Suara.com - Pernah membayangkan hiking atau naik gunung mengenakan kain batik dengan kebaya?
Bagi para pendaki perempuan, tentu saja mereka akan berpikir dua kali untuk melakukannya. Selain tidak nyaman, memakai kebaya bisa jadi tindakan membahayakan diri sendiri saat berada di alam.
Tapi tidak dengan Rahmi Hidayati (51), perempuan asal Riau ini sudah hampir 5 tahun memelihara kebiasaan unik ini karena rasa cintanya terhadap kain batik dan berupaya melestarikan untuk menarik minat anak muda.
Rahmi ingin membuktikan bahwa kebaya bisa dipakai kapan pun dan dimana pun, kendati itu di gunung sekalipun. Ia ingin membantah anggapan memakai kebaya adalah sesuatu yang rumit.
Tak main-main, beberapa gunung tertinggi Indonesia, seperti Gunung Semeru, Gunung Gede, Gunung Ceremai, Gunung Prau, dan Gunung Merbabu pernah ia jejaki dengan memakai kebaya dari titik awal pendakian hingga puncak. Ia tidak pernah mengeluh ribet atau bahkan mengganti baju.
Terinspirasi Wanita Berkebaya Ketat Naiki Gunung Rinjani
Rinjani dikenal sebagai salah satu puncak tertinggi di Indonesia dengan ketinggian 3726 meter di atas permukaan laut (mdpl), mengalahkan puncak Mahameru, gunung tertinggi di pulau Jawa.
Di perjalanan menuju puncak gunung yeng terletak di Pulau Lombok Nusa Tenggara Barat (NTB) itulah Rahmi tiba-tiba terpukau dengan penampilan sekelompok warga yang akan bersembahyang di puncak gunung, lengkap dengan pakaian adat, termasuk beberapa perempuan yang mengenakan kebaya putih ketat dan kain ketat, plus sepatut berhak yang biasanya dikenakan dalam acara pernikahan.
Di sana, ibu dua anak itu kemudian terdiam dan asik memerhatikan kelompok peribadatan itu. Ia pun kagum dan jatuh cinta dengan apa yang dikenakan perempuan itu. Dari sana, dicobanya lagi mengumpulkan aneka kebaya dan kainnya yang saat itu hanya beberapa. Rahmi kemudian memakainya sesekali untuk berkegiatan, sampai akhirnya kini kebaya jadi peneman aktivitas kesehariannya.
Baca Juga: Baru Sehari Dibuka, Sudah 500-an Pendaki Daftar Naik Gunung Slamet
Keseharian Memakai Kebaya
"Saya tidak memakai kebaya dan kain batik hanya pada saat mandi doang kayaknya," celoteh Rahmi saat berbicang dengan Suara.com beberapa hari lalu di Jakarta.
Begitupun saat berjumpa dengan Suara.com, mengenakan kebaya kutu baru berwarna biru telur asin dan kain batik berwarna orange, senyum Rahmi menyapa hangat setiap orang yang menjumpainya.
Dahulu memang ia akui jika ia tidak suka memakai kebaya dan kainnya, sehingga koleksinya hanya hitungan jari. Sekarang jangan ditanya, tiga lemari khusus ia andalkan untuk menyimpan kainnya berikut dengan kebaya. Bahkan ia sempat beberapa kali merasa aneh, kain dan kebayanya banyak yang meminta, tapi lemarinya tidak pernah 'lengang'.
"Pernah waktu itu acara 'Perempuan Berkebaya', sudah dikeluarin lebih dari 30 kain dan kebaya, tetap aja isinya masih penuh," tuturnya berkelakar.
Pantas saja itu terjadi, mengingat kemanapun ia pergi ke setiap daerah, ia selalu memboyong pulang kain khas di Indonesia yang belum pernah ia miliki, dengan warna corak yang berbeda tentunya.
Khatam Semua Jenis Kebaya Indonesia
Ketika asik berbincang di dalam mobil mungil miliknya, sembari menyetir Rahmi sempat mewanti-wanti bahwa setiap kebaya berbeda berdasarkan si pemakai dan dari mana seorang perempuan berasal, serta bagaimana asal mula kebaya itu tercipta.
"Kebaya sebenarnya bukanlah mempertontonkan aurat dengan corak yang transparan. Dulu itu perempuan Indonesia hanya memakai kemben sedada. Nah begitu masuk islam, bahu perempuan oleh pemuka agama diajarkan menutup bagian bahunya dengan kain, maka jadilah kebaya panjang hingga pergelangan tangan," terangnya panjang lebar.
Menurut Rahmi, kebaya brukat atau berenda dahulu biasa dikenakan para bangsawan atau orang Belanda, kebaya dengan kancing di depan itu khas turunan China atau kebaya encim. Sedangkan kebaya kutu baru khas pribumi.
"Kalau kebaya kalau menurut pakem itu kebaya bukaannya di depan (di bagian bawah leher), membentuk body gitu, membentuk ikuti pinggang, kiri kanan sama, simetris, itu cirinya kebaya," jelasnya.
Sementara untuk kebaya yang dikenakannya sehari-hari dan untuk naik gunung, Rahmi enggan terlalu mengikuti pakem, seperti mengenakan kain ketat, kebaya ketat badan, dan sepatu hak tinggi seperti di acara pernikahan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Motor yang Jadi Mimpi Buruk Mekanik, Montir Langsung Pura-Pura Sibuk
- 5 Sunscreen Lokal untuk Hempas Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harganya
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- realme C100i Jadi Andalan Anak Muda, Baterai Awet 6 Tahun dan Reverse Charging
- Akhir Dilema PCX vs Vario: Skutik Baru Honda Hadir Bawa Kamera Dashcam dan Mesin Lebih Buas
Pilihan
-
Prabowo Copot Dadan Hindayana, Nanik S Dayang Resmi Jadi Kepala BGN!
-
674 Korban Kebakaran Kemayoran Mengungsi, Posko Bantuan dan Layanan Kesehatan Disiagakan
-
Kebakaran Kemayoran: Ratusan KK Terdampak, Korban Dievakuasi ke RS Hermina
-
Atma Jaya Yogyakarta Temukan Empat Mahasiswa Terlibat Kasus Riset AI, Kampus Siapkan Sanksi
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
Terkini
-
Pelajaran dari Jose Ramos-Horta: Rekonsiliasi Lebih Kuat daripada Balas Dendam
-
Apa Zodiak Paling Imut? Ternyata Ini Jawaban dan Alasannya!
-
3 Sabun Cuci Muka yang Lolos Penilaian Dokter, Bantu Bersihkan Wajah Tanpa Bikin Ketarik
-
Sunscreen yang Bagus itu Merk Apa? Ini 5 Pilihan 'Holy Grail' Menurut Review
-
Kekayaan Ruben Onsu yang Setop Nafkahi Sarwendah selama 6 Bulan
-
4 Trik Feng Shui Sederhana di Kamar Tidur yang Bisa Lancarkan Rezeki dan Karier
-
4 Sunscreen SPF Tinggi yang Direkomendasikan Dokter untuk Cuaca Panas Menyengat
-
Apakah Air Mawar Bisa Bikin Wajah Glowing? Ini 4 Produk Mulai Rp8 Ribuan yang Ramai Diburu
-
Sendalu Permaculture, Jembatan Warga Urban Menuju Hidup yang Lebih Sadar
-
4 Ciri Pelaku Love Scamming Seperti Kasus Fabiola Elizabeth Agnes