- Dinas Kesehatan Kota Bandung mendata 75 ribu pelajar terindikasi alami gangguan kesehatan mental di wilayah tersebut.
- Wali Kota Bandung mengantisipasi tantangan utama adalah penolakan orang tua mengakui kebutuhan bantuan profesional anak.
- Pemkot Bandung akan integrasikan layanan psikologi klinis di Puskesmas dan manfaatkan Guru BK untuk deteksi dini.
Suara.com - Kota Bandung tengah menghadapi tantangan serius di sektor pendidikan dan kesehatan. Sebanyak 75 ribu pelajar, mulai dari tingkat SD hingga SMA, disebut terindikasi mengalami gangguan kesehatan mental.
Data mengejutkan ini merupakan hasil survei terbaru dari Dinas Kesehatan Kota Bandung.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan bahwa angka tersebut tidak bisa dipandang sebelah mata. Meski demikian, ia meminta masyarakat untuk menyikapi temuan ini dengan kepala dingin namun tetap waspada.
“Angkanya 75 ribu. Ini bukan kecil. Tapi kita juga hati-hati menyikapinya,” ujar Farhan di Bandung, Senin.
Farhan menyoroti tantangan terbesar dalam menangani isu ini, yakni tembok penyangkalan (denial) dari lingkungan terdekat. Menurutnya, banyak orang tua yang enggan mengakui bahwa anak mereka mungkin membutuhkan bantuan profesional.
“Ketika bicara gangguan mental, kita sering lihat ke anak orang lain. Jarang yang refleksi ke diri sendiri, jangan-jangan anak saya,” tegasnya.
Untuk menangani hal ini, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung memilih strategi "senyap" namun sistematis guna menghindari kepanikan massal.
“Ini masuknya pelan-pelan. Tidak pakai kampanye besar-besaran,” kata Farhan.
Sebagai langkah nyata, Pemkot Bandung akan mengintegrasikan layanan kesehatan mental hingga ke tingkat akar rumput. Seluruh Puskesmas di Bandung nantinya diwajibkan memiliki layanan psikologi klinis.
Baca Juga: Klarifikasi DPR soal Polemik MBG Sedot Anggaran Pendidikan
Skema penanganannya akan dimulai dari sekolah. Guru Bimbingan Konseling (BK) akan menjadi garda terdepan untuk melakukan asesmen awal sebelum siswa dirujuk ke Puskesmas.
“Psikolog akan memberikan capacity building ke Guru BK. Jadi mereka bisa mendeteksi lebih dini,” kata Farhan.
Farhan mencontohkan, deteksi dini bisa dilakukan dengan memantau perubahan perilaku yang drastis. Misalnya, siswa yang semula ceria tiba-tiba menjadi pendiam, atau penurunan semangat belajar pada siswa yang biasanya berprestasi. Data-data perubahan tersebut akan dicatat dan dikaji secara mendalam oleh tenaga profesional. (Antara)
Berita Terkait
Terpopuler
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- Guru Besar UGM Cium Ada Perubahan Sikap yang Tak Biasa Usai Mama Sinta Lapor Polisi soal Pesta Babi
Pilihan
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
-
Prabowo Tabuh Genderang Perang: Kita Lawan Kelompok Anti Tanah Air
-
Prabowo Pidato 1 Juni 2026: Lawan Asing, Waktunya Kembali ke Ekonomi Pancasila
-
Rambah Cempaka: Perempuan yang Bersemayam di Batu Lumpang
-
Jay Idzes Tercoret! Ini Daftar Pemain Timnas Indonesia Hadapi FIFA Matchday
Terkini
-
Hari Lahir Pancasila, Menteri PANRB Rini: Kita Hadirkan Pelayanan Publik yang Memberi Manfaat Nyata
-
Pelaku Penganiayaan di Jakbar Mengaku Lupa Kejadian karena Mabuk
-
Peneliti UGM Tak Temukan Kaitan Sistem Kelistrikan dengan Munculnya Api Misterius di Sleman
-
Prabowo-Megawati Asyik Masyuk di Gedung Pancasila, Kenapa Jokowi Tak Diundang?
-
Aturan Pendirian Rumah Ibadah Dinilai Gagal Lindungi Minoritas, Prabowo Diminta Cabut
-
Surat Pilu Eks Dirut Indofarma dari Rutan Salemba: Demi Allah dan Rasulullah, Saya Tidak Korupsi
-
Presidium Hak Beribadah Desak Prabowo Cabut PBM 2006 dan Terbitkan Perpres Jamin Kebebasan Beribadah
-
Prabowo-Mega Gandengan Tangan, Hasto Singgung 'Beban' Warisan Kebijakan Jokowi
-
Setara Institute: Jawa Barat Masih Jadi Wilayah dengan Pelanggaran Kebebasan Beragama Tertinggi
-
Siasat 'Gali Lubang Tutup Lubang' Bos WO Marwah Terbongkar: 58 Pasangan Ketipu Rp2,6 Miliar!