Lifestyle / komunitas
Vania Rossa | Dini Afrianti Efendi
Ilustrasi screen time anak. (Pixabay)

Suara.com - Selama pandemi, anak mengalami perubahan cara belajar, di mana pembelajaran tatap muka digantikan dengn belajar online. Tapi sayangnya, karena metode belajar online kerap menjemukan, proses belajar berisiko jadi tidak optimal, yang ujungnya malah membuat durasi screen time jadi lebih lama.

Itulah sebabnya, menurut Psikolog Klinis Anak, Putu Andani, sangat penting untuk menciptakan keterikatan metode belajar untuk memotivasi anak.

"Menciptakan suasana belajar yang engage dan memotivasi anak merupakan tantangan besar bagi pendidik,” ujar Putu dalam acara peluncuran sekolah virtual StoryLand, Sabtu, (28/8/2021).

Putu menjelaskan bahwa cara terbaik untuk menambah motivasi dan mempermudah anak agar lebih mudah paham pelajaran adalah dengan cara gamifikasi. Hal ini, kata Putu sudah dibuktikan dalam penelitian.

Baca Juga: Beri Sinyal Izinkan Belajar Tatap Muka, Pemprov Tekankan Khusus Zona 1-3

Gamifikasi adalah berupa alat yang bisa mempengaruhi pelajar membaca dan memahami lebih dalam. Salah satu gamifikasi bisa hadir dalam bentuk game, yang di dalamnya mengandung pelajaran atau ilmu pengetahuan.

Sebagai contoh, game pada umumnya memberikan misi kepada para pemain untuk mencapai kenaikan level. Mekanisme ini akan memotivasi anak untuk meningkatkan skill mereka demi mencapai level tertentu.

“Serupa dengan itu, saya rasa akan sangat menarik apabila aktivitas belajar online bisa menawarkan pengalaman belajar sekaligus bersosialisasi. Terutama saat pandemi seperti sekarang, interaksi sosial kita sudah jauh menurun,” jelas Putu.

Ia juga mengingatkan pentingnya memilih aktivitas online dengan tepat agar waktu screen time anak bisa optimal. Membatasi screen time bukan berarti sekadar membatasi waktu dan membebaskan konten.

Sehingga apabila ingin membatasi screen time, maka orangtua harus memilih aktivitas online yang menarik, memotivasi, dan melibatkan anak berperan aktif, bukan sekadar menjadi penonton konten secara pasif.

Baca Juga: Intruksi Pelaksanaan Belajar Tatap Muka di Batam Membingungkan

“Saya rasa, jika ada platform yang memungkinkan hal tersebut, orangtua bisa mencoba dan mengeksplorasi, lalu melihat dampaknya pada anak,” pungkas Putu.

Komentar