Suara.com - Lebih dari sepertiga orang dewasa di Amerika Serikat mengonsumsi makanan cepat saji pada hari tertentu menurut laporan 2018 dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit. Di Indonesia, menjamurnya gerai makanan cepat saji juga turut mendorong orang untuk mengonsumsinya lebih sering.
Selama ini, kenaikan berat badan adalah salah satu efek buruk dari konsumsi makanan cepat saji yang kerap digaungkan. Namun efek kesehatan lainnya jarang dibicarakan. Selain tinggi kalori, makanan cepat saji umumnya rendah zat gizi. Kurangnya serat dalam makanan cepat saji membuat kita tak cepat kenyang sehingga cenderung mengonsumsinya dalam jumlah berlebihan.
"Tubuh Anda sementara penuh dengan makanan tanpa nutrisi, sehingga meski Anda telah mengonsumsi banyak kalori, Anda tidak akan kenyang dalam waktu lama," ujar Amy Shapiro, ahli gizi yang berbasis di New York.
Penelitian juga telah menghubungkan konsumsi makanan cepat saji yang sangat intens dengan peningkatan risiko kanker kolorektal, lambung, dan saluran pernapasan. Sementara faktor-faktor lain seperti merokok kurang olahraga memang disebut-sebut berkontribusi untuk ini, para peneliti meyakini bahwa pola makan memainkan peranan penting.
Proses penyajian makanan cepat saji seperti digoreng dalam suhu tinggi dapat menghasilkan bahan kimia yang berpotensi menyebabkan kanker. Anda juga berisiko terpapar phthalate, kelompok bahan kimia berbahaya yang digunakan dalam kemasan, sarung tangan, kotak pembungkus makanan cepat saji.
Sementara para peneliti masih memeriksa dampak pasti phthalate terhadap kesehatan, beragam penelitian menyebutkan bahwa tingkat phthalate yang tinggi terkait dengan risiko lebih tinggi masalah kesuburan dan beberapa komplikasi kehamilan.
Tahun lalu, sebuah studi dari Inggris mengungkapkan bagaimana diet olahan, tinggi lemak atau gula menyebabkan peradangan sistemik. Dr. Camille Lassale dari University College London mengatakan bahwa pola makan seperti ini dapat memicu depresi.
"Peradangan kronis dapat memengaruhi kesehatan mental dengan mengangkut molekul pro-inflamasi ke otak. Hal itu juga dapat mempengaruhi molekul neurotransmiter yang bertanggung jawab untuk pengaturan suasana hati," kata Dr. Lassale.
Selain lemak dan gula, makanan cepat saji juga mengandung kadar natrium atau garam yang lebih tinggi. Zat ini tidak hanya digunakan untuk meningkatkan rasa makanan tetapi juga sebagai pengawet untuk membantu memperpanjang umur simpan makanan cepat saji.
Baca Juga: Dapatkan Update Perdana, Ini Fitur Baru Speed Drifters
Konsumsi terlalu banyak garam, seperti yang Anda tahu, dapat meningkatkan risiko hipertensi. Beberapa orang bahkan mungkin mengalami berjerawat akibat konsumsi terlalu banyak makanan ini. Jadi masih mau makan makanan cepat saji di jam makan siang nanti?
Berita Terkait
Terpopuler
- Profil Norman Joesoef, Pengusaha Muda yang Disebut-sebut Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- 4 HP Murah Baterai 7000 mAh, Tahan hingga 2 Hari dengan Performa Kencang
- 6 HP Samsung Rp2 Jutaan Terbaik: Kamera Tajam, NFC hingga Koneksi 5G
- Rumah Lansia 82 Tahun Dieksekusi PN Jakbar Meski Masih Sengketa
Pilihan
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
Terkini
-
Bukan Hanya Populer, Seskab Teddy Salip Sejumlah Menteri Senior dalam Urusan Kinerja
-
Jejak Sang Maestro di Piala Presiden, Ketika Pemimpin Meletakkan Tongkat Estafet
-
Lahir dari DNA Meradelima, Kembang Goeyang Hadirkan Konsep Tempo Dulu di Sarinah
-
Mengenal Pendidikan Profesi Arsitek, Bekal Sebelum Terjun ke Dunia Praktik
-
IPEKA RUN 2026 Jadikan Olahraga sebagai Bagian dari Pengalaman Belajar Langsung
-
5 Conditioner untuk Rambut Kering, Bebas Kusut dan Lembut Berkilau
-
Deretan Mobil Keluarga dengan Kabin Lapang yang Melantai di GIIAS 2026
-
Kredit Macet Hantui Industri Pinjol
-
Lestarikan Kuliner Nusantara, Pertamina Bright Gas Cooking Competition Tegal Lahirkan Juara Baru
-
Gebrakan Bentor Nazaruddin: Misi 50 Kursi PRI dan Sinyal Barometer Lampung