Indotnesia - Pada 2004, film karya sutradara Steven Spielberg berjudul "The Terminal" rilis. Film tersebut mengangkat kisah seorang pria asal Iran yang menetap di Terminal 1, Bandara Paris-Charles de Gaulle, selama 18 tahun.
Sosok pengungsi tersebut bernama Mehran Karimi Nasseri, dan dia sungguh ada. Namun, kini tersiar kabar duka yang menyebutkan Nasseri meninggal dunia pada Sabtu (12/11/2022) di bandara yang sama.
Melansir CNN, Nasseri dinyatakan meninggal dunia oleh tim medis bandara di Terminal 2F karena sebab alami. Menurut laporan Associated Press, ia kembali lagi di bandara dan tinggal selama beberapa pekan terakhir.
Ia kembali menjadi tunawisma di area publik bandara sejak pertengahan September 2022. Sebelumnya, ia sempat tinggal di panti jompo. Lalu, bagaimana Nasseri bisa tinggal dalam waktu yang lama di sebuah bandara?
Nasseri adalah seorang pengungsi asal Iran. Ia sedang dalam perjalanan ke Inggris melalui Belgia dan Prancis pada 1988. Namun, dia kehilangan surat-surat penting dan tidak dapat naik pesawat.
Dia juga tidak bisa meninggalkan bandara dan terjebak di sana hingga 2006. Berjuluk "Sir Alfred", suaka politiknya sebagai pengungsi juga ditolak oleh Inggris Raya. Padahal, dia memiliki ibu asal Skotlandia.
Sebenarnya, otoritas setempat pernah memberi izin tinggal di Prancis. Namun, Nasseri menolaknya karena ia ingin mencapai tujuan awalnya, yakni Inggris.
Setelah dirinya menjadi seseorang tanpa kewarganegaraan, bandara menjadi tempat tinggalnya. Nasseri selalu menyimpan barang-barang di sisinya, menghabiskan waktu dengan membaca, menulis buku harian, dan belajar ekonomi.
Kondisi yang tidak biasa tersebut menginspirasi Spielberg untuk membuat film "The Terminal" yang dibintangi oleh Tom Hanks. Pada 2003, New York Times menyebutkan, Spielberg telah membeli hak atas kisah hidup Nasseri melalui perusahaannya, DreamWorks, dengan membayar US$250.000.
Baca Juga: Profil Narawastu Indrapadna, Pengusaha Sukses yang Resmi Nikahi Rachel Amanda
Selain itu, Nasseri juga menginspirasi film "Tombés du ciel" pada 1993, yang kemudian dirilis secara internasional dengan judul "Lost in Transit". Di luar itu semua, ia juga menjadi subjek banyak film dokumenter dan karya jurnalistik lainnya.
Nasseri menulis sebuah otobiografi berjudul "The Terminal Man", yang terbit pada 2004. Ia akhirnya keluar dari bandara ketika harus memperoleh perawatan di rumah sakit pada 2006.
Nasseri diyakini lahir pada 1945 di Kota Masjed Soleiman, Iran, pada 1945. Dengan begitu, ia diperkirakan meninggal dunia pada usia 76 tahun.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Serum untuk Mengecilkan Pori-pori, Bikin Kulit Mulus Sesuai Review Pembeli
- Mulai Besok Kendaraan Nunggak Pajak Dilarang Isi BBM Bersubsidi
- 3 Rekomendasi Air Cooler 50 Watt yang Dingin Maksimal dan Suaranya Senyap
- 3 Sepatu Running Brodo Terlaris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Durian Musang King dan Black Thorn Jadi Komoditas Baru Andalan Sulsel
Pilihan
-
Bantah Isu TNI 'Serbu' Polda Metro Usai Ramai Kasus Jampidsus, Kapuspen: Waspada Provokator!
-
Penampakan 50 Pria Baju Loreng Geruduk Polda Metro Jaya Usai Penggeledahan Febrie Adriansyah
-
Mencekam! 50 Pria diduga Tentara Datangi Polda Metro Jaya Usai Penggeledahan Rumah Febrie Adriansyah
-
50 Orang Berambut Cepak 'Serbu' Polda Metro Jaya: 'Mau Ambil Saksi Kasus Jampidsus'
-
Resmi! Muktamar NU ke-35 akan Digelar di Ponpes Bahrul Ulum Jombang
Terkini
-
Daftar Harga Pangan Terbaru: Cabai Rawit Paling Mahal!
-
TNI Jaga Rumah Jampidsus, Pengamat Nilai Batas Ranah Sipil dan Militer Mulai Kabur
-
Santri Korban Pembakaran di Ponpes Lombok Alami Trauma Berat, Sering Teriak dan Halusinasi
-
Target Operasi 2030, PGE Tajak Sumur Eksplorasi Pertama PLTP Lumut Balai Unit 3
-
Misteri Harta Jampidsus Febrie: LHKPN Rp18 M vs Temuan Emas 74 Kg di Rumah Sentul City
-
Pabrik Senjata Ilegal di Minahasa Utara Digerebek
-
Justin Bieber hingga BTS Siap Guncang Halftime Show Final Piala Dunia 2026
-
Jorge Jesus Selangkah Lagi Latih Portugal, Bagaimana Nasib Cristiano Ronaldo?
-
Dibalik Integrasi Perbankan: Mengapa Sistem Universal Banking Bisa Menghancurkan Stabilitas Ekonomi?
-
Tak Lagi Berbasis Latihan Kemiliteran, Pelatihan SPPI Kini Lebih Humanis