- International Sustainable Rice Forum (ISRF) 2025 diadakan di Jakarta Utara, dihadiri peserta dari 23 negara guna mendorong praktik pertanian padi rendah karbon di Asia.
- Sektor padi memerlukan transformasi mendesak karena tantangan iklim, fokus pada peningkatan pendapatan petani sekaligus manfaat lingkungan sebagai kunci keberhasilan bersama.
- Indonesia menegaskan swasembada beras tahun ini, sementara Uni Eropa menekankan penguatan koperasi untuk menekan biaya dan meningkatkan daya tawar petani secara kolektif.
Suara.com - International Sustainable Rice Forum (ISRF) 2025 digelar di Discovery Ancol, Jakarta Utara. Acara ini merupakan pertemuan global penting, dihadiri lebih dari 300 peserta dari 23 negara di enam benua.
Acara ini memanfaatkan momentum Hari Petani Nasional yang jatuh pada 24 September untuk memperkuat kolaborasi, meningkatkan wawasan pasar, dan mendorong adopsi praktik pertanian padi rendah karbon di Indonesia dan Asia.
Adapun ISRF 2025 merupakan hasil kolaborasi antara Preferred by Nature, Sustainable Rice Platform, Rikolto, International Rice Research Institution (IRRI), dan World Bank Group. Kegiatan ini juga didukung inisiatif program Low Carbon Rice dan EU Switch Asia, serta organisasi seperti Perpadi, Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), dan disponsori oleh String.
Ya, sektor padi kini tengah berada di persimpangan jalan. Perubahan iklim pun menantang kondisi ini. Peter Filber, Direktur Eksekutif Preferred by Nature, menyoroti perlunya transformasi mendesak di sektor padi. Ia menyoroti fakta sawah menghasilkan gas rumah kaca (GRK) lebih banyak daripada seluruh sektor penerbangan, sekaligus menjadi konsumen air irigasi terbesar di dunia.
Kendati demikian, imbuh Peter Filber, hal ini juga menawarkan peluang besar untuk perubahan positif, mengingat pengetahuan untuk mengurangi emisi dan menghemat sumber daya sudah tersedia.
“Kunci keberhasilan adalah membangun jembatan yang menghubungkan peningkatan pendapatan petani, lanskap yang lebih sehat, dan manfaat iklim yang nyata. Ia menegaskan bahwa keberlanjutan harus dibangun bersama petani, sebagai penjaga lanskap, bukan tanpa melibatkan mereka,” ujar Peter Filber.
Terkait hal ini, pemerintah Indonesia dan Uni Eropa menegaskan kembali komitmen kuat mereka terhadap ketahanan pangan dan keberlanjutan. Menteri Koordinator Urusan Pangan, Zulkifli Hasan, menyampaikan Indonesia telah mencapai swasembada beras. Bahkan, dengan perkiraan surplus sekitar 4 juta ton tahun ini, Indonesia menghilangkan kebutuhan impor.
Selain karbohidrat, pemerintah juga mendorong kedaulatan pangan protein, termasuk pembangunan ternak dan unggas besar-besaran di 20 provinsi, untuk mendukung program makanan bergizi gratis bagi 82,9 juta penerima tahun depan.
“Kedaulatan pangan tidak boleh ditawar. Berapa pun ongkosnya, kita harus lakukan. Ini adalah perintah Presiden Prabowo yang harus dilaksanakan, dan memerlukan kerja sama global dalam hal teknologi baru, mekanisasi, dan ilmu pengetahuan,” ujar Zulkifli Hasan.
Di sisi lain, Duta Besar Uni Eropa (UE), Denis Chaibi, menyoroti peran program Switch Asia. Sejak 2007, program ini menginvestasikan lebih dari 300 juta Euro atau setara dengan sekitar Rp 5,8 triliun untuk produksi dan konsumsi berkelanjutan di Asia.
Chaibi mengatakan penguatan koperasi menjadi salah satu elemen yang sangat penting dalam menekan biaya produksi. Tidak cuma itu, tambah Chaibi, penguatan tersebut juga sekaligus memperkuat daya tawar petani di rantai nilai pangan.
“Koperasi memberi petani posisi tawar lebih kuat karena mereka bisa membeli benih, mengatur asuransi, dan menekan biaya secara kolektif,” kata Chaibi.
UE sebelumnya mendanai Low Carbon Rice Project yang merupakan proyek beras rendah karbon selama empat tahun. Hasilnya yakni peningkatan produktivitas dan efisiensi di tingkat petani maupun penggilingan. Berdasarkan laporan Low Carbon Rice Project 2025, inisiatif itu telah mendukung 67 penggilingan padi kecil beralih dari bahan bakar diesel ke listrik serta membangun kemitraan dengan lebih dari 2.650 petani di area 1.037 hektare menuju produksi beras berkelanjutan.
Proyek tersebut merupakan inisiatif yang didanai Uni Eropa melalui SWITCH-Asia Grants Programme dan diimplementasikan oleh Preferred by Nature bersama Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) dan Perpadi.
Uni Eropa kini berfokus pada peningkatan skala model-model sukses menjadi investasi skala besar yang memperkuat rantai nilai regional. Kemitraan ini didorong oleh kepentingan bersama dalam pembangunan ekonomi dan lingkungan, serta adanya Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) yang baru disepakati.
Nah, sesi selanjutnya menampilkan panel diskusi. Pembahasannya terkait beragam praktik dan implementasi pertanian beras berkelanjutan dari berbagai pemangku kepentingan, termasuk lembaga internasional, korporasi, institusi pertanian, donor internasional, perwakilan petani lokal, dan pihak bergengsi lainnya.
Salah satu tantangan utama yang diidentifikasi dan masih harus diatasi adalah menyelaraskan kebijakan-kebijakan yang seringkali saling bertentangan serta memastikan efektivitas dan keberlanjutan kemitraan publik-swasta. Kesuksesan jangka panjang dari semua inisiatif ini akan sangat bergantung pada kemampuan sektor padi untuk menarik dan mempertahankan minat petani muda.
Tidak hanya itu, jaminan untuk memberikan harga yang adil dan kompetitif bagi hasil panen mereka adalah faktor penentu agar petani dapat melihat masa depan yang jelas, menjanjikan, dan pasti dalam sektor padi.
ISRF 2025 menjadi platform krusial untuk melahirkan kemitraan baru dan merumuskan peta jalan yang jelas dan terperinci guna memajukan hak-hak berkelanjutan serta praktik pertanian rendah emisi di Asia dan kawasan-kawasan lain di dunia.
Berita Terkait
-
Lawan Hama Wereng, Petani Boyolali Andalkan Teknologi Drone
-
Prabowo Puji Peran TNI Dongkrak Produksi Beras, Panen Capai 19,2 Juta Ton hingga Juni 2026
-
Beras Mahal Disuruh Tanam Padi Sendiri: Menggugat Logika Lepas Tangan Pemerintah
-
Padi Reborn Bawa 'Momen Sakral' Konser Dua Delapan ke Layar Lebar: Siap-Siap Merinding!
-
Bulog Dukung Gerakan Tanam Padi Serentak di Kawasan Cetak Sawah Merauke
Terpopuler
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
- 3 Sepatu Jalan untuk Lansia Paling Nyaman, Hands Free Tak Perlu Membungkuk
- Spanduk Polwan saat Adang Aksi BEMI UI Kena Rujak Netizen: Bu Polwan Salah Bawa Spanduk?
- Kulkas Sharp 2 Pintu Berapa Harganya? Ini 3 Pilihan yang Dingin dan Hemat Listrik Sesuai Review
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
Banggar Tagih Profil Utang Pemerintah, Purbaya Janji Serahkan Dalam 10 Hari
-
Timeless Project Live Ajak Generasi 2000-an Bernostalgia Lewat Lima Warna Musik
-
Pemotong Rumput asal Perawang Siak Bobol Sistem Keamanan NASA
-
Golkar Rombak Susunan AKD DPR, Bamsoet Kini Jadi Anggota Biasa Komisi II
-
Indonesia Nonton Final Piala AFF 2026: Vietnam Punya Kartu AS Kalahkan Thailand
-
Samsung Siapkan Galaxy Event 27 Agustus, Siap-siap Ada Anggota Baru Galaxy S26 Series!
-
Dari Rak Buku ke Ruang Lifestyle, Wajah Baru Toko Buku di Tengah Era Digital
-
Fathimah Azzahra BEM UI Dapat Serangan Brutal di Sosmed, Dituding Penganut Agama Ini
-
Bamus Betawi Minta Warga Pati Tahan Diri, Tak Perlu Ramai-ramai Demo ke Jakarta
-
Pesan GrabFood Pakai BRI Bisa Hemat Rp81.000, Begini Caranya!