Suara.com - Usai kasus KDRT, Rizky Billar mengaku berhasil mewujudkan impian Lesti Kejora, yaitu membeli tanah di Jakarta Selatan. Bahkan ia juga menyinggung istilah riba saat memboyong sebuah sertifikat tanah. Tapi, apa sih bahaya riba menurut islam.
Istilah riba yang disingguh bapak satu anak ini, karena ia membeli tanah seluas 1,3 hektar atau 1.300 meter itu langsung cash tanpa mencicil dan dikenakan bunga, sehingga ia mengklaim membelinya tanpa riba.
"Alhamdulillah baru selesai balik nama, senang rasanya bisa satu persatu mewujudkan mimpi istri termasuk punya tanah 1300m di Jakarta Selatan (alhamdulillah TIDAK RIBA)," ujar @rizkybillar melalui unggahan yang dilihat suara.com, Selasa (24/1/2023).
Tidak hanya itu, ayah Baby Leslar juga mengatakan ia sedikit kaget dengan pencapaiannya itu. Billar juga menyampaikan kalimat satir, tentang anggapan ia numpang hidup di 'ketiak' istrinya.
"Walaupun kalau dipikir-pikir nggak nyangka juga sebenarnya karna gw hanya bermodal numpang hidup sama Lesty Kejora, eh ternyata gw bisa beliin istri ini itu ini itu. Padahal baru numpang hidup belum sampai 2 tahun, tahu gitu dari dulu gw numpang hidup ama Lesti," tambah Billar.
Sementara itu mengutip NU Online, istilah riba dijelaskan dalam alquran surat Al-Baqarah ayat 275, dan dalam tafsirkan oleh Abu Ja’far at-Thabari, riba adalah ketika melebihi dari apa yang seharusnya ada dan semakin besar.
Sehingga inti dari ribu adalah berarti tambahan, dan orang yang mengambil riba disebut dengan murbin.
Murbin yaitu pihak yang mengambil riba, yang usahanya melipatgandakan harga kepada pihak yang berhutang, baik secara kontan atau tunai, maupun berhutang dengan tempo (kredit).
Larangan riba juga dijelaskan dalam surat Ali Imran ayat 130, lantaran dulu pada zaman jahiliyah yaitu di zaman Nabi Muhammad, saat seseorang hendak meminjam uang ke orang lain, 'jika kamu pinjam dengan tempo segini, maka harus mengembalikan segini'.
Baca Juga: Akui Numpang Hidup ke Lesti Kejora dan Pamer Harta, Rizky Billar: Padahal Belum Sampe 2 Tahun
Maksud dari ayat adalah bahwa jual beli dengan tempo itu boleh-boleh saja dan halal. Yang tidak halal adalah apabila terjadi penundaan, kemudian dilakukan adanya penambahan harta sebagai konsekuensi dari penundaan tersebut.
Kedudukan orang menyamakan keuntungan jual beli dengan kompensasi denda pelunasan, atau menyamakan jual beli dengan riba, sama dengan orang yang kelak akan dibangkitkan dari kubur dalam kondisi gila, yang juga sudah dijelaskan dalam surat Al Baqarah ayat 275.
Berita Terkait
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Empuk untuk Jogging hingga Long Run Sesuai Review Pembeli
- Pemain Timnas Terlibat? 3 Kejanggalan Dugaan Pengaturan Skor Piala AFF 2026
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- 4 Shio yang Diprediksi Nasibnya Makin Baik pada 15 Agustus 2026, Siapa Saja?
Pilihan
-
Prabowo Salah! Upah Susanah Bukan Rp 700 Ribu Tapi Rp 700 Perak per Kilogram
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
-
Info Terbaru Gempa NTT: 15 Warga Manggarai Tewas, 280 Bangunan Jadi Puing
-
5 Bandara Rusak Diguncang Gempa NTT, Landasan Pacu Sampai Retak
Terkini
-
5 Sepeda Lipat United Termurah yang Nyaman dan Praktis untuk Jangka Panjang
-
Pilot Malaysia Airlines Selundupkan Ekstasi ke Jakarta Tanpa Bantuan Orang Dalam Bandara
-
Sari Yuliati Tinjau Langsung Lokasi Gempa NTT, DPR Pastikan Penanganan Korban Berjalan Cepat
-
Tamansiswa Onthel Mardika, Mengulang Jejak Pawai Kemerdekaan Pertama Ki Hadjar Dewantara
-
Prabowo Sebut Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu per Kg, Emak-emak Bogor Tertawa: Sini Cuma Rp1.200
-
Momen Bendera Pusaka Diarak dari Monas ke Istana Merdeka
-
Detik-detik Sopir Truk Sumbu Pendek Hancurkan Kaca Bus Restu Panda di Madiun
-
Ketika Banyak WNI Berobat ke Penang, Apa yang Perlu Kita Benahi?
-
Prabowo Salah! Upah Susanah Bukan Rp 700 Ribu Tapi Rp 700 Perak per Kilogram
-
Walkot Tangsel Naik Tank Saat HUT RI Kena Semprot Netizen: Jalan Benerin, Bukan Dadah-Dadah