- Kepala BPOM Prof. Taruna Ikrar menyatakan Indonesia masih mengimpor seratus persen kebutuhan botulinum toxin hingga saat ini.
- Tapi kini, sudah bersiap memproduksi botulinum toxin sendiri, sebagai bahan perawatan kecantikan.
- Produksi lokal diharapkan mampu menekan harga obat serta menjadikan Indonesia sebagai pusat pasar global botulinum toxin.
Suara.com - Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof. Taruna Ikrar, mengatakan Indonesia masih 100 persen mengimpor botulinum toxin, yang menjadi bahan andalan perawatan kecantikan hingga pengobatan regeneratif.
Kondisi ini sangat disayangkan Prof. Taruna. Padahal, botulinum toxin memiliki berbagai turunan produk medis yang dibutuhkan masyarakat Indonesia hingga dunia.
“Begini, selama ini kan masih 100 persen kita impor. Nah karena 100 persen kita impor, sementara penduduk kita yang membutuhkan ada ratusan juta penduduk, tentu lebih bagus kalau kita produksi sendiri,” ujar Prof. Taruna saat memberikan sertifikat Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) pada fasilitas produksi PT Selatox Bio Pharma di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Senin (20/7/2026).
Botulinum toxin adalah obat yang terbuat dari bakteri Clostridium botulinum. Zat ini memang lebih dikenal dalam industri kecantikan, tetapi juga kerap digunakan untuk mengatasi kondisi medis tertentu, seperti gangguan saraf.
Ini karena botulinum toxin bekerja dengan cara melemaskan otot melalui pemblokiran aktivitas saraf dan otot. Inilah yang membuat keriput atau kerutan di kulit sekitar lokasi penyuntikan tampak berkurang atau bahkan hilang.
Prof. Taruna menambahkan, dengan adanya fasilitas produksi di Indonesia, diharapkan harga obat ini menjadi lebih terjangkau.
Bahkan, ia berharap dengan keberadaan Selatox yang mengembangkan berbagai produk berbasis botulinum toxin tipe A, Indonesia mampu menjadi pusat strategis bagi perusahaan dan konsumen produk turunan botulinum toxin di dunia.
“Paling penting tentu kita juga ingin menjadi hub global market. Nah karena memang kebutuhannya untuk botulinum toxin yang berbagai macam turunannya sangat dibutuhkan,” ungkapnya.
Apalagi, menurut Prof. Taruna, saat ini perawatan kecantikan dan kosmetik sudah bukan lagi kebutuhan tersier atau kemewahan, melainkan menjadi kebutuhan primer masyarakat.
Baca Juga: 5 Cara Memilih Lipstik yang Cocok untuk Acara Formal dan Casual
Hal ini sejalan dengan tren pengobatan regeneratif atau pengobatan yang berfokus pada regenerasi sel, jaringan, atau organ manusia agar kembali berfungsi normal yang terus berkembang di dunia.
“Harus kita tahu, kosmetik dan regenerative medicine itu sekarang sudah menjadi kebutuhan primer rakyat kita dan rakyat dunia. Bukan hanya perempuan, laki-laki juga, jadi dengan demikian pangsa pasarnya besar sekali,” jelas Prof. Taruna.
Adapun fasilitas manufaktur botulinum toxin ini dilengkapi dengan sistem produksi berteknologi maju dengan minim sentuhan manusia, area produksi steril, serta sistem manajemen mutu yang mencakup seluruh proses manufaktur secara menyeluruh.
Perolehan sertifikasi CPOB berarti produk botulinum toxin yang dihasilkan memiliki kualitas yang konsisten, mulai dari penerimaan bahan baku, proses produksi, pengujian, hingga distribusi.
“Melalui proses produksi yang presisi dan standar pengendalian mutu yang ketat, kami berkomitmen menghadirkan produk berkualitas tinggi yang dapat dipercaya oleh tenaga kesehatan dan para mitra kami,” ungkap Chief Executive Officer Selatox, Joh Young Hoon.
Berita Terkait
-
Tren Estetika Bergeser ke Non-Invasif, Teknologi Pengencangan Kulit Korea Mulai Populer di Indonesia
-
XERF Jadi Treatment Pilihan Priyanka Chopra Jonas, Kulit Kencang Natural Tanpa Operasi
-
Botox Bisa Dilakukan Mulai Umur Berapa? Simak Panduan Usia Ideal dan Manfaatnya
-
Dari Korea ke Indonesia: Teknik Presisi Estetika Non-Bedah Kini Hadir dengan Standar Global
-
3 Rekomendasi Moisturizer dengan Efek Botox Mulai Rp30 Ribuan, Wajah Kencang di Usia 50-an
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Nanik Mundur dari Kepala BGN, Ini Alasannya
-
Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN, Prabowo Minta Tetap Awasi MBG
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
Terkini
-
Standar Kinerja Harusnya Berlaku untuk Semua Penyelenggara Negara
-
Sisa Setengah Musim, Ini 5 Transfer Pembalap Paling Heboh di MotoGP
-
Catat Tanggalnya! Film Hotel Transylvania Konfirmasi Rilis Oktober 2027
-
Selama Ini 100 Persen Impor, Kini Indonesia Bersiap Produksi Botulinum Toxin Sendiri
-
John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
-
Rupiah Terkapar ke Rp17.934, Nyaris Tembus Rp18.000 Akibat Perang AS-Iran Jelang Putusan BI
-
Apa Itu Sepatu Lari Carbon Plate? Ini Ciri-ciri, Kelebihan, dan Rekomendasi Merek Lokal hingga Luar
-
Persita Tangerang Rekrut Luquinhas, Eks Amazonas dengan Pengalaman Eropa
-
Siap-siap Panen Cuan! Dividen BBRI Diproyeksi Tembus 13 Persen, Minat Borong?
-
Sifat dan Karakter Shio Kambing dari Positif hingga Negatif