Suara.com - Krisis pangan lokal tidak selalu berawal dari hilangnya minat masyarakat terhadap makanan tradisional. Dalam banyak kasus, persoalannya justru terletak pada perubahan bentang alam yang membuat bahan baku pangan semakin sulit diakses.
Temuan tersebut disampaikan gastronom sekaligus peneliti pangan lokal, Mei Batubara, setelah melakukan riset selama lebih dari dua setengah tahun di berbagai daerah di Indonesia.
Salah satu kisah yang paling membekas baginya berasal dari Sumatra Barat, tempat ia menemukan jejak kuliner tradisional yang kini berada di ambang kepunahan: rendang 120 daun.
Berbeda dengan rendang pada umumnya, angka 120 dalam hidangan ini tidak merujuk pada jumlah lembar daun yang digunakan, melainkan jumlah varietas daun yang menjadi bahan penyusunnya.
“Daunnya 120 macam, bukan 120 lembar. Jadi, ada 120 jenis daun yang berbeda. Hebatnya, masih ada tinggal dua atau tiga ibu-ibu yang masih tahu resepnya,” ujar Mei dalam Raksa Loka Fest 2026, Sabtu (23/5).
Menurut Mei, para perempuan yang masih menjaga resep tersebut tidak hanya mengingat nama setiap daun, tetapi juga memahami manfaat kesehatannya.
“Nah, si ibu ini hafal semua daunnya. Dia pakai nama daerah ya. Daun ini untuk hipertensi, daun ini untuk melancarkan haid, daun ini untuk macam-macam. Jadi, setiap daun dia hafal namanya, dia hafal manfaat kesehatannya,” katanya.
Pengetahuan tersebut diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari hubungan erat masyarakat dengan lingkungan di sekitarnya. Namun, saat tim peneliti mencoba mendokumentasikan resep tersebut, mereka menemukan kenyataan yang berbeda.
Untuk mengumpulkan bahan baku rendang 120 daun, warga harus menyusuri berbagai sudut desa selama dua hari. Dari 120 jenis daun yang dibutuhkan, mereka hanya berhasil menemukan sekitar 55 jenis.
Baca Juga: Resep Kaya ala Orang Cina: Ketika Strategi yang Tepat Terlihat Seperti Hoki
“Itu butuh dua hari untuk keliling desa, untuk mengumpulkan daun hanya dapat 55. Jadi waktu kita datang ibunya cerita, ‘kita cuma dapat 55. Ini udah dari kemarin kita keliling desa’,” tutur Mei.
Ia menjelaskan bahwa persoalan utamanya bukan karena tanaman-tanaman tersebut telah punah. Sebagian besar masih tumbuh di kawasan hutan, tetapi akses masyarakat terhadap hutan semakin terbatas akibat perubahan tata ruang dan ekspansi permukiman.
“Kok bisa? Daunnya hilang, Bu?” tanya Mei kepada salah satu warga yang masih menyimpan resep tersebut.
“Nggak, masih ada. Cuma hutannya sekarang jauh sekali. Jadi kita nggak sanggup. Karena pemukimannya jadi besar sekali. Jadi pemukiman sama hutan jadi jauh. Padahal dulu itu dekat,” jawab warga tersebut, sebagaimana diceritakan kembali oleh Mei.
Kisah rendang 120 daun menunjukkan bahwa hilangnya pangan lokal sering kali berkaitan dengan perubahan lingkungan yang memutus hubungan masyarakat dengan sumber daya alam di sekitarnya. Ketika akses terhadap hutan berkurang, bukan hanya bahan pangan yang menghilang, tetapi juga pengetahuan tradisional yang selama ini menyertainya.
Bagi Mei, kehilangan tersebut tidak hanya berdampak pada keragaman kuliner Nusantara, tetapi juga pada pengetahuan kesehatan yang tersimpan dalam tradisi pangan lokal. Setiap daun yang digunakan dalam rendang tersebut memiliki fungsi dan khasiat yang dipahami oleh generasi sebelumnya.
Karena itu, upaya menjaga pangan lokal tidak cukup hanya dengan mendokumentasikan resep. Perlindungan bentang alam dan akses masyarakat terhadap sumber daya di sekitarnya menjadi bagian penting agar pengetahuan tradisional yang telah diwariskan selama puluhan bahkan ratusan tahun tidak ikut hilang bersama perubahan lanskap.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- 3 Klub Pemain Timnas Indonesia Berhasil Raih Tiket Promosi Musim Ini
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- HP Vivo yang Bagus Seri Apa? Ini Rekomendasi Seri X, V, dan Y Sesuai Kebutuhan
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
Terkini
-
35 Ucapan Idul Adha 2026 dalam Bahasa Inggris dan Maknanya yang Mendalam
-
Tren Ngemil On The Go Meningkat, Camilan Kulit Ayam Kembali Naik Daun
-
Niat Salat Idul Adha 2026 Sebagai Imam dan Makmum, Lengkap Tata Caranya
-
Profil dan Kekayaan Wamentan Sudaryono, Pria yang Sebut Jutaan Petani 'Happy' Rupiah Melemah
-
Sholat Idul Adha Jam Berapa? Catat Jadwal Lengkap di Alun-Alun Kidul Jogja 2026
-
7 Kali Takbir Idul Adha Baca Apa? Ini Bacaan Takbirnya
-
Info Jadwal Sholat Idul Adha di Masjid Istiqlal, Lengkap dengan Aturannya dan Alur Masuknya
-
Gelas Reusable Tak Selalu Lebih Ramah Lingkungan, Ini Temuan Peneliti
-
Promo Superindo Sambut Iduladha, Diskon Besar Perlengkapan Bakar-bakaran
-
45 Ucapan Selamat Idul Adha 2026 yang Islami Menyentuh Hati, Cocok Untuk Keluarga dan Grup WA