Suara.com - Indonesia selama ini dikenal sebagai salah satu produsen rumput laut terbesar di dunia. Namun, di balik besarnya produksi nasional, sebagian besar komoditas tersebut masih diekspor dalam bentuk bahan mentah sehingga nilai ekonomi yang dinikmati di dalam negeri dinilai belum optimal.
Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menunjukkan produksi rumput laut Indonesia pada 2023 mencapai sekitar 9,83 juta ton atau hampir seperempat dari total produksi rumput laut global.
Besarnya produksi tersebut menempatkan Indonesia sebagai pemain penting dalam rantai pasok dunia. Meski demikian, pemanfaatan rumput laut di dalam negeri masih didominasi untuk kebutuhan ekspor bahan baku.
Padahal, rumput laut dinilai memiliki potensi untuk diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah, mulai dari pangan, kosmetik, hingga bahan baku bioplastik yang lebih ramah lingkungan.
Potensi tersebut menjadi salah satu sorotan dalam diskusi “Connect! #12: Advancing Sustainable Blue Economy Innovation for Resilient and Inclusive Growth” yang diselenggarakan KONEKSI.
Dalam forum tersebut, peneliti dari Indonesia dan Australia memaparkan hasil riset yang menunjukkan hilirisasi rumput laut dapat menjadi strategi untuk memperkuat daya saing industri sekaligus meningkatkan manfaat ekonomi bagi masyarakat pesisir.
Penelitian kolaboratif yang melibatkan Universitas Mataram, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta South Australian Research and Development Institute menyoroti pentingnya pengembangan industri hilir agar Indonesia tidak terus bergantung pada ekspor bahan mentah.
Hasil penelitian menunjukkan lebih dari 86 persen ekspor rumput laut Indonesia selama ini masih bergantung pada satu negara tujuan. Ketergantungan tersebut membuat posisi tawar Indonesia terhadap harga menjadi lebih lemah dan berdampak langsung pada pendapatan petani.
Menurut para peneliti, diversifikasi produk menjadi salah satu langkah yang dapat membuka pasar baru sekaligus meningkatkan nilai ekonomi rumput laut.
Baca Juga: Peritel Fashion Mulai Kenakan Biaya Retur, Bisakah Benar-Benar Kurangi Limbah?
Pengembangan industri hilir juga dinilai dapat memperluas pemanfaatan rumput laut ke sektor-sektor bernilai tinggi yang selama ini belum dimaksimalkan.
Direktur Pendidikan Tinggi, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi Kementerian PPN/Bappenas, Endang Sulastri, mengatakan penguatan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi menjadi bagian penting dalam agenda transformasi ekonomi nasional menuju Indonesia Emas 2045.
Menurut Endang, ekonomi biru menjadi salah satu sektor strategis yang diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan ketahanan menghadapi tantangan global.
“Dalam visi Indonesia Emas 2045, ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi ditempatkan sebagai fondasi utama transformasi ekonomi jangka panjang. Dalam konteks tersebut, ekonomi biru menjadi salah satu sektor strategis yang diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi, memperkuat investasi, serta meningkatkan ketahanan terhadap berbagai tantangan global. Pengembangan rumput laut di Indonesia merupakan salah satu agenda yang sangat penting,” ujarnya.
Penguatan riset dan hilirisasi dinilai menjadi langkah untuk menggeser posisi Indonesia dari sekadar pemasok bahan baku menjadi produsen produk bernilai tambah.
Jika berhasil dikembangkan secara berkelanjutan, industri rumput laut tidak hanya berpotensi memperluas pasar ekspor, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi wilayah pesisir dan memperkuat agenda ekonomi biru nasional.
Penulis: Natasha Suhendra
Berita Terkait
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
- Daftar Harga Motor Listrik dengan Subsidi Pemerintah, Ada yang Cuma Rp5 Jutaan!
- Siapa Ipda Ambarita? Ini Profil Polisi yang Viral Saat Pengamanan Bentrok Matraman
Pilihan
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
Terkini
-
Kemendagri Bekali Pranata Humas di Era AI, Strategi Komunikasi Pemerintahan Lawan Disinformasi
-
Novel Spammer, Berawal dari Teror Digital Berubah Menjadi Teror Fisik Nyata
-
Prabowo Singgung Peluang Destry Jadi Gubernur BI: Terserah DPR Nanti
-
Komisi II DPR Usul Skema Gaji Baru untuk Kepala Daerah, Ada Reward dan Punishment
-
Jangan Asal Foto! Pemkot Jogja Bongkar Masalah di Balik Plang Malioboro Portable
-
Daftar Lengkap 90 Kajari Baru Pilihan Jaksa Agung, Cek Siapa Nahkoda Baru di Daerahmu
-
Masif OTT Bupati di Berbagai Daerah, KPK Tegaskan Tak Punya Target Khusus
-
Senjakala Traffic: Selamat Datang Era GEO dan Ambisi Invisible Media 5.0
-
Merasa Tak Bersalah tapi Divonis 2 Tahun Penjara, Abdul Wahid: Penuh Rekayasa
-
Jokowi Kunjungi NTT Besok, PSI Singgung Soal Legacy Indonesia Sentris