Lifestyle / Komunitas
Selasa, 14 Oktober 2025 | 18:46 WIB
Pondok Pesantren Lirboyo. [lirboyo.net]

Suara.com - Citra Pondok Pesantren Lirboyo kini berada di ujung tanduk usai diliput oleh Trans 7 dalam sebuah program bertajuk "Xpose Uncensored".

Sontak, beragam tokoh alumni santri dan pemuka agama menyerukan tagar #BoikotTrans7 usai mengangkat acara yang dituding melecehkan Ponpes Lirboyo.

Para tokoh santri kecewa dengan bagaimana Trans 7 menggambarkan kehidupan pesantren, terutama di Pondok Pesantren Lirboyo digambarkan.

Adapun kekecewaan tersebut datang lantaran Trans 7 dinilai tak adil meliput bagaimana prestasi dan sejarah Lirboyo yang kaya akan kisah perjuangan para ulama mendirikan lembaga tersebut.

Liputan tersebut berawal dari menggambarkan bagaimana para santri menghormati kiai yang dinarasikan berlebihan dengan diksi seperti 'rela ngesot.' Sejumlah tokoh santri akhirnya menjelaskan bahwa sikap tersebut adalah bentuk penghormatan atau ta’dzim.

Polemik ini akhirnya berujung ke pihak Trans 7 yang minta maaf kendati kadung menjadi sasaran ajakan boikot.

“Sehubungan dengan tayangan/pemberitaan mengenai Pondok Pesantren Lirboyo yang telah ditayangkan di program "Xpose Uncensored" TRANS7, pada tanggal 13 Oktober 2025, kami telah melakukan review dan tindakan-tindakan atas keteledoran yang kurang teliti sehingga merugikan Keluarga Besar PP. Lirboyo,” bunyi permohonan maaf di akun resmi Trans 7, Selasa (14/10/2025).

Pondok Pesantren Lirboyo memang kaya akan sejarah dan telah mencetak beberapa generasi alumni yang punya rekam jejak mentereng.

Mari simak bersama sejarah Ponpes Lirboyo.

Baca Juga: Profil dan Latar Belakang KH Anwar Manshur, Pengasuh Ponpes Lirboyo yang Disinggung Trans7

Sejarah dan Jejak Pesantren Lirboyo dari K.H. Abdul Karim hingga KH. Anwar Manshur

KH. Anwar Manshur

Pesantren Lirboyo telah berdiri ratusan tahun sejak didirikan pada tahun 1910.

Sosok yang terlibat dalam pendirian salah satu pesantren terbesar di Pulau Jawa ini adalah KH Abdul Karim yang tak lain merupakan kakek dari pemimpin ponpes saat ini, KH Anwar Manshur.

KH Abdul Karim alias Mbah Manab adalah murid ulama-ulama besar seperti Syaikhona Kholil Bangkalan dan KH. M. Hasyim Asy'ari di Tebuireng. Ia dahulu juga berkesempatan mengajar Pondok Pesantren Tebuireng.

Mbah Manab akhirnya memperoleh 'panggilan' serta restu dari para guru dan istrinya untuk pindah ke Desa Lirboyo yang berada di Kediri. Ia punya misi besar untuk mendirikan pesantren di desa tersebut sekaligus memperbaiki akhlak dan moral warganya.

Pasalnya kala itu, Lirboyo dikenal sebagai daerah yang terpencil. Konon sebagian masyarakat menyebutnya wingit atau sarang bagi para perampok (bromocorah).

Justru di lokasi yang penuh tantangan, KH. Abdul Karim melihat potensi besar untuk menyebarkan syiar Islam dan mendirikan lembaga pendidikan.

Mbah Manab memulai perjuangannya dengan mendirikan sebuah surau atau musala yang sederhana. Musala tersebut menjadicikal bakal Pondok Pesantren Lirboyo. Santri pertama beliau adalah Umar dari Madiun.

Pesantren Lirboyo hingga kini identik dengan sistem pengajaran salaf (tradisional) yang mengutamakan kitab kuning dan metode seperti sorogan dan bandongan.

Alumni: Cetak Sederet Lulusan Ternama

Lulusan dari Pesantren Lirboyo bukan orang sembarangan. Ada sosok Said Aqil Siradj, mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang pernah lima tahun belajar di Pesantren Lirboyo.

Selain itu, Ning Imaz Fatimatuz Zahra atau Ning Imaz yang terkenal aktif di media sosial juga merupakan alumni sekaligus putri pengasuh pesantren ini.

Ada juga KH. Marzuqi Dahlan dan KH. Mahrus Aly di antara para alumni Lirboyo.

Biaya Masuk Pesantren Lirboyo

Mengutip beberapa media Pesantren Lirboyo, ada beberapa biaya yang harus dibayar oleh para santri kala menempuh pendidikan di ponpes bersejarah ini.

Pertama, ada biaya pendaftaran untuk ujian sebesar Rp 15.000 per calon santri. Nominal tersebut juga sama dengan uang pangkal yang diberikan.

Lalu, ada sumbangan pembangunan sebesar Rp 30.000 bagi santri baru.

Biaya pemeliharaan bervariasi untuk jenjang pendidikan yang diikuti, yakni sebagai berikut.

  • Ibtidaiyah (kelas I sampai IV): sekitar Rp 627.700 per tahun
  • Kelas V Ibtidaiyah: sekitar Rp 642.000
  • Kelas VI Ibtidaiyah: sekitar Rp 698.000
  • Tsanawiyah (kelas I sampai III): kisaran Rp 658.500 – Rp 729.500 tergantung kelasnya
  • Aliyah (kelas I sampai III): sekitar Rp 664.000 – Rp 735.000 per tahun

Kontributor : Armand Ilham

Load More