Kakak kandung Brigadir J, Yuni Hutabarat, menyebut pihak keluarga lebih rela ketika Ricky Rizal yang menjadi justice collaborator (JC) dalam kasus pembunuhan sang adik.
“Ricky Rizal, yang seandainya dia yang menjadi JC mungkin kami sedikit legowo, menerima. Bahkan, kalaupun vonisnya bebas, kami akan bisa menerima dengan cepat,” ujar Yuni, dikutip dari unggahan Instagram @pembasmi_kehaluan_real, Selasa (21/2/2023).
Yuni selanjutnya mengungkapkan bahwa pihak keluarga masih sulit menerima putusan atau vonis yang dijatuhkan kepada Eliezer. Pasalnya, putusan tersebut diturunkan hampir 90 persen dari tuntutan jaksa.
“Tapi kalau untuk Eliezer untuk beberapa keluarga mungkin itu sedikit, tidak bisa secepat itu bisa menerima itu. Tapi doakan saja dikuatkan terlebih orang tua. Semoga dengan semua ini Eliezer bertaubat sungguh-sungguh,” ungkapnya Yuni.
“Ada sedikit kekecewanan, karena sangat ringan. Sangat ringan dibanding dengan tuntutan jaksa yang 12 tahun, itu hampir 90 persen hasil putusannya itu diturunkan hingga 1 tahun 6 bulan,” imbuhnya.
Meski berat menerima putusan tersebut, akan tetapi Yuni mengatakan bahwa pihak keluarga hanya berdoa agar keluarga dikuatkan.
“Sebenarnya agak sedikit berat sih menerimanya. Aku berdoa sih kalau memang ini putusan datangnya dari Tuhan, biarlah Tuhan yang menguatkan, terlebih menguatkan orang tua dan keluarga lainnya,” tuturnya.
Salah satu hal yang membuat mereka berat adalah membayangkan saat Eliezer menembak Yosua, bahkan tak hanya sekali. Yuni mengaku sakit ketika membayangkan sang adik kesakitan lantaran tembakan tersebut.
“Karena Eliezer ini kan salah satu yang menembak Josua itu yang membuat hati kami sakit, kami membayangkan waktu Josua ditembak sama Eliezer, bukan cuma satu kali,” pungkas Yuni.
Baca Juga: Awal Mula 'Perseteruan' Megawati dan SBY, Berdampak Pada PDIP dan Demokrat?
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
Pilihan
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Nasib Ratusan Siswa SMA di Sumsel Terancam, Ombudsman Temukan Dugaan Pelanggaran SPMB
-
BI Sumsel Perkuat Pariwisata dan Ekonomi Digital Lewat Gemilang Palembang Raya x DKG 2026
-
AFC Ajax Boyong Marc-Andre ter Stegen, Maarten Paes Dibuang?
-
Duka Mendalam Klub Juara Liga Champions untuk Korban Gempa Venezuela
-
Mengapa Dokumen WDP Jadi WTP Dicari KPK? Fakta Baru dari Penggeledahan BPK Sumsel
-
3 Manajer KDMP-KNMP Meninggal, Amnesty Desak Latsarmil Dihentikan
-
Gempa Besar Venezuela: Ribuan Orang Hilang Dampaknya Sampai Sejauh 1700 Km
-
Sore di Pantai, Berburu Produk Lokal hingga Menikmati Musik di WKND Market PIK2
-
Sudah Bayar Rp128 Juta, Rumah Tak Kunjung Dibangun, Konsumen Lapor Polda Sumsel
-
Strategi Keliru Hong Myung-Bo, Korea Selatan Terancam Angkat Koper Lebih Cepat dari Piala Dunia 2026