Suara.com - Menjadi pejuang lingkungan memang tidak mudah, seperti yang dialami Founder Sukla, Olivia Padang saat mengerjakan proyek pengelolaan sampah terpadu di Besakih, Bali.
Jatuh bangun Olivia untuk mengelola sampah di daerah yang terkenal sebagai surga pariwisata Indonesia itu perlu 'biaya sekolah' yang mahal. Pasalnya di 2019, saat mengawali usahanya mengelola sampah di Pulau Dewata harus dimulai dari 'titik nol', karena di Bali tidak ada satupun industri pengelolaan sampah.
Bahkan Olivia bercerita, jika mengumpulkan sampah plastik di Bali untuk mendaur ulang atau mengelolanya, maka para praktisi dan pejuang lingkungan seperti dirinya harus membawa sampah tersebut ke Pulau Jawa.
"Di awal berpikir pejuang lingkungan gampang, kumpulin plastik, jual plastik, jadi. Tapi enggak, Bali itu daerah yang tidak punya industri sampah. Ternyata cost (biaya) yang pengumpulan ini begitu banyak, karena kita harus kirim mau nggak mau ke Jawa," ujar Olivia dalam acara GoTo Impact Foundation atau GIF Innovation Day 2024 di Jakarta, Selasa, 1 Oktober 2024.
Perempuan yang terpilih sebagai konsorsium Catalyst Changemakers Ecosystem (CCE) 2.0 ini juga bercerita awal mula ia juga dihadapkan pada mahalnya biaya penanganan sampah. Sehingga ia harus belajar bukan hanya menjadi pejuang lingkungan, tetapi juga praktisi.
"Jadi mau nggak mau di awal belajar itu, saya edukasi dulu, kemudian lakukan penjemputan sampah plastik, ternyata bensinnya lebih mahal," papar perempuan yang berhasil dibuat gemas dengan berbagai tumpukan sampah di Bali, khususnya dekat dengan kawasan Pura Besakih.
Tidak hanya itu, pengelolaan sampah di Bali juga sempat dihadapkan pada stigma masayarakat setempat. Ini dibuktikan dari cerita Olivia yang kerap mendapat tantangan dari warga sekitar, yang terbiasa puluhan tahun membuang sampah ke sebuah jurang di kawasan Besakih, Bali.
"Jadi aku pernah ketemu sama ibu-ibu, dia bilang sudah 20 tahun buang sampah di jurang yang katanya sakral, karena nggak pernah penuh, dan sampahnya selalu hilang," papar Olivia.
Selain stigma, tantangan yang dihadapi Olivia juga tidak mudah karena sulitnya menemukan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas mengelola sampah. Apalagi pengelolaan sampah plastik dalam memilahnya untuk bisa diterima pabrik, terdiri dari 5 jenis sampah botol plastik yang harus mahir dan cermat untuk memisahkan dari sampah yang ada.
Baca Juga: Dikenal Sebagai Negara Terbersih, Jepang Kenalkan Kompetisi Supogomi di Indonesia: Apa Itu?
"Balik lagi, oh untuk jadi material daur ulang sampah itu nggak gampang. Contohnya, kita cuma ngomong PET aja botol, di pabrik itu jenisnya ada 5. PET warna, PET bening, PET PM, PET KW dan segala macam, dan setiap proses itu ada cost," timpal Olivia.
Adapun Olivia melalui Sukla, telah berjuang selama sembilan bulan dan berhasil mengelola sampah di Bali sebanyak 14 ton, dengan cara edukasi door to door, membuat bank sampah, penjualan produk hijau hingga produk hasil olahan seperti RDF (Refuse-Derived Fuel) dan material daur ulang.
Di sisi lain, Ketua GoTo Impact Foundation, Monica Oudang mengatakan karena Indonesia membutuhkan banyak orang seperti Olivia, itu juga yang jadi alasan GIF Innovation Day digelar setiap tahunnya. Acara ini ditujuakn untuk mengajak para pemangku kepentingan untuk meninjau ulang inovasi yang benar-benar dibutuhkan di tanah air, khususnya mendukung inovasi lokal buatan karya anak bangsa.
“Ketika kami berkolaborasi dengan para changemakers dan melihat langsung permasalahan di masyarakat, kami melihat kebutuhan mendesak untuk menanamkan budaya inovasi di individu pembawa perubahan, dengan mengintegrasikan teknologi dan kearifan lokal melalui kolaborasi multisektor, memastikan bahwa solusi yang diimplementasikan tepat sasaran dan berkelanjutan,” ungkap Monica.
Apalagi Monica sangat yakin, inovasi atau hasil karya anak bangsa bisa lebih tepat sasaran menyelesaikan masalah sosial yang ada. Hal ini juga sejalan dengan Hasil riset ini juga mendukung Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2025-2029 oleh Pemerintah Indonesia, yang menekankan pentingnya pembangunan inklusif dan ramah lingkungan dalam mewujudkan visi Indonesia Emas.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP RAM 8 GB Harga di Bawah Rp1,5 Juta: Kamera Bagus, Performa Juara
- 28 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 10 Januari 2026, Ada 15.000 Gems dan Pemain 111-115
- Link Gratis Baca Buku Broken Strings, Memoar Pilu Aurelie Moeremans yang Viral
- 4 Mobil Bekas Rp50 Jutaan yang Ideal untuk Harian: Irit, Gesit Pas di Gang Sempit
- 5 Cat Rambut untuk Menutupi Uban: Hasil Natural, Penampilan Lebih Muda
Pilihan
-
Gurita Bisnis Adik Prabowo, Kini Kuasai Blok Gas di Natuna
-
Klaim "Anti Banjir" PIK2 Jebol, Saham PANI Milik Aguan Langsung Anjlok Hampir 6 Persen
-
Profil Beckham Putra, King Etam Perobek Gawang Persija di Stadion GBLA
-
4 HP Snapdragon RAM 8 GB Paling Murah untuk Gaming, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terancam Tembus Rp17.000
Terkini
-
7 Rekomendasi Sampo Non SLS di Alfamart agar Rambut Halus Berkilau
-
Biodata dan Agama DJ Patricia Schuldtz yang Resmi Jadi Menantu Tommy Soeharto
-
4 Sepatu Lari Hoka Selain Clifton yang Nyaman dan Responsif untuk Berbagai Kebutuhan
-
Kekayaan Tommy Soeharto dan Tata Cahyani, Kompak Nikahkan Darma Mangkuluhur
-
50 Kata Mutiara untuk Anak yang Menenangkan Hati dan Memotivasi
-
7 Conditioner di Indomaret untuk Rambut Kering dan Mengembang
-
Siapa Istri Roby Tremonti Sekarang? Isu Grooming Seret Nama Sang Aktor
-
Biodata dan Agama Roby Tremonti yang Terseret Isu Child Grooming di Buku Aurelie Moeremans
-
Kronologi Pernikahan Aurelie Moeremans dan Roby Tremonti Tak Direstui Orang Tua
-
8 Moisturizer Gel yang Tidak Bikin Kulit Kusam dan Ampuh Mengunci Kelembapan