- Presiden Prabowo Subianto menyatakan masyarakat desa tidak memakai dolar.
- Pernyataan tersebut memicu perdebatan luas antara masyarakat.
- Artikel ini juga mengulas latar belakang pendidikan Prabowo.
Masa sekolah di luar negeri membuat Prabowo fasih berbahasa Inggris, serta memahami budaya internasional. Ia juga mahir berbahasa Prancis, Jerman, dan memiliki pemahaman dasar bahasa Arab.
Pengalaman kosmopolitan ini sering terlihat dalam gaya kepemimpinannya yang menggabungkan perspektif global dengan semangat nasionalisme Indonesia.
Pendidikan Prabowo yang beragam — dari sekolah internasional hingga akademi militer bergengsi — membentuknya menjadi sosok yang disiplin, strategis, dan berwawasan luas.
Meski tidak menempuh pendidikan sipil tingkat sarjana seperti banyak politisi lain, latar belakang militernya dianggap setara dan memberikan keunggulan dalam kepemimpinan dan manajemen krisis.
Hingga kini, sebagai Presiden, pengalaman pendidikan dan militer Prabowo Subianto terus memengaruhi kebijakannya, terutama di bidang pertahanan, ketahanan pangan, dan pembangunan sumber daya manusia.
Ucapan Orang Desa Tak Pakai Dolar
Bagi sebagian pihak, ucapan Prabowo merupakan bentuk komunikasi yang membumi dan menenangkan. Ia ingin menyampaikan pesan bahwa mayoritas rakyat Indonesia, khususnya di pedesaan, tidak terlibat langsung dalam transaksi dolar.
Kehidupan mereka lebih bergantung pada ekonomi lokal: bertani, berdagang kecil, memenuhi kebutuhan pokok dengan rupiah. Pangan dan energi dinilainya masih aman, sehingga tidak perlu panik berlebihan.
Namun, pernyataan tersebut juga menuai kritik tajam. Para ekonom dan pengamat menilai pandangan itu terlalu simplistis. Meski warga desa tidak membeli barang dengan dolar secara langsung, pelemahan rupiah berdampak tidak langsung melalui rantai pasok impor.
Baca Juga: Dolar AS Menggila, Rupiah Tersungkur ke Level Rp17.658
Pupuk, pestisida, bahan bakar minyak (BBM), pakan ternak, obat-obatan, hingga kedelai untuk tempe—komoditas penting masyarakat desa—sangat bergantung pada impor.
Sekitar 90 persen kedelai Indonesia masih didatangkan dari luar negeri. Saat dolar menguat, biaya produksi naik, harga eceran pun ikut melonjak, dan inflasi “mencopet” dompet rakyat kecil.
Berita Terkait
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Empuk untuk Jogging hingga Long Run Sesuai Review Pembeli
- Pemain Timnas Terlibat? 3 Kejanggalan Dugaan Pengaturan Skor Piala AFF 2026
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- 4 Shio yang Diprediksi Nasibnya Makin Baik pada 15 Agustus 2026, Siapa Saja?
Pilihan
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
-
Info Terbaru Gempa NTT: 15 Warga Manggarai Tewas, 280 Bangunan Jadi Puing
-
5 Bandara Rusak Diguncang Gempa NTT, Landasan Pacu Sampai Retak
-
Pesona Masjid Pancasila Kediri: Sederhana di Luar, Bikin Pangling di Dalam
Terkini
-
Liburan Agustus Lebih Hemat! Ada Diskon di Wisata Nako Pasir Angin Bareng BRI
-
Satgas Galapana DPR RI ke Ruteng, Kumpulkan Menteri hingga Bos BUMN untuk Tangani Korban Gempa
-
Bangunan Dapur MBG di Muara Enim Jadi Sasaran Maling, Motor dan Ponsel Raib
-
Pasar Murah HUT RI Digelar di 5 Kecamatan Palembang, Ada Diskon Belanja Rp10 Ribu
-
Kado Anniversary Sempat Bikin Mahalini Kesal, Rizky Febian Bongkar Rencana Rahasianya
-
Apakah Serum Vitamin C Boleh Dipakai Malam Hari? Ini Waktu Terbaik Agar Glowing Maksimal
-
Review Skintific 2% Salicylic Acid, Serum Ampuh Bikin Jerawat Meradang Langsung Kempes
-
73 Hotspot Terpantau di Kalsel, Kemenhut Dorong Verifikasi Dini Karhutla
-
Apresiasi Pidato Prabowo, Jubir PSI: Pertumbuhan Ekonomi Tingkatkan Kesejahteraan Rakyat
-
Pengamat Kejaksaan: Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Anggota Tim 9