keputusan.

Tantangan bagi Penggalangan Dana

Bahkan temuan dari penelitian ini ikut sejalan bagi organisasi nirlaba yang berfokus pada isu lingkungan untuk menggalang dana.

Organisasi seperti World Wildlife Foundation (WWF) selama ini juga memanfaatkan aspek emosional untuk membangun partisipasi masyarakat sebelum mengajaknya berdonasi.

Penasihat korporat senior untuk kemitraan di WWF Norwegia, Denise Kohn, mengungkapkan bahwa penelitian mengenai motivasi donasi penting bagi organisasi yang bergantung pada kontribusi masyarakat.

"Kami tahu bahwa para donatur bulanan kami mendukung kami rata-rata selama lima hinga enam tahun," kata Kohn.

Kohn memandang isu iklim tidak selalu menjadi pintu utama dalam penggalangan dana. Dalam praktiknya, isu mengenai alam jauh lebih mudah menggaet perhatian publik. Sementara, kondisi politik maupun geopolitik juga membuat perhatian masyarakat terbagi.

Pada dasarnya, membangun kepedulian terhadap perubahan iklim merupakan proses yang lebih kompleks daripada sebatas membuat masyarakat merasa marah, iba, ataupun berharap.

Namun, dengan adanya penelitian ini menunjukkan bahwa proses emosional higga benar-benar berubah menjadi suatu tindakan tidak sesederhana dari yang selama ini dibayangkan.

Penulis: Chairunisa

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com