/
Selasa, 13 Juni 2023 | 07:40 WIB
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Demokrat Teuku Riefky Harsya (kiri depan) bertemu Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto (kanan depan), di Jakarta, Minggu (11/6/2023). (ANTARA/HO-Humas Demokrat)

Profesor Karim Suryadi menilai, koalisi antara partai-partai yang berkontestasi dalam pemilihan umum (pemilu) 2024 masih belum matang.

"Jika dianalogikan, koalisi itu ibarat janin. Umur janin itu masih berusia tiga bulan, masih sangat bisa berubah dan bertumbuh," kata pakar komunikasi politik itu kepada KompasTV, dikutip Liberte Suara, Selasa (13/6/2023).

Maka, Demokrat yang telah memiliki koalisi memutuskan menerima komunikasi PDIP. Ini dilakukan oleh sekjen kedua pihak, Hasto Kristiyanto dan Teuku Riefky Harsya.

Dari komunikasi ini, kata Prof. Karim, merupakan nilai lebih untuk PDIP. Di sisi lain adalah godaan bagi Demokrat.

"Terus terang, ini poin bagi PDIP, godaan buat Demokrat, sekaligus godaan untuk capres Anies Baswedan," ujarnya.

Hal ini beralasan karena PDIP akan banyak menerima insentif. Terlebih jika ada tujuan yang telah tercapai sehingga memberikan image bagi PDIP.

"Image PDIP adalah sebagai partai terbuka, nasionalis, merangkul semua. Partai besar yang memulai pembicaraan yang sudah membeku," terang profesor.

Sementara, mengapa disebut godaan bagi Demokrat karena hanya nama AHY yang diungkapkan ke publik oleh politikus PDIP.

"Untuk Demokrat, ini godaan bagi AHY karena kalkulasinya menjadi cawapres," tukas pakar komunikasi politik itu.

Baca Juga: Kedepankan Pengembangan Sumber Daya Alam, GMC Kaltim Tanam Ratusan Bibit Pohon

"Itu karena di PDIP terdapat figur bertabur bintang yang mungkin menduduki kursi cawapres," jelasnya, menambahkan.

Load More