Suara.com - Kekerasan dalam rumah tangga atau KDRT masih mendominasi laporan kekerasan yang masuk ke Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) selama 2023. Mayoritas korban juga massih didominasi oleh perempuan.
Laporan tersebut dikumpulkan dari Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA) di seluruh Indonesia juga yang masuk dalam call center Sapa 129.
"Memang kasus terbesar 73 persen adalah, kalau untuk perempuan, kasusnya KDRT dengan jenis kekerasannya fisik. Kalau anak adalah kekerasan seksual. Hanya jumlahnya, karena updating terus, tapi kalau melihat dari jumlahnya masih KDRT (terbanyak)," ungkap Deputi Bidang Perlindungan Hak Perempuan Ratna Susianawati ditemui di Jakarta, Sabtu (9/12/2023).
KDRT yang terjadi pada lingkup rumah tangga itu terjadi pada segala usia, mulai dari pengantin baru hingga pasangan suami istri yang telah lama menikah. Meski begitu, penyebab utama dari tindakan kekerasan tersebut rata-rata karena masalah ekonomi.
"KDRT itu terjadi karena faktor ekonomi yang dominan, ketidaksiapan pasangan untuk menikah, itu sering kali masih jadi tantangan terbesar. Sehingga persoalan ekonomi sering jadi alasan utama terjadi KDRT," imbuh Ratna.
Dibalik meningkatnya kasus KDRT dibandingkan tahun sebelumnya, Ratna melihat adanya hal positif. Yakni, banyaknya laporan itu bisa jadi pertanda kalau masyarakat mulai sadar dan peduli kalau kasus kekerasan bisa dilaporkan kepada pemerintah sekalipun itu terjadi di dalam rumah tangga sendiri.
"Kita tidak melihat, kalau kasus banyak kemudian dilaporkan ini adalah tren peningkatan, tidak. Justru ini ada upaya yang positif, yang baik dari masyarakat bahwa kesadaran mereka untuk melaporkan kasus KDRT ini," ujarnya.
Diakui Ratna bahwa tantangan dalam menangani kasus KDRT memang rasa enggan dari korban untuk melaporkan tindak kejahatan tersebut.
Hal ini lantaran masih ada anggapan bahwa kekerasa itu bisa menjadi aib bagi keluarga, terutama bila kekerasan terjadi dalam lingkup rumah tangga.
"Tapi masyarakat sudah mulai aware, mulai paham, yakin nanti ada jaminan perlindungannya sudah diperikan oleh pemerintah. Itu membuka kesadaran kepada mereka untuk mulai berani bicara. Selanjutnya ini jadi kisah inspiratif untuk mendorong korban-korban lain untuk berani," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Cushion Terbaik dan Tahan Lama untuk Kondangan, Makeup Flawless Seharian
- 5 Sepeda Lipat Murah Kuat Angkut Beban hingga 100 Kg: Anti Ringkih dan Praktis
- 5 Body Lotion untuk Memutihkan Kulit, Harga di Bawah Rp30 Ribu
- 5 HP Infinix Kamera Bagus dan RAM Besar, Harga Mulai Rp1 Jutaan
- 5 HP Samsung Kamera Bagus dan RAM Besar, Pas buat Multitasking
Pilihan
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
-
Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap
-
JK Dilaporkan ke Polisi, Juru Bicara Jelaskan Konteks Ceramah
-
AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
Terkini
-
3 Cara Cari Promo Indomaret Terbaru agar Belanja Bulanan Makin Hemat
-
Kamar Kos Gerah? Ini 7 Rekomendasi AC Portable Hemat Listrik, Dinginnya Bikin Betah!
-
Daftar Harga Mesin Cuci 1 Tabung Samsung Bukaan Atas untuk Ibu Rumah Tangga Modern
-
5 Sepeda Lipat yang Kuat dan Aman untuk Orang Gemuk, Mampu Tahan Beban hingga 100 Kg
-
6 Sepeda Lipat Mirip Brompton: Jauh Lebih Murah, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
5 Pilihan Sepatu Louis Vuitton Original, Mewah Berkelas Mirip Sitaan Bupati Tulungagung
-
7 Rekomendasi Merk Mesin Cuci Langsung Kering, Tanpa Jemur dan Setrika
-
Tak Sekadar Bank Sampah, Ini Kisah Kertabumi Beri Nyawa Kedua pada Limbah
-
Awal 2026 yang Kelam, Ini Deretan Kepala Daerah dan Pejabat yang Terjaring OTT KPK
-
7 Sepeda Lipat Harga Rp500 Ribuan, Rangka Kokoh Kuat Angkat Beban Ratusan Kg