Suara.com - Di balik suasana tenang dan rileks, aktivitas di spa ternyata menyimpan jejak karbon yang cukup banyak. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa satu kali kunjungan ke spa dapat memproduksi emisi hingga kurang lebih lima kilogoram CO2e, bergantung pada ukuran dan fasilitas yang digunakan.
Berdasarkan studi yang terbit di Communications Sustainability, para peneliti dari University of Surrey dan Therme Group memperkenalkan inovasi baru, yakni Dynamic Emissions Calculator for Spa and Wellness Centres (SPA-DEC). Teknologi yang dirancang khsusus untuk menghitung jejak karbon fasilitas spa dan pusat kebugaran.
Dalam mengembangkan inovasinya, para peneliti ini mengkombinasikan data penggunaan energi dan air yang diukur secara langsung dengan estimasi emisi dari limbah serta perjalanan staf, sehingga total emisi gas rumah kaca dapat dihitung untuk setiap kunjungan berdasarkan Scopes 1, 2, 3 dari Greenhouse Gas Protocol.
Untuk menguji tingkat keakuratannya, kalkulator tersebut diuji dengan menggunakan data dar dua lokasi yang berbeda, Therme Bucharest dan Taman Olahraga di University of Surrey.
Hasil dari pengujian di dua lokasi berbeda itu memperlihatkan bahwa rata-rata satu kali kunjungan di fasilitas spa berskala besar dapat menghasilkan sekitar lima kilogram setara dengan karbon dioksida (CO2e). Sementara itu, pada fasilitas dengan skala kecil mampu menghasilkan sekitar 3,5 kilogram karbon dioksida untuk satu kali kunjungan.
Tak hanya itu, para peneliti turut menyoroti terhadap penggunaan energi terbarukan yang dapat memangkas emisi karbon masing-masing sekitar 33 persen pada fasilitas berskala besar dan 14 persen pada fasilitias kecil selama tahun 2024.
Penelitian ini dengan khusus merancang SPA-DEC untuk digunakan pada fasilitas data terukur dan operasional yang sudah ada. Para peneliti mengatakan bahwa sistem ini dapat diterapkan langsung oleh operator dengan ukuran apapun tanpa perlu pengembangan lebih lanjut.
Pendiri sekaligus Chief Executive Officer Therme Group, Dr. Robert Hanea, mengatakan bahwa SPA-DEC merupakan kalkulator jejak karbon pertama di dnia yang dikembangkan khusus untuk industri spa dan pusat kebugaran.
“SPA-DEC kami adalah yang pertama di dunia. Industri kami sekarang memiliki kalkulator jejak karbon sendiri yang telah ditinjau sejawt, bekerja secara real-time, dinamis, dan menggunakan pendekatan bottom-up. Alat ini memungkinkan spa, pusat kebugaran, hingga taman hiburan, baik skala kecil maupun besar, dapat mengelola karbon sebagai aset dan menyusun startegi berkelanjutan dengan mengintegrasikan perhitungan karbon ke dalam operasional sehari-hari,” ujar Hanea.
Baca Juga: Mengebut Saat Berkendara Bukannya Efisien Malah Bikin Boncos?
Lebih lanjut, Profesor Teknik Lingkungan, Energi, dan Kimia, Jhuma Sadhukhan, menjelaskan bahwa penilaian siklus hidup merupakan metode penting dalam merancang sistem teknik dan mendukung pengambilan keputusan. Namun, menurutnya, dengan menghitung jejak karbon dari setiap kunjungan ke spa membutuhkan pendekatan yang berbeda dari metode penilaian siklus hidup pada biasanya.
“Menemukan cara untuk membagi emisi seluruh bangunan secara adil kepada setiap pengunjung secara real-time menjadi hal yang membuat penelitian ini penting dan relevan untuk diaplikasikan di dunia nyata,” paparnya.
Ke depannya, para peneliti berencana untuk mengembangkan kalkulator emisi ini untuk berbagai subsektor pariwisata, termasuk akomodasi, makanan, dan minuman, sekaligus meeting, insentive, conference, and exhibiton (MICE). Dengan pengembangan rangkaian alat tersebut diharapkan mampu memberikan standar penghitungan jejak karbon berbasis sains yang diaplikasikan secara meluas di seluruh sektor pariwisata.
Melalui pendekatan ini, para pelaku usaha diharapkan bisa memantau emisi yang diproduksi dari berbagai aktivitas operasional secara lebih akurat. Di samping itu, dapat menjadikan data tersebut sebagai panduan dalam Menyusun kebijakan dan strategi menuju industri pariwisata yang lebih rendah emisi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Daftar Harga Motor Listrik dengan Subsidi Pemerintah, Ada yang Cuma Rp5 Jutaan!
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
- 5 Sepatu Lari Terbaik Harga Rp200 Ribuan, Nyaman Dipakai untuk Daily hingga Trail Run
- Sempat Nganggur Gegara Timnas Indonesia, Roberto Mancini Resmi Latih Italia
- Survei SMRC: Elektabilitas Gerindra Anjlok Tajam, Peluang Jadi Partai Nomor 1 Terancam
Pilihan
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
Terkini
-
Seteru dengan Pramoedya hingga Si Oyen: Sisi Lain Buya Hamka dalam Ayah
-
Starting XI Timnas Indonesia vs Timor Leste: Mitchell Baker Cetak Berapa Gol?
-
Cushion Glowsophy Oksidasi atau Tidak? Ini Klaim Lengkap 2 Variannya
-
Odoo Indonesia Ekspansi Kantor Baru, Perkuat Ekosistem Digital Hub di BSD City
-
Di Balik Pengalaman Relaksasi, Spa Menyimpan Jejak Karbon yang Tak Terlihat
-
Mengapa Film Hollywood Kerap Keliru Menggambarkan Letusan Gunung Berapi?
-
BPJS Ketenagakerjaan Buka Suara soal Video Calon Pegawai Jalan di Atas Bara Api
-
Dokter yang Tangani Sutrimo Bakal Diperiksa! Polisi Dalami Dugaan Tewas Mulut Berbusa
-
Presiden Korsel Minta Prabowo ke Korut untuk Buka Dialog
-
Komplotan Curanmor di Jakarta Pakai Modus Polisi Gadungan untuk Intimidasi Korban