Lifestyle / Food & Travel
Rabu, 12 November 2025 | 13:18 WIB
Ilustrasi traveling (Pexels/Andrea Piacquadio)
Baca 10 detik
  • Industri pariwisata global kini digerakkan oleh generasi muda yang mencari pengalaman, bukan aset.
  • Forum Tourise 2025 menyoroti bagaimana budaya pop dan AI mengubah cara orang bepergian.
  • Teknologi kini menjadi “asisten pribadi” yang menghadirkan pengalaman wisata hiper-personal di setiap langkah perjalanan.

Suara.com - Industri pariwisata tengah memasuki babak baru — dan penggeraknya bukan perusahaan besar, melainkan generasi muda. Mereka tidak lagi memandang perjalanan sebagai pelarian, melainkan bagian dari gaya hidup. Lebih menarik lagi, cara mereka merencanakan perjalanan kini dibentuk oleh budaya pop, spontanitas, dan kecerdasan buatan (AI).

Ketika pendapatan mereka naik, anak muda tidak membeli aset, mereka membeli pengalaman. Itulah salah satu highlight dalam diskusi bertajuk The Asian Powerhouse: Fueling Tourism Growth Worldwide dalam forum Tourise 2025 di Riyadh.

Pergeseran perilaku ini memaksa pelaku industri perhotelan dan maskapai untuk bergerak cepat agar tetap relevan.

Spontanitas Jadi Gaya Baru Bepergian

CEO PRISM (induk OYO), Ritesh Agarwal, menyebut anak muda Asia kini hidup di era “liburan spontan.”

“Mereka membuat keputusan menit terakhir, membuka Douyin atau Instagram, lalu langsung memesan hotel di tempat yang baru mereka lihat di video,” katanya.

Tren ini melahirkan efek domino. Destinasi kecil yang sebelumnya sepi kini bisa mendadak viral. Salah satunya sebuah kota di Laos yang baru dikenal publik setelah sebuah video menyebutkan, “Saya tidak tahu tempat ini ada sebelum AirAsia terbang ke sini.” Dampaknya cepat: hotel bermunculan, ekonomi lokal tumbuh, dan wisata menggeliat.

Budaya Pop dan Spiritualitas Jadi Magnet Baru

Menurut Ritesh, budaya pop kini menjadi pendorong pariwisata paling kuat.

Baca Juga: Acer Swift Go 14 AI: Laptop Cantik dengan Otak Cerdas dan Baterai Badak!

“Entah itu K-pop, anime, Formula 1, atau perjalanan spiritual—semuanya mendorong wisata dalam skala besar,” ujarnya.

Ia mencontohkan Ayodhya di India yang kini tumbuh pesat sebagai destinasi religi.

“Tiga tahun lalu belum ada satu pun rombongan datang. Sekarang lebih dari 10.000 rombongan ziarah setiap tahun,” ujarnya.

AI Mengubah Setiap Fase Perjalanan

Chief Operating Officer Trip.com, Schubert Lou, menegaskan bahwa AI kini menjadi pusat transformasi pariwisata global.

“Ada aspek operasional dalam menjalankan hotel atau maskapai, tapi teknologi adalah pusat perubahan,” ujarnya.

AI kini hadir di setiap tahap perjalanan: mulai dari pencarian, masa menginap, hingga setelah pelanggan pulang.

“AI bukan hanya untuk otomatisasi, tapi juga meningkatkan kualitas sambil menekan biaya—misalnya dengan menciptakan konten personal yang menginspirasi pelanggan.”

Lou menambahkan, Trip.com kini mampu merangkum riwayat perjalanan pengguna dan mengolahnya menggunakan AI untuk menghasilkan rekomendasi hiper-personal.

“Dulu data itu hanya riwayat pencarian. Sekarang AI mengubahnya jadi konteks bermakna. Kalau kita tahu konteks pengguna, kita tahu apa yang mereka mau,” jelasnya.

Ia juga memperkenalkan konsep agentic AI, yaitu agen digital yang bisa menjalankan tugas sederhana hanya lewat prompt—seperti check-in otomatis hingga layanan pelanggan berbasis konteks yang bisa memprediksi kebutuhan wisatawan sebelum mereka bertanya.

Low-Cost Traveler, Dampak Besar

CEO AirAsia, Tony Fernandes, menyoroti bahwa pasar wisata bertarif rendah sering diremehkan padahal dampaknya besar terhadap ekonomi lokal.

“Wisatawan low-cost justru tinggal lebih lama, menjelajah lebih jauh, dan memberi pengaruh ekonomi lebih besar dari yang diperkirakan,” ujarnya.

Namun, ia menilai masih banyak regulator yang belum memahami potensi pasar ini, “karena mereka sendiri jarang terbang dengan maskapai low-cost.”

Masa Depan Pariwisata: Spontan, Digital, dan Personal

Dari perjalanan spiritual di India, konser K-pop di Seoul, hingga check-in otomatis di hotel digital, wajah pariwisata global kini berubah cepat.

Anak muda menjadi pusat gravitasi industri: mereka menuntut pengalaman yang cepat, autentik, dan personal.

Dengan dukungan AI dan teknologi yang makin canggih, dunia wisata kini memasuki babak baru — era di mana liburan bukan lagi sekadar pergi, tapi bagian dari cara hidup.

Load More