- Eksperimen HCC di Jakarta menunjukkan pelaporan kebaikan teman meningkatkan empati pelajar lima kali lebih besar.
- Program CekTemanSebelah 2.0 melibatkan 699 siswa dan menghasilkan 4.710 laporan kebaikan sederhana.
- Aktivitas ini memicu hormon dopamin, berpotensi meningkatkan konsentrasi belajar dan menekan hormon stres.
Suara.com - Sosial eksperimen terbaru yang dilakukan Health Collaborative Center (HCC) menemukan pelajar jadi 5 kali lebih empati saat laporkan kebaikan sesama teman. Kondisi ini menurut peneliti berpotensi tingkatkan konsentrasi belajar.
Ketua Tim Eksperimen sekaligus Ketua HCC Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH membuktikan perilaku melaporkan kebaikan atau tootling di kalangan pelajar selama 10 hari mampu meningkatkan empati dan sikap prososial remaja secara signifikan.
Eksperimen ini melibatkan 699 siswa SMA di Jakarta, dengan total ada 541 siswa yang berhasil menyelesaikan laporan kebaikan sesama teman.
Kebaikan yang dilaporkan juga terbilang sederhana dan beragam. Dari mulai meminjamkan penghapus, memberikan hadiah permen, bantu belajar, mendengarkan teman curhat hingga memberikan makanan pada teman di kantin dan sebagainya.
"Dibuktikan bahwa ternyata remaja pelajar SMA yang terlibat aktif dalam pelaporan kebaikan menunjukkan 5 kali lebih empati, 5 kali lebih prososial. Lalu hampir 4 kali lebih tinggi perspective-taking atau kemampuan memahami sudut pandang orang lain," ujar Dr. Ray saat menyampaikan hasil eksperimen di Jakarta, Senin (2/3/2026).
Eksperimen yang dilakukan melalui Program CekTemanSebelah 2.0 ini menghasilkan 4.710 laporan kebaikan, yang dilakukan sesama siswa di MAN 2 Jakarta Timur, SMA Advent XV Ciracas, SMA Teladan Jakarta dan SMK PKP 1 Jakarta Timur.
Dr. Ray juga mengatakan eksperimen ini membuat 8 dari 10 pelajar merasakan perubahan positif setelah mengikuti program. Para pelajar yang melaporkan kebaikan sesama teman ini juga 11 kali berpeluang merasakan perubahan yang lebih baik.
Hasil temuan eksperimen juga mendapati ada 77 persen siswa melaporkan kebaikan saat mengucapkan terima kasih, 71 persen anggap melaporkan kebaikan sebagai bentuk apresiasi, 50 persen siswa anggap untuk membalas kebaikan, lalu 41 persen untuk menginspirasi teman, dan 34 persen agar kebaikan bisa diketahui publik.
Praktik sederhana ini dinilai mampu memperkuat fondasi psikologis remaja. Ini karena menurut Dr. Ray saat melakukan kebaikan maka akan memicu terciptanya hormon kebahagiaan yaitu hormon dopamin.
Baca Juga: Alarm Merah! 75 Ribu Pelajar di Bandung Terindikasi Gangguan Mental
"Tootling itu adalah anak disuruh merefleksikan positif feedback, positif image dan positif figure dari lingkungan sekitar. Anak itu sama seperti kita orang dewasa, kalau kita melakukan mekanisme tootling, yang terjadi adalah hormon-hormon kebahagiaan pada diri kita lebih dominan," ujar Dr. Ray.
Lantaran hormon dopamin ini sudah tercipta hasilnya akan banyak manfaat untuk tubuh secara psikologis.
Ini karena dopamin ampuh menekan hormon kortisol atau hormon stres, dan menekan hormon epinefrin alias hormon adrenalin yang tercipta saat seseorang takut atau merasa terancam.
"Teman-teman coba bayangin kalau hormon dopamin yang lebih dominan pada anak-anak, itu akan membuat proses belajar jadi lebih baik. Kognitifnya lebih tajam, working memory-nya akan lebih maksimal dan lebih konsentrasi saat belajar, dan yang paling penting bisa berempati," papar Dr. Ray.
Menurut Dr. Ray, empati ini bukanlah perasaan sederhana karena penelitian skala besar mengatakan, anak remaja yang mampu berempati ditambah working memory score atau kemampuan menyimpan informasi yang bagus akan membuat generasi penerus yang inovatif.
"Kalau remaja itu inovatif, mereka bisa menjadi agent of change atau agen perubahan untuk negara. Bayangin kalau jutaan remaja kita, kita biasakan melaporkan kebaikan, mereka akan dominan hormon kebahagiaan, mereka akan lebih berhasil," pungkas Dr. Ray.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
- 3 HP Murah dengan Kamera Underwater Rp2 Jutaan, Cocok Buat Foto dan Video dalam Air
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
Rahasia Agar Usaha Perempuan Tak Berhenti di Tengah Jalan
-
Hibah Kapal Induk Giuseppe Garibaldi ke Indonesia Diprotes Warga Italia
-
Kualitas Aset Membaik, JPMorgan Naikkan Rekomendasi Saham BBRI Menjadi Overweight
-
Kasus Pindah ke Kejagung, Status Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Tetap Dicekal Imigrasi
-
Bukan Cuma Nonton Konser Musik, Ini 3 Destinasi Wajib Mampir Saat Kamu ke Jazz Gunung Bromo 2026
-
JPMorgan Upgrade Saham BBRI ke Overweight, Nilai Valuasi Murah dan Dividen Tetap Menarik
-
Dirjen Imigrasi Pastikan Status Cekal Febrie Adriansyah Masih Berlaku
-
Piala Dunia 2026 Ubah Ranking FIFA, Spanyol 'Tendang' Prancis dari Puncak
-
4 Cushion Tahan Lama yang Lagi Diskon Capai 50 Persen di Shopee, Harga Jadi di Bawah Rp100 Ribu
-
4 Rekomendasi Parfum Aroma Nanas Harga Terjangkau, Mulai Rp40 Ribuan Saja