/
Minggu, 26 Februari 2023 | 09:45 WIB
Google Doodle pada Minggu (26/2/2023) mengenang musisi campursari Didi Kempot. (Google)

Indotnesia - Pada Minggu (26/2/2023), Google Doodle mengenang musisi Didi Kempot yang telah menulis lebih dari 700 lagu campursari selama lebih dari 30 tahun kariernya.

Seniman berjuluk "Godfather of Broken Heart" tersebut telah wafat pada 5 Mei 2020, yang membuat para penggemarnya mengalami kesedihan yang mendalam. Lalu, bagaimana kisah pria bernama asli Didik Prasetyo itu?

Melansir Suara.com, Didi Kempot lahir pada 31 Desember 1966 di Surakarta, Jawa Tengah. Ayahnya merupakan seorang pemain ketoprak bernama Ranto Edi Gudel.

Sang ibu adalah seorang pesinden dari Ngawi, Jawa Timur, bernama Umiyati Siti Nurjanah. Sementara, kakaknya juga seorang seniman terkenal dari grup lawak Srimulat, Mamiek. 

Dengan begitu, Didi memang dibesarkan dalam keluarga seniman sehingga darah seni sudah tertanam sejak ia lahir. 

"Saya berseni mungkin karena saya hidup di lingkungan seniman-seniman tradisional. Dari ibu, bapak, dan kaka saya," ujarnya semasa masih hidup.

Besar di keluarga seniman tradisional, ia yakin genre musik yang dipilihnya akan berkembang. Apa yang telah dilakukan orangtuanya membuatnya terus melanjutkan karya seni musik dengan lagu-lagu berlirik bahasa Jawa.

"Saya ngambil nyanyi-nyanyi tembang Jawa, dan saya punya keyakinan suatu saat saya pasti akan bisa membangkan apa yang pernah dialami bapak dan ibu saya waktu itu," jelasnya.

Namun, perjalanan Didi tidaklah semulus kelihatannya. Pada 1984, ia menjadi penyanyi jalanan di Solo. Dua tahun kemudian, dia mencoba mengadu nasib di Ibu Kota dengan mengirim demo lagu-lagu yang ia ciptakan.

Baca Juga: Rilis Single Terbaru, Berikut Lirik Lagu Sanes Guyon Waton x Denny Caknan

Penolakan demi penolakan ia dapatkan. Untuk bertahan hidup di Jakarta, ia pun mengamen bersama Kelompok Pengamen Trotoar. Buah dari penantian Didi terjawab.

Bersama Label Musica Studio's , album perdananya rilis pada 1990 dengan lagu yang tetap populer hingga kini, Cidro. Ia pun diundang untuk bernyanyi di Suriname, negara-negara di benua Amerika, dan Eropa. 

Kariernya yang terus berjalan membuatnya menghasilkan karya-karya lain yang tidak lekang oleh waktu, seperti lagu Layang Kangen, Stasiun Balapan, Sewu Kutho, dan masih banyak lagi.

"Saya nggak menyangka seorang penyanyi mantan pengamen jalanan bisa nulis lagu dan diterima di benua Eropa dan zona Amerika," tuturnya.

"Yang paling membanggakan lagi dari beberapa perjalanan karier saya, saya mondar-mandir Belanda Suriname sudah 13 atau 14 kali, saya lupa. Tapi konser ini yang yang sangat membanggakan buat saya," jelas Didi.

Sempat tidak terdengar kabarnya, sebelum kematian menjemput, Didi menorehkan kenangan indah bersama para penggemar muda baru yang menikmati lagu-lagunya.

Load More