4. Fort Rotterdam, Makassar
Terletak di depan pelabuhan Kota Makassar, Fort Rotterdam pada masa lampau merupakan benteng pertahanan yang dibangun oleh Kerajaan Gowa-Tallo pada tahun 1545 dan jatuh ke tangan Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) sekitar tahun 1667. Benteng yang sebelumnya disebut sebagai Benteng Ujung Pandang ini sempat dihancurkan oleh pihak VOC saat penyerbuan. VOC kemudian membangun kembali benteng tersebut dengan arsitektur khas kolonial Belanda dan mengubah namanya menjadi Fort Rotterdam. Sejak saat itu, Fort Rotterdam menjadi pusat kekuasaan kolonial Belanda di Sulawesi.
Sepanjang sejarah Indonesia, benteng ini pernah memiliki beragam fungsi seiring keadaan. Misalnya, pada saat jatuh ke tangan Belanda, Fort Rotterdam menjadi markas komando pertahanan, kantor pusat perdagangan, dan kediaman pejabat pemerintahan tingkat pusat. Sedangkan pada masa penjajahan Jepang, tempat ini pernah menjadi kamp tawanan perang pada era Perang Dunia II.
Sejak 1970-an, benteng ini dipugar dan telah diubah fungsinya menjadi pusat budaya, pendidikan, tempat acara musik dan tari, serta tujuan wisata bersejarah. Bahkan di kawasan ini, kamu bisa mampir ke Museum Provinsi Sulawesi Selatan bernama La Galigo, yang memamerkan beragam benda bersejarah, manuskrip, patung, keramik, dan pakaian masa lampau.
5. Kota Lama, Semarang
Kota Lama Semarang dulunya merupakan salah satu kawasan pusat pemerintahan dan perdagangan pada abad 19 dan 20. Ada sekitar 50 bangunan bersejarah yang masih berdiri kokoh. Menelusuri kawasan ini dengan berjalan kaki akan terasa mengasyikkan. Kamu akan disuguhkan dengan beragam bangunan berarsitektur khas Eropa khas tahun 1700-an dengan pintu utama, jendela berukuran besar, elemen dekoratif, dan langit-langit yang tinggi.
Di sekitar kawasan ini, kamu bisa melihat bangunan yang masih sangat kental dengan nuansa tempo dulu. Seperti Stasiun Semarang Tawang, Nilmij, Marba, Taman Srigunting, hingga salah satu gereja tertua di Jawa Tengah, Gereja Blenduk.
6. Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh
Masjid yang dibangun oleh Sultan Iskandar Muda pada tahun 1612 ini merupakan simbol agama, budaya, dan perjuangan masyarakat setempat. Sepanjang sejarah Indonesia, Masjid Raya Baiturrahman pernah memiliki banyak fungsi. Selain digunakan sebagai tempat kegiatan keagamaan, masjid ini pernah menjadi tempat menyiarkan agama Islam. Dahulu kala, selain warga setempat, cukup banyak para pendatang dari Melayu, Persia, Arab hingga Turki yang datang untuk menuntut ilmu di masjid ini.
Baca Juga: 7 Rekomendasi Wisata Jepara, Cocok untuk Healing
Selama masa penjajahan, Masjid Raya Baiturrahman juga pernah berfungsi sebagai markas pertahanan terhadap serangan musuh pada masa kepemimpinan Sultan Alaidin Mahmud Syah. Saat terjadi tsunami 2004 pun, masjid ini menjadi tempat penampungan sementara bagi para pengungsi.
Kini, Masjid Raya Baiturrahman telah menjadi salah satu destinasi wisata sejarah dan religi ikonik di Aceh. Kamu akan merasakan kemegahan masjid ini sebagai salah satu pusat peradaban Islam. Kemegahan itu terasa lantaran gaya bangunannya menggunakan arsitektur Mughal, yang ditandai dengan menara dan kubah besar, tiga pintu besar dari kayu dan dihiasi banyak ornamen serta interior –dinding dan pilar berelief, tangga marmer, dan lantai– dari Cina, hingga kaca patri dari Belgia.
7. Taman Sari, Yogyakarta
Hanya dengan tiket masuk seharga Rp5.000, kamu sudah bisa memasuki Taman Sari Yogyakarta, yaitu tempat rekreasi dan peristirahatan Sultan Hamengku Buwono I, permaisuri, anak-anak, dan kerabatnya. Kamu bisa melihat jejak-jejak kawasan ini yang dulunya terdiri dari kolam pemandian, tempat ganti pakaian, taman-taman, ruangan untuk menari, dan lainnya.
Selain itu, Taman Sari juga sempat menjadi lokasi pertahanan. Sebab, kawasan ini memiliki lorong-lorong bawah tanah, dapur, jembatan gantung, dan berbagai bangunan lainnya.
Jika kamu ingin kembali menelusuri sejarah masa lalu kawasan ini, kamu bisa memanfaatkan jasa pemandu wisata dengan tarif Rp50.000 per orang. Selain menemani menjelajahi seluruh kawasan, pemandu juga akan menjelaskan konteks sejarah serta kegunaan bagian bangunan lainnya di Taman Sari sewaktu masih berfungsi.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Pilihan HP Flagship Paling Murah, Spek Sultan Harga Teman
- 5 HP 5G Terbaru RAM 12 GB, Spek Kencang untuk Budget Rp3 Juta
- 5 Pilihan Sepatu Lari Hoka Murah di Sports Station, Harga Diskon 50 Persen
- 5 Parfum Aroma Segar Buat Pesepeda, Anti Bau Badan Meski Gowes Seharian
- 5 Sepeda Listrik Jarak Tempuh Terjauh, Tahan Air dan Aman Melintasi Gerimis
Pilihan
-
Korban Kecelakaan KRL Vs KA Argo Bromo Bertambah, AHY: 15 Jiwa Meninggal dan 88 Orang Luka-Luka
-
'Kakak Saya Belum Bisa Dihubungi', Pilu Keluarga Cari Korban Kecelakaan KRL di Bekasi Lewat Medsos
-
Perjalanan Terakhir Nuryati, Korban Tragedi KRL Bekasi Timur yang Ingin Menengok Cucu
-
9 Fakta Kecelakaan Kereta di Stasiun Bekasi Timur, Gerbong Wanita Jadi Titik Terparah
-
Cerita Pasutri Selamat dari Kecelakaan Maut Kereta di Bekasi: Terpental hingga Pingsan
Terkini
-
10 Tanda Anak Menjadi Korban Kekerasan Seksual, Jangan Sepelekan Perubahan Fisik dan Perilaku Ini
-
Bukan di Depan atau Belakang, Ini Bagian Gerbong Kereta yang Paling 'Aman' Jika Terjadi Kecelakaan
-
Dituding Jadi Penyebab Kecelakaan KRL di Bekasi Timur, Gaji Driver Green SM Hampir Rp10 Juta?
-
4 Parfum untuk Anak Sekolah yang Wangi Tahan Lama dan Murah di Minimarket
-
Prabowo Hadiri Resepsi El Rumi, Bisakah Orang Biasa Undang Presiden ke Pernikahan?
-
Mengenal Istilah Black Cat Energy dalam Dinamika Percintaan Modern, Beda dengan Cuek
-
Cara Cek Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
-
Body Butter atau Body Lotion Dulu? Ini 4 Rekomendasi untuk Kunci Kelembapan
-
Tumpukan Limbah Usai Kampanye: Bagaimana GUDRND Memberi Hidup Baru pada Sampah Kampanye?
-
Kecelakaan di Malam Hari, KRL Jabodetabek Beroperasi Jam Berapa?