Indotnesia - Keraton Yogyakarta Hadiningrat kembali menggelar tradisi Grebeg Besar pada, Kamis (29/6/2023). Acara tersebut akan mulai pukul 10.00 WIB dan dilaksanakan di Kagungan Dalem Masjid Gedhe.
Grebeg Besar adalah tradisi yang dilaksanakan untuk memperingati Bulan Besar atau Bulan Dzulhijjah. Tradisi ini dilaksanakan tiap 10 Dzulhijjah bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha.
Tradisi Grebeg Besar dimaknai sebagai lambang kedermawanan dan perlindungan Sultan Hamengku Buwono terhadap masyarakat. Perhelatan tradisi ini mempersembahkan gunungan yang diarak oleh para prajurit keraton.
Gunungan tersebut berisi hasil bumi masyarakat setempat, seperti kacang panjang, jagung, cabai, dan lain-lain. Bentuknya mengerucut atau kerecut yang menandakan sebagai simbol rasa syukur atas berkah yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Dalam Tradisi Grebeg Besar Keraton Yogyakarta ada enam gunungan, yaitu gunungan lanang, gunungan wadon, gunungan gepak, gunungan darat, gunungan pawohan, dan gunungan kakung.
Satu gunungan akan dibawa ke Pura Pakualaman. Sementara lima gunungan lainnya akan dibawa ke Masjid Besar Kauman untuk diarak dan diperebutkan oleh warga. Maka tak heran, Grebeg Besar sering juga disebut sebagai Grebeg Gunungan.
Masyarakat biasanya akan memadati lokasi pelaksanaan Grebeg Besar untuk berebut makanan yang ada di gunungan yang dipercaya membawa keberkahan.
Sejarah Grebeg Besar Yogyakarta
Grebeg atau Garebeg berasal dari kata Grebe atau Gerbeg yang dalam Bahasa Jawa artinya ‘suara angin’. Sementara ‘Anggrebeg’ memiliki makna mengiring raja.
Baca Juga: Bosan Masak Rendang? Coba Resep Dendeng Daging Sapi Berikut Ini
Tradisi Grebeg Keraton Yogyakarta pertama kali diadakan pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono I, yaitu tahun 1725 Masehi.
Bentuk tradisi ini merupakan perpaduan antara budaya Jawa dengan Islam. Secara Islam Grebeg dimaknai sebagai dakwah yang mengandung nilai-nilai pelestarian lingkungan. Di sisi lain masyarakat Jawa memperingati Grebeg untuk mengingatkan kesadaran akan alam semesta. Konsep keselarasan ini merupakan warisan dari Sunan Kalijaga.
Di Yogyakarta, Grebeg diadakan tiga kali dalam setahun. Yaitu Grebeg Syawal/Posos/Bakdo yang dilaksanakan pada 1 Syawal atau Hari Raya Idul Fitri yang bertujuan untuk menghormati Bulan Suci Ramadhan serta Malam Lailatul Qadar.
Lalu, ada Grebeg Besar yang diadakan tiap 10 Dzulhijjah dan Grebeg Maulud yang diadakan pada tanggal 12 Rabiul Awal untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 5 Pelembap Viva Cosmetics untuk Mencerahkan Wajah dan Hilangkan Flek Hitam, Dijamin Ampuh
- 6 Sepeda Lipat Alternatif Brompton, Harga Murah Kualitas Tak Kalah
- Siapa Saja Tokoh Indonesia di Epstein Files? Ini 6 Nama yang Tertera dalam Dokumen
- 24 Nama Tokoh Besar yang Muncul di Epstein Files, Ada Figur dari Indonesia
Pilihan
-
Hakim di PN Depok Tertangkap Tangan KPK, Diduga Terlibat Suap Ratusan Juta!
-
Eks Asisten Pelatih Timnas Indonesia Alex Pastoor Tersandung Skandal di Belanda
-
KPK Amankan Uang Ratusan Juta Rupiah Saat OTT di Depok
-
KPK Gelar OTT Mendadak di Depok, Siapa yang Terjaring Kali Ini?
-
Persib Resmi Rekrut Striker Madrid Sergio Castel, Cuma Dikasih Kontrak Pendek
Terkini
-
Jakarta Pertamina Enduro Sikat Electric PLN 3-0, Servis Mematikan Jadi Kunci Kemenangan
-
Peringkat Kredit Indonesia di Moodys Tetap Baa2, Alarm Bagi Kepercayaan Investor?
-
Review Film Warrior (2011): Drama Keluarga Mengharukan di Balik Ring MMA
-
Persib Bandung Gaet Sergio Castel: 5 Poin Penting Rekrutan Anyar Pangeran Biru
-
Gus Ipul Serukan Gerakan Peduli Tetangga, Perkuat Data Lindungi Warga Rentan
-
DPR RI Awasi Pengembangan Kawasan Wisata di Area Rencana Proyek Giant Sea Wall
-
Waspadai Malut United, Bojan Hodak Sesumbar Siapkan Kejutan
-
Sudah Tiba di Jakarta, PM Australia Segera Bertemu Prabowo di Istana
-
Gus Ipul dan Kepala Daerah Komitmen Buka 8 Sekolah Rakyat Baru
-
Media Italia Bongkar Isi Pembicaraan Jay Idzes dengan John Herdman