Suara.com - Ketupat dibuat dalam wadah anyaman tradisional yang terbuat dari daun palem, kelapa, atau pandan. Saat hari raya Idul Fitri, kebanyakan orang akan menyajikan ketupat karena makanan tersebut memiliki filosofi makna yang terkait erat dengan momen hari raya Idul Fitri. Akan tetapi, siapa pencipta ketupat? Pernahkah kamu mengetahuinya?
Ketupat dikenal sebagai kue beras Asia yang unik bagi orang luar negeri. Ketupat dapat ditemukan di banyak negara Asia, tetapi asalnya biasanya dikaitkan dengan pulau Jawa di Indonesia. Ketupat sangat penting selama hari raya Idul Fitri di komunitas Muslim.
Ketupat memiliki peranan simbolisme agama yang kuat, di mana daun yang ditenun dengan rumit mewakili kesalahan yang disebabkan oleh sifat manusia, dan nasi putih di dalamnya berarti kepolosan, kemurnian, dan pembebasan akhir dosa.
Setelah direbus, ketupat disajikan dengan berbagai lauk pauk, umumnya ada opor ayam. Kemudian makanan tersebut disajikan kepada seluruh anggota keluarga dan tamu yang datang ke rumah. Ini menyimbolkan pemilik rumah memohon maaf kepada seluruh anggota keluarga dan juga kepada tamu. Sehingga jika mereka sama-sama saling menikmati sajian ketupat, mereka telah saling maaf memaafkan.
Sejarah ketupat
Tidak ada yang tahu pasti siapa pencipta ketupat, tetapi jika ditelurusi dalam sejarahnya, masyarakat Jawa menyebut Sunan Kalijaga sebagai sosok yang pertama kali memperkenalkan ketupat. Sunan Kalijaga menggunakan ketupat sebagai alat berdakwah agama Islam di tanah Jawa. Dengan filosofi makna ketupat yang diperkenalkan kepada masyarakat Jawa yang pada masa itu sulit di Islamkan, ajaran agama Islam menjadi lebih mudah diterima oleh masyarakat jawa dengan filosofi ketupat ini pada masanya.
Pada masanya, masyarakat Jawa sudah memiliki sistem kepercayaan tersendiri sehingga sulit untuk menerima kepercayaan Islam. Pada saat itu, Jawa kental dengan kejawen. Dengan ajaran tersebut, masyarakat Jawa percaya bahwa mereka hidup dalam jagad alit dan juga jagad gede.
Jagad alit adalah kehidupan pribadi, sedangkan jagad gede adalah kehidupan semesta raya. Seluruh umat manusia sebenarnya saling terhubung dan karenanya harus saling hormat menghormati. Islam hadir ketika ajaran tersebut sudah mengakar di tengah-tengah masyarakat yang menggunakan simbol-simbol kuat untuk membicarakan kekuasaan sang Maha Pencipta dan kehadiran sang Maha Pencipta di tengah-tengah masyarakat Jawa. Maka, agar agama Islam diterima oleh masyarakat Jawa yang juga dikenal sebagai masyarakat simbol, Sunan Kalijaga melakukan pendekatan budaya, salah satunya ialah menggunakan ketupat.
Sosok Sunan Kalijaga
Sunan Kalijaga merupakan salah satu wali songo yang menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. Ia berasal dari Tuban. Sebelum bergelar Sunan Kalijaga, ia merupakan seorang pangeran dengan nama Raden Said. Selain itu ia juga memiliki beberapa nama seperti Lokajaya, Syaikh Malaya, Pangeran Tuban, Ki Dalang Sida Brangti, dan Raden Abdurrahman.
Putra Bupati Tuban bernama Tumenggung Wilatikta ini lahir sekitar tahun 1450 M. Sebelum menjadi wali, ia menjadi seorang begal yang dijuluki Brandal Lokajaya. Ketika berjumpa dengan Sunan Bonang, Brandal Lokajaya ini tertarik dengan Islam dan diangkat murid oleh Sunan Bonang.
Baca Juga: Bacaan Takbir Sholat Idul Fitri yang Benar dan Tata Caranya Lengkap!
Namun proses pengangkatan Brandal Lokajaya menjadi murid tidak terjadi seperti anak sekolahan. Sunan Bonang menyuruh Raden Said menjaga tongkat Sunan Bonang yang ditancapkan di tepi sungai. Sebenarnya SUnan Bonang menguji tekad Raden Said, tetapi ternyata Raden Said justru menyanggupinya. Sunan Bonang lalu menjulukinya Sunan Kalijaga. Sejak itulah Raden Said menggunakan nama Sunan Kalijaga dalam melaksanakan dakwah.
Sunan Kalijaga berdakwah islam dengan pendekatan budaya. Karenanya ia menjadi satu-satunya wali di Pulau Jawa yang memahami segala pergerakan, budaya, aliran, dan kepercayaan hidup masyarakat Jawa.
Filosofi makna ketupat
Sunan Kalijaga memperkenalkan filosofi makna ketupat dengan menguraikan mulai dari bahan dan nasinya. Bahan ketupat yang terbuat dari anyamanan daun kelapa atau dalam bahasa jawa disebut janur. Janur ini oleh Sunan Kalijaga menjadi akronim dari Jatining Nur yang artinya hati nurani. Sedangkan beras yang menjadi isi dari janur tersebut sebagai simbol nafsu duniawi yang tak terhitung jumlahnya.
Bentuk ketupat adalah anyaman janur berbentuk segi empat. Hal ini juga memiliki penjelasan tersendiri. Uraiannya sebagai berikut.
1. Bahan kulitnya dari janur
Melambangkan jatining nur atau hati nurani yang dapat merasakan hal-hal buruk dan hal-hal baik, serta dapat mengedepankan persatuan dan kesatuan sehingga mudah memaafkan kesalahan orang lain. Dalam filosofi jawa dikenal istilah sejatinya tidak ada orang yang benar maupun salah, yang ada adalah orang yang belum mengerti. Sehingga memaafkan kesalahan orang lain yang belum mengerti adalah tindakan yang sebaiknya dilakukan agar kita semua kembali dapat hidup rukun.
2. Beras yang menjadi isi ketupat
Melambangkan nafsu dunia yang tidak ada habisnya, jumlahnya bisa tak terbatas. Hal ini harus dibatasi dengan kesadaran penuh dan dengan bantuan Yang Maha Kuasa kita dapat menghindari dosa-dosa dengan mendepankan hati nurani yang bersih. Karenanya beras dibungkus dalam ketupat terbuat dari anyaman janur dan berbentuk persegi empat.
Berita Terkait
Terpopuler
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
- Penyebab BRImo Sempat Terkendala Pagi Ini, Kini Layanan Pulih Sepenuhnya
- 6 Smartwatch di Bawah Rp1 Juta, Fitur Premium untuk Aktivitas Sehari-hari
- Kata Anak Pinkan Mambo Usai Tahu Sang Ibu Ngamen di Jalan: Downgrade Semenjak Nikah Sama Suaminya
- Aksi Ngamen di Jalan Viral, Pinkan Mambo Ngaku Bertarif Fantastis Setara BLACKPINK
Pilihan
-
Akses Jalan Diblokir, Warga Kepung Pesantren Darul Istiqamah Maros
-
Brady Ebert Bekas Gitaris Turnstile Ditangkap Terkait Kasus Percobaan Pembunuhan
-
Tak Ganggu Umat Muslim, Pihak Yayasan Pastikan Rumah Doa Jemaat POUK Tesalonika Jauh dari Masjid
-
Diperiksa Kasus Penggelapan Rp2,4 Triliun, Apa Peran Dude Harlino dan Istri di PT DSI?
-
Diguncang Gempa M 7,6, Plafon Gereja Paroki Rumengkor Ambruk Jelang Ibadah Kamis Putih
Terkini
-
5 Kebijakan WFH Paling Nyeleneh di Dunia Imbas Perang, Indonesia Tak Ada Apa-apanya
-
Rahasia Memilih Sepatu Lari yang Tepat, Terungkap dari Inovasi SOLAR 2.0 Ortuseight Running
-
7 Daftar Model Kebaya Terbaru, Cocok Dipakai di Hari Kartini 21 April
-
5 Parfum Wanita Lokal yang Disukai Pria, Wangi Tahan Lama dan Menggoda
-
7 Parfum Wanita Wangi Lembut dan Segar Tahan Lama, Tersedia di Indomaret dan Alfamart
-
Royalti Tak Pasti di Era Streaming: Masalah Klasik Musisi yang Disorot KreasiPro
-
5 Parfum Wanita yang Tercium dari Jarak Jauh, Harga Ramah di Kantong
-
5 Shio Paling Beruntung Selama Akhir Pekan 4-5 April 2026, Kamu Termasuk?
-
Moscow Fashion Week 2026: Perpaduan Tradisi, Desainer Muda, dan Tren Sustainable yang Mendunia
-
5 Pilihan Shade Bedak OMG Coverlast Two Way Cake, Tahan Minyak 8 Jam dan Hasil Flawless