Lifestyle / Male
Senin, 18 Mei 2026 | 10:34 WIB
Presiden Prabowo Subianto [ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/app/tom]
Baca 10 detik
  • Presiden Prabowo Subianto menyatakan masyarakat desa tidak memakai dolar.
  • Pernyataan tersebut memicu perdebatan luas antara masyarakat.
  • Artikel ini juga mengulas latar belakang pendidikan Prabowo.

Masa sekolah di luar negeri membuat Prabowo fasih berbahasa Inggris, serta memahami budaya internasional. Ia juga mahir berbahasa Prancis, Jerman, dan memiliki pemahaman dasar bahasa Arab.

Pengalaman kosmopolitan ini sering terlihat dalam gaya kepemimpinannya yang menggabungkan perspektif global dengan semangat nasionalisme Indonesia.

Pendidikan Prabowo yang beragam — dari sekolah internasional hingga akademi militer bergengsi — membentuknya menjadi sosok yang disiplin, strategis, dan berwawasan luas.

Meski tidak menempuh pendidikan sipil tingkat sarjana seperti banyak politisi lain, latar belakang militernya dianggap setara dan memberikan keunggulan dalam kepemimpinan dan manajemen krisis.

Hingga kini, sebagai Presiden, pengalaman pendidikan dan militer Prabowo Subianto terus memengaruhi kebijakannya, terutama di bidang pertahanan, ketahanan pangan, dan pembangunan sumber daya manusia.

Ucapan Orang Desa Tak Pakai Dolar

Bagi sebagian pihak, ucapan Prabowo merupakan bentuk komunikasi yang membumi dan menenangkan. Ia ingin menyampaikan pesan bahwa mayoritas rakyat Indonesia, khususnya di pedesaan, tidak terlibat langsung dalam transaksi dolar.

Kehidupan mereka lebih bergantung pada ekonomi lokal: bertani, berdagang kecil, memenuhi kebutuhan pokok dengan rupiah. Pangan dan energi dinilainya masih aman, sehingga tidak perlu panik berlebihan.

Namun, pernyataan tersebut juga menuai kritik tajam. Para ekonom dan pengamat menilai pandangan itu terlalu simplistis. Meski warga desa tidak membeli barang dengan dolar secara langsung, pelemahan rupiah berdampak tidak langsung melalui rantai pasok impor.

Baca Juga: Dolar AS Menggila, Rupiah Tersungkur ke Level Rp17.658

Pupuk, pestisida, bahan bakar minyak (BBM), pakan ternak, obat-obatan, hingga kedelai untuk tempe—komoditas penting masyarakat desa—sangat bergantung pada impor.

Sekitar 90 persen kedelai Indonesia masih didatangkan dari luar negeri. Saat dolar menguat, biaya produksi naik, harga eceran pun ikut melonjak, dan inflasi “mencopet” dompet rakyat kecil.

Load More