Lifestyle / Female
Kamis, 19 Maret 2026 | 20:59 WIB
Brand Fiorellya by Dwee, Dwi Wahyuni, dalam fashion show bertema An-Nur di Ramadan Rhapsody, Bekasi, Jawa Barat, Jumat (13/3/2026). (Suara.com/Dini Afrianti Efendi)
Baca 10 detik
  • Tren belanja baju lebaran 2026 mengalami penurunan signifikan sekitar 30 persen bagi pelaku industri modest fashion.
  • Dwi Wahyuni dari Fiorellya menyatakan tren belanja tahun 2026 baru terjadi menjelang Idulfitri, tidak seperti tahun sebelumnya.
  • Koleksi An-Nur dari Fiorellya terinspirasi sejarah Islam Palestina menggunakan simbol pohon zaitun dan bunga dahlia.

Suara.com - Tren belanja baju Lebaran 2026 alami penurunan dibanding tahun sebelumnya. Kenyataan ini dialami langsung pelaku industri modest fashion yang bercerita alami penurunan penjualan mencapai 30 persen.

Desainer sekaligus owner brand lokal Fiorellya by Dwee, Dwi Wahyuni bercerita jika tahun sebelumnya tren belanja masyarakat sudah dimulai sejak pekan pertama Ramadan, maka pada 2026 tren belanja baru terjadi menjelang perayaan Hari Raya Idulfitri.

"Untuk tahun ini dibandingkan tahun lalu memang agak sepi. Kalau diperkirakan penurunannya sekitar 30 persen," kata Dwi usai fashion show koleksinya yang bertema An-Nur di Ramadan Rhapsody, Bekasi, Jawa Barat, Jumat (13/3/2026).

Dwi mencontohkan saat membuka booth di pameran Ramadan Rhapsody tahun lalu, penjualan di minggu pertama sudah bisa menutupi biasaya operasional seperti produksi, promosi hingga kemasan pada pembeli.

Namun pada perhelatan tahun 2026, Dwi meluncurkan koleksi raya bertajuk An-Nur merasakan daya beli masyarakat alami penurunan. Ia memprediksi kondisi ini terjadi karena situasi ekonomi yang berdampak secara global.

Owner brand Fiorellya by Dwee, Dwi Wahyuni, ditemui usai fashion show koleksinya yang bertema An-Nur di Ramadan Rhapsody, Bekasi, Jawa Barat, Jumat (13/3/2026). (Suara.com/Dini Afrianti Efendi)

"Kalau tahun lalu dari awal sudah mulai ramai. Minggu pertama saja kita sudah bisa BEP (break event point). Nah sekarang ini agak susah, cenderung lebih sepi peminat," ungkapnya.

"Mungkin karena faktor ekonomi dan daya beli masyarakat. Sekarang kan situasinya juga global, jadi pengaruhnya terasa sekali," sambung Dwi.

Meski begitu, Dwi mengaku tetap berupaya beradaptasi dengan kondisi pasar dengan terus melakukan inovasi desain serta memperkuat penjualan melalui platform online dan pesanan custom.

"Kita sebagai desainer tidak boleh putus asa. Harus terus berinovasi dan menciptakan tren baru," katanya.

Baca Juga: Bangga, Brand Modest Fashion Bekasi Sampai ke Hong Kong: Berdayakan Pekerja Lokal!

Adapun koleksi raya An-Nur dari Fiorellya ini terinspirasi dari simbol cahaya dalam sejarah islam di Palestina.

Hal ini selaras dengan koleksi-koleksi sebelumnya yang selalu mengangkat perjalanan sejarah islam sebagai konsep utama desain.

Nama An-Nur dipilih karena mengandung arti cahaya. Dari sisi desain dan warnanya diambil dari pohon zaitun dan bunga dahlia. Koleksi lebaran ini terbuat dari bahan silk yang beri kesan elegan sekaligus nyaman digunakan saat lebaran.

Ia mengatakan, pohon zaitun dipilih sebagai simbol kekuatan sekaligus merujuk pada sejarah Islam yang erat dengan Palestina. Sementara bunga dahlia menggambarkan keindahan dan keanggunan perempuan.

"Pohon zaitun melambangkan kekuatan dan empowerment. Kami juga mengambil warna-warna zaitun atau olive green sebagai warna utama koleksi ini," pungkas Dwi.

Load More