Suara.com - Pelantikan sejumlah tenaga ahli Dewan Pertahanan Nasional (DPN) tengah menarik perhatian publik. Dua nama yang paling disorot adalah Sabrang Mowo Damar Panuluh alias Noe Letto dan Frank Hutapea. Keduanya dikenal luas publik karena latar keluarga, namun memiliki rekam jejak profesional yang berbeda dan menarik untuk dicermati.
Pelantikan dilakukan pada Kamis, 15 Januari 2026, oleh Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin selaku Ketua Harian Dewan Pertahanan Nasional. Selain Noe Letto dan Frank Hutapea, terdapat 10 tenaga ahli lainnya yang turut diambil sumpahnya untuk memperkuat peran strategis DPN. Lantas bagaimana rekam jejak Noe Letto dan Frank Hutapea yang dilantik menjadi tenaga ahli DPN? Simak penjelasan berikut ini.
Rekam Jejak Noe Letto
Sabrang Mowo Damar Panuluh atau Noe Letto dikenal publik sebagai vokalis band Letto sekaligus putra dari budayawan ternama Emha Ainun Nadjib (Cak Nun). Namun di balik kiprahnya di dunia musik, Noe memiliki latar belakang akademik yang kuat.
Pada 1997, Noe memutuskan melanjutkan pendidikan ke Kanada. Dia berkuliah di University of Alberta, salah satu universitas riset terkemuka, dan mengambil dua jurusan sekaligus, yakni Fisika dan Matematika, bidang yang dikenal memiliki tingkat kesulitan tinggi.
Perjalanan studinya tidak selalu mudah. Di tengah krisis moneter yang melanda Indonesia, Noe harus bekerja paruh waktu untuk mencukupi kebutuhan hidup dan biaya kuliah. Usaha tersebut berbuah hasil dengan diraihnya gelar Bachelor of Science (B.Sc) pada 2003.
Sekembalinya ke Indonesia, nama Noe melambung bersama Letto melalui lagu-lagu populer seperti "Ruang Rindu" dan "Sandaran Hati".
Selain bermusik, Noe juga aktif di dunia kreatif dan teknologi. Dia mendirikan Pic[k]Lock Productions, rumah produksi yang memproduksi film-film berkualitas seperti Minggu Pagi di Victoria Park (2010), RAYYA, Cahaya Di Atas Cahaya (2012), dan Guru Bangsa Tjokroaminoto (2015).
Bukan hanya itu, Noe juga kerap menjadi pembicara dalam diskusi seputar teknologi, kedaulatan data, hingga filsafat kehidupan. Kini, Noe dipercaya mengemban peran baru sebagai Tenaga Ahli DPN yang memadukan latar akademik, pengalaman kreatif, dan perspektif sosial-budaya.
Rekam Jejak Frank Hutapea
Sementara itu, Frank Alexander Hutapea dikenal sebagai putra sulung pengacara kondang Hotman Paris Hutapea. Meski memiliki nama besar keluarga, Frank membangun kariernya secara profesional di bidang hukum.
Baca Juga: Sindir soal Korupsi hingga Moral, Kritik Telak Putra Cak Nun usai Bahlil Bilang Jangan Kufur Nikmat
Frank menempuh pendidikan hukum di University of Kent, London, dengan fokus pada Banking, Corporate, Finance, and Security Law, dan meraih gelar LLB pada 2012. Dia juga menyelesaikan pendidikan Sarjana Hukum di Universitas 17 Agustus 1945 pada 2013.
Usai menyelesaikan pendidikan, Frank bergabung dengan Hotman Paris & Partners dan kini menjabat sebagai partner di firma hukum tersebut. Selama berkarier, dia banyak menangani perkara litigasi komersial, keuangan, pertambangan, pidana, hingga kepailitan dan restrukturisasi.
Pada 4 Januari 2025, Frank resmi menikah dengan Winona Delany Tandra. Menariknya, meski ayahnya identik dengan gaya hidup mewah, Frank dikenal memiliki gaya hidup sederhana dan lebih menonjolkan profesionalitas di bidang hukum. Kini, Frank dipercaya sebagai Tenaga Ahli Madya DPN, membawa pengalaman praktik hukum ke ranah kebijakan strategis negara.
Peran Tenaga Ahli di Lingkungan DPN
Sebagai tenaga ahli, Noe Letto dan Frank Hutapea memiliki tugas memberikan masukan, analisis, serta rekomendasi strategis sesuai bidang keahlian masing-masing. Kepala Biro Humas Setjen Kementerian Pertahanan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, menjelaskan bahwa kontribusi Noe Letto difokuskan pada pemikiran strategis lintas bidang.
"Kontribusi yang bersangkutan diarahkan pada pemikiran strategis lintas disiplin, termasuk perspektif sosial, kebudayaan, dan komunikasi strategis, untuk memperkaya kajian Dewan Pertahanan Nasional," ujar Rico.
Dalam unggahan di akun Instagram resminya, Sjafrie Sjamsoeddin menegaskan bahwa pelantikan para tenaga ahli ini adalah langkah penting untuk memperkuat fondasi kebijakan negara yang adaptif dan berorientasi jangka panjang.
"Dengan integritas, keahlian, dan perspektif kebangsaan yang kuat, para tenaga ahli diharapkan menjadi tulang punggung pemikiran dalam merumuskan arah pertahanan nasional yang relevan dengan dinamika global," tulis Sjafrie.
Kontributor : Trias Rohmadoni
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- DPR Pertanyakan, Pemerintah Menjawab, Dari Mana Datang Isu Kipas Angin Rp1,8 T untuk Kopdes?
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Rapor Duo Timnas Indonesia Ole Romeny dan Hubner Saat Fortuna Sittard Hadapi Olympiacos
- Kulit Sawo Matang Jangan Salah Pilih Warna Lipstik! Ini 8 Pilihan yang Bikin Wajah Cerah Seketika
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
Disinformasi di Ruang Digital Ancam Demokrasi dan Persatuan Nasional, Puan: Negara Harus Hadir!
-
6 Sunscreen Terbaik untuk Wanita di Atas 40 Tahun dengan Kulit Sensitif sesuai Review dan Harga
-
Cara Membedakan Kulit Sawo Matang dan Kuning Langsat, Begini Ciri-cirinya
-
Kebakaran Mobil di SPBU Pekanbaru, Hanguskan Pompa Pengisian BBM
-
Harga Minyak Dunia Bisa Makin Kacau, Giliran Jalur Utama Ekspor BBM Arab Saudi Diblokir
-
3 Tablet Rasa Laptop yang Support WPS Office PC Level, Review Puas Kerja Lebih Praktis
-
Tayang Agustus, Song Kang dan Lee Jun Young Bintangi Drama Bertemakan Musik
-
Kejutkan Penggemar! Film Baru Alvin and the Chipmunks Akan Tayang pada 2028
-
Sukacita Gamelan: Yogyakarta Gamelan Festival ke-31 Merayakan Spirit Kebersamaan
-
Hadapi Kemarau Panjang, Warga Jakarta Diminta Jangan Asal Buang Puntung Rokok