/
Kamis, 29 Juni 2023 | 08:55 WIB
Mengiring Gunungan dalam Perayaan Grebeg Syawal Yogyakarta. (YouTube/Kraton Jogja)

Indotnesia - Keraton Yogyakarta Hadiningrat kembali menggelar tradisi Grebeg Besar pada, Kamis (29/6/2023). Acara tersebut akan mulai pukul 10.00 WIB dan dilaksanakan di Kagungan Dalem Masjid Gedhe.

Grebeg Besar adalah tradisi yang dilaksanakan untuk memperingati Bulan Besar atau Bulan Dzulhijjah. Tradisi ini dilaksanakan tiap 10 Dzulhijjah bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha.

Tradisi Grebeg Besar dimaknai sebagai lambang kedermawanan dan perlindungan Sultan Hamengku Buwono terhadap masyarakat. Perhelatan tradisi ini mempersembahkan gunungan yang diarak oleh para prajurit keraton.

Gunungan tersebut berisi hasil bumi masyarakat setempat, seperti kacang panjang, jagung, cabai, dan lain-lain. Bentuknya mengerucut atau kerecut yang menandakan sebagai simbol rasa syukur atas berkah yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Dalam Tradisi Grebeg Besar Keraton Yogyakarta ada enam gunungan, yaitu gunungan lanang, gunungan wadon, gunungan gepak, gunungan darat, gunungan pawohan, dan gunungan kakung.

Satu gunungan akan dibawa ke Pura Pakualaman. Sementara lima gunungan lainnya akan dibawa ke Masjid Besar Kauman untuk diarak dan diperebutkan oleh warga. Maka tak heran, Grebeg Besar sering juga disebut sebagai Grebeg Gunungan.

Masyarakat biasanya akan memadati lokasi pelaksanaan Grebeg Besar untuk berebut makanan yang ada di gunungan yang dipercaya membawa keberkahan.

Sejarah Grebeg Besar Yogyakarta

Grebeg atau Garebeg berasal dari kata Grebe atau Gerbeg yang dalam Bahasa Jawa artinya ‘suara angin’. Sementara ‘Anggrebeg’ memiliki makna mengiring raja.

Baca Juga: Bosan Masak Rendang? Coba Resep Dendeng Daging Sapi Berikut Ini

Tradisi Grebeg Keraton Yogyakarta pertama kali diadakan pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono I, yaitu tahun 1725 Masehi. 

Bentuk tradisi ini merupakan perpaduan antara budaya Jawa dengan Islam. Secara Islam Grebeg dimaknai sebagai dakwah yang mengandung nilai-nilai pelestarian lingkungan. Di sisi lain masyarakat Jawa memperingati Grebeg untuk mengingatkan kesadaran akan alam semesta. Konsep keselarasan ini merupakan warisan dari Sunan Kalijaga.

Di Yogyakarta, Grebeg diadakan tiga kali dalam setahun. Yaitu Grebeg Syawal/Posos/Bakdo yang dilaksanakan pada 1 Syawal atau Hari Raya Idul Fitri yang bertujuan untuk menghormati Bulan Suci Ramadhan serta Malam Lailatul Qadar.

Lalu, ada Grebeg Besar yang diadakan tiap 10 Dzulhijjah dan Grebeg Maulud yang diadakan pada tanggal 12 Rabiul Awal untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Load More