Suara.com - Ada getaran yang terasa sangat istimewa ketika ratusan pita suara mengeluarkan nada dengan frekuensi yang sama. Jumat 8 Mei sore itu, di pelataran Sarinah, bukan kesempurnaan teknik paduan suara yang saya temukan, tapi kehangatan dari suara-suara yang tercipta. Nyanyi Bareng Jakarta (NBJ) berhasil menyembuhkan rasa lelah layaknya sebuah rumah.
Pukul lima sore di jantung Jakarta adalah waktu di mana ribuan kepala menyimpan lelah yang serupa. Saya salah satunya. Melangkah keluar kantor dengan ritme barisan kata yang masih berputar di kepala. Setelah sampai, tak ada kursi tersisa. Saya terpaksa berdiri di pinggiran, terjepit di antara bahu-bahu asing dengan heran, “Banyak juga ya yang datang? Satu jam sebelum dimulai pun sudah penuh dengan orang-orang berbaju maroon.” Ya, saat itu saya juga datang dengan baju maroon—dresscode yang mereka tentukan untuk mengenali identitas “warga” Nyanyi Bareng Jakarta. Sebagai penampil pembuka, NBJ naik ke atas panggung disambut oleh ledakan antusiasme dan sorakan suka cita.
Belajar Mendengar, Bukan Menghafal
Lagu "Senja Teduh Pelita" mulai mengalun. Para pemandu dari NBJ naik ke atas panggung dengan senyum yang terbuka lebar dan suara merdu yang terpancar. Seketika atmosfer berubah. Dalam hitungan detik, massa yang awalnya hanya penonton pasif bersatu menyanyikan nada yang padu.
Sebagai orang yang juga pernah terjun di paduan suara, saya terbiasa menghafal dan mempelajari tiap baris nada dengan disiplin tinggi. Namun, di tangan founder NBJ, Meda Kawu, musik menjadi urusan yang jauh lebih membumi. Ia memandu kami dengan perasaan, bukan teknik saklek atau paksaan. Tanpa notasi balok yang mengintimidasi, ia membimbing ratusan orang di hadapannya hanya dengan kekuatan pendengaran.
"Aku selalu bilang ke para fasilitator, bersuara saja," ungkap Meda, saat diwawancarai di belakang panggung.
Baginya, identitas suara seseorang tidak melulu soal jangkauan nada, tapi soal karakter atau "warna". Pendekatan ini mampu membelah ratusan orang asing menjadi barisan sopran, alto, tenor, dan bass dalam waktu singkat.
Sarinah sore itu mendadak kedatangan choir dari berbagai penjuru Jakarta. Bahkan, ada yang rela datang dari luar kota untuk ikut bersuara. Sistemnya mudah; NBJ membagi ratusan orang menjadi 3 kelompok: A, B, dan C. Suara A adalah yang paling rendah, di sisi bagian kiri panggung. Suara B jadi suara tengah. Ia tidak terlalu tinggi, tidak juga rendah, tapi terkadang ini adalah bagian suara yang paling susah. Sementara itu, C adalah suara yang paling tinggi di sisi kanan panggung. Menggunakan sistem pecah suara sederhana, partisipan yang hadir mampu menciptakan harmoni yang sama.
Penawar Lelah kaum Profesional
Di balik keriuhan nada itu, ada alasan kuat mengapa NBJ tumbuh begitu organik. Salah satu founder NBJ, Gladys Santoso, melihat fenomena ini sebagai kebutuhan akan Third Space atau Ruang Ketiga.
"Orang-orang itu nggak cuma butuh first space, yaitu rumah, nggak cuma butuh second space, yaitu kantor. Tapi mereka butuh third space buat cari tahu tempat di mana mereka bisa terhubung lewat interest yang sama," jelas Gladys.
Baca Juga: Di Gang Sempit, River Ranger Jakarta Ajarkan Prinsip Sustainable Living Tanpa Menggurui
Uniknya, mayoritas mereka yang rela "war tiket" demi bisa bernyanyi bukanlah orang-orang dari industri hiburan. Pesertanya justru didominasi oleh dokter, pengacara, hingga staf HRD. Mereka adalah individu-individu yang setiap harinya dituntut tampil sempurna secara profesional, namun menyimpan penat yang butuh disalurkan melalui suara.
Bermula dari Paksaan, Berakhir dengan Antrean
Semua bermula dari 22 April 2025 di sebuah studio di kawasan Melawai. Saat itu, Meda mengenang bagaimana ia harus sedikit "memaksa" kawan-kawannya untuk hadir. Meda Kawu bersama 2 founder lainnya, Gladys Santoso dan Jusuf Winardi, berhasil menggandeng 60 orang di event pertama.
“Waktu itu yang ikut baru 60 orang. 70 persen dari 60 orang itu adalah teman-teman kami yang kami undang. Bukan cuma diundang tapi dipaksa dikit,” ujar Meda sedikit tertawa dan mengingat masa itu tidak terbayang NBJ banyak peminatnya seperti sekarang.
Paksaan itu berubah menjadi ledakan rasa penasaran ketika dokumentasi mereka diunggah ke media sosial. Tiba-tiba saja, Jakarta terasa seperti kota yang haus akan koneksi untuk bersama-sama menyanyi. Di pertemuan kedua, antrean di aplikasi tiket sudah mengular. "Sebesar itu niat orang untuk menemukan sebuah singing club," ujar Gladys.
Di NBJ, tidak ada kurasi vokal yang kaku. Mereka menjunjung tinggi no judgement zone. Di sini, tingkat kemampuan bernyanyi ditinggalkan di pintu masuk. Hasilnya mengejutkan: NBJ berhasil mengumpulkan orang dari lintas generasi, mulai dari Gen Alpha hingga generasi senior yang datang dengan kursi roda. Bahkan, Meda dan Gladys menceritakan momen-momen manis sekaligus seru, di mana anak-anak muda rela "war tiket" demi orang tua mereka. Bagi mereka, NBJ bukan lagi sekadar tempat latihan vokal; ini adalah tempat di mana semua orang, terlepas dari usia dan profesinya, memiliki hak yang sama untuk mengeluarkan suara-suara uniknya.
Koneksi di Balik Nada
Layaknya pembagian suara spontan di Sarinah yang tanpa pendaftaran, kegiatan NBJ biasanya juga hampir mirip seperti itu. Namun, perbedaannya adalah setiap kegiatan mereka berlangsung dalam tiga jam dan terbagi dalam tiga sesi. Ini juga yang membuat NBJ lebih dari sekadar sesi karaoke massal.
Berita Terkait
-
Main Karet di GBK Bareng Komunitas Bermain: Nostalgia Seru yang Kadang Terbentur Ribetnya Izin
-
Klub Main Bareng: Tempat Nongkrong Anti-Kaku bagi Para Pencinta Kreativitas di Bangka
-
Komunitas Bermain: Ruang Sederhana di Tengah Kota yang Mengembalikan Masa Kecil Saya
-
Di Tengah Ramainya Malioboro, Komunitas Andong Ini Terhubung Lewat Selapan
-
Promo hingga Fun Run Ramaikan Helloversary ke-4 Hello Store
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Kasus PETI Kuansing, Polisi Sita Ratusan Gram Perhiasan di Toko Emas Kampar
-
Transisi Energi Berwajah Hijau Jadi Modus Baru Perampasan Ruang Hidup
-
Korupsi Tak Cukup Dibalas Tangkap: Kejar Uang, Jaringan, dan Penikmatnya
-
Senpi Dinas Diduga Dipakai Mantan Istri Bunuh Diri, Bripka Iman Harefa Resmi Masuk Patsus
-
Dua Biodigester Bakal Dibangun di Jakarta Utara, Dapat Hasilkan Energi dan Pupuk Organik
-
PTBA Perkuat Kemandirian Ekonomi Warga Lahat lewat Budidaya Ayam Petelur
-
Tak Mau Berpolitik Tanpa Data, Megawati Sebut Riset dan Sains Vital bagi Pergerakan Partai
-
Pinka Harprani Dilantik Megawati Pimpin Sayap Partai TMP, Bawa Misi Gaet Suara Anak Muda
-
Rawat Alam di Tengah Aktivitas Industri, Kilang Plaju Konsisten Lestarikan Keanekaragaman Hayati
-
6 Tanda-Tanda Rumah Memiliki Energi Positif Chi yang Membuat Penghuni Tenang