Lifestyle / Komunitas
Jum'at, 22 Mei 2026 | 10:40 WIB
Festival Literasi Nasional (FLN) 2026. (Dok: Nyalanesia)

Salah satu agenda utama dalam forum ini adalah talkshow “Cerita Baik Pendidikan Daerah” yang dipandu oleh Khabib Bima, Managing Director Nyalanesia. Sesi ini menghadirkan praktik baik penguatan literasi dari berbagai daerah, sekaligus menunjukkan bahwa gerakan pendidikan dapat tumbuh melalui pendekatan yang beragam.

Mulyono, S.STP., M.Si., Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kutai Timur, membagikan cerita baik tentang pendidikan di daerah serta menyampaikan tiga komponen penting dalam pendidikan. Ia juga memaparkan gagasan mengenai pengembangan literasi digital sebagai ruang bagi anak-anak untuk mengekspresikan bakat dan potensinya, sekaligus menyampaikan harapan positif bagi perkembangan pendidikan di masa mendatang.
Kabupaten Kutai Timur menjadi salah satu daerah yang menunjukkan capaian kuat dalam pengembangan literasi daerah.

Pada tahun pertamanya, Festival Literasi Kutai Timur #1 berhasil mendorong lebih dari 13.000 siswa dan guru dari 332 sekolah untuk berkarya. Capaian ini menjadi contoh bagaimana pemerintah daerah dapat memfasilitasi gerakan literasi secara luas melalui dukungan dan kolaborasi yang terarah.

Sementara itu, I Komang Parihartha, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Bangli, menceritakan awal mula perjalanan gerakan literasi di Bangli serta dampak baik yang lahir dari kolaborasi bersama Nyalanesia. Ia juga menyampaikan harapan agar gerakan literasi dan kolaborasi yang telah terbangun dapat terus berkembang dan memberi manfaat yang lebih luas ke depannya.

Melalui penyelenggaraan Festival Literasi Bangli, sebanyak 3.915 siswa dan 372 guru dari 78 sekolah berhasil berkarya. Gerakan ini menjadi contoh bagaimana kolaborasi antara dinas pendidikan, penggerak literasi daerah, sekolah, dan Nyalanesia dapat membuka ruang partisipasi yang lebih luas bagi siswa dan guru.

Melalui forum ini, para narasumber berbagi pengalaman tentang bagaimana daerah memulai gerakan literasi, tantangan yang dihadapi, strategi kolaborasi yang dijalankan, serta perubahan yang mulai dirasakan oleh sekolah, guru, siswa, dan masyarakat.

Literacy Collaboration Forum FLN 2026 menjadi bukti bahwa penguatan literasi tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Literasi membutuhkan ekosistem yang melibatkan pemerintah, sekolah, guru, komunitas, perguruan tinggi, dunia usaha, tokoh publik, dan masyarakat luas.

Nyalanesia berharap kerja sama yang terbangun dalam forum ini dapat menjadi langkah awal untuk memperluas akses siswa dan guru dalam berkarya, memperkuat budaya literasi di sekolah, serta menghadirkan lebih banyak program pendidikan yang berdampak di berbagai daerah Indonesia. ***

Baca Juga: Nyalanesia Tawarkan Solusi untuk Atasi Krisis Upah Guru Honorer

Load More