Indonesia paling banyak mengalami Beban Gizi Ganda (double burden of malnutrition). Riset dari The Lancet pada 2020 mengungkapkan bahwa ini terjadi di hampir seluruh provinsi di Indonesia.
Beban Gizi Ganda merupakan keadaan di mana kekurangan gizi dan kelebihan gizi terjadi pada waktu yang bersamaan. Hal ini biasanya dapat ditemui di beberapa negara berpenghasilan rendah atau menengah.
Ekonom Senior INDEF Profesor Bustanul Arifin mengungkapkan bahwa Beban Gizi Ganda merupakan manifestasi dari banyak faktor, utamanya ketimpangan ekonomi. Gizi kurang dan gizi lebih ini terjadi bersamaan yang akan berdampak negatif pada masyarakat, ditandai dengan balita stunting dan dewasa 18 tahun alami kegemukan.
"Ini manifestasi dari perubahan sistem pangan, yang mengarah pada pangan olahan (tidak sehat) supermurah," kata Prof. Bustanul dalam seminar daring, dikutip Liberte Suara, Senin (19/6/2023).
Dikutip dari laman World Bank, kekurangan gizi pada anak-anak bisa mulai terjadi pada tahap sangat awal dalam hidup. Saat seorang anak menerima asupan gizi yang kurang baik saat masih dalam kandungan, tubuhnya akan “terprogram” agar bisa bertahan hidup dalam kondisi gizi yang kurang.
Akibat “pemrograman” ini, apabila kelak ia hidup dalam lingkungan dengan asupan gizi yang mudah diperoleh, tubuh mereka akan sangat rentan terhadap obesitas sehingga mudah terkena penyakit tidak menular seperti diabetes dan jantung.
Bukan hanya itu, lanjut Guru Besar Universitas Lampung, minimnya aktivitas juga dapat memicu hal ini. Berkurangnya aktivitas di kantor dan di rumah menjadi dua variable yang paling besar.
"Transportasi juga menjadi satu hal. Perobahan teknologi yang memanjakan manusia, mengakibatkannya melakukan aktivitas tanpa harus bergerak," papar Prof. Bustanul.
Oleh karena itu, Prof. Bustanul mengajukan solusi seperti strategi penyuluhan dan pembangunan sumber daya manusia, dukungan riset dan pengembangan, serta teknologi baik teknologi informasi dan pembiayaan.
Baca Juga: Dua Oknum Dosen Universitas Negeri Padang Terindakasi LGBT, Satu Orang Dipecat Rektor
"Peningkatan ekonomi kreatif untuk mendorong pemerataan ekonomi. Sehingga dapat meningkatkan nilai tambah pada perekonomian," ujarnya.
Pakar ICMI ini juga menguraikan bahwa ketimpangan ekonomi di Indonesia justru belum menurun. Bahkan dalam periode 2019 hingga 2022, ketimpangan mereda menjadi 0,381 di akhir periode dari sebelumnya di awal periode sebesar 0,38.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- 7 HP Midrange Serasa Flagship 2026: Spesifikasi Premium dan Performa Juara
- 5 HP Realme RAM 12 GB dan Kamera Jernih Paling Murah Mulai Rp2 Jutaan
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 4 Sepatu Nike Tanpa Tali Serbaguna: Nyaman untuk Olahraga, Praktis buat Jalan Santai
Pilihan
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
Terkini
-
Digeruduk Yakuza Mangenes, Pengasuh Ponpes Pekalongan Ditangkap usai Diduga Cabuli 25 Santri
-
Lansia Tewas Terbakar-Suami Kritis, Polisi Tangkap 9 Orang di Bengkalis
-
TNI AL Gagalkan Penyelundupan Puluhan Kontainer Mineral Ilegal di Batam
-
Tampil Elegan di Hari Raya, Koleksi Hijab Ini Angkat Kerinduan pada Keindahan Tanah Suci
-
Giliran Plt Gubri SF Hariyanto Rombak Habis Jajaran Dinas PUPR Riau
-
Takbiran Idul Adha Berapa Hari? Ini Perbedaannya dengan Takbir Idul Fitri
-
5 HP Midrange Kamera Terbaik 2026 yang Wajib Dilirik, Hasil Foto Setara Flagship!
-
30 Menit di Neraka Azteca: Semifinal Paling Gila yang Ubah Sejarah Piala Dunia
-
Iduladha 1447 H, Kemensos Salurkan 295 Ekor Hewan Kurban ke Berbagai Wilayah Indonesia
-
Bukan Cuma Pagar Canggih, Gang Haji Jeni Kini Punya 'Smart Geprek' Pengubah Sampah Jadi Cuan